Menuju konten utama

Pelawak Bambang Rabiyes Meninggal, Simak Profil & Kiprahnya

Pelawak Bambang Rabiyes meninggal dunia pada Rabu, 24 Desember 2025. Simak profil dan jejak kariernya berikut ini.

Pelawak Bambang Rabiyes Meninggal, Simak Profil & Kiprahnya
Dagelan Kondang Yogyakarta Bapak Bambang Joko Purnomo/Bambang Rabiyes. FOTO/Istimewa

tirto.id - Pelawak sekaligus seniman asal Yogyakarta, Bambang Rabiyes atau Bambang Rabies, meninggal pada Rabu, 24 Desember 2025 di usia 55 tahun. Simak profil dan kiprahnya dalam dunia komedi dan kesenian lainnya.

Bambang Rabiyes, seorang pelawak kondang, dikabarkan meninggal dunia pada Rabu Kliwon, 24 Desember 2025 pukul 01.00 WIB. Bambang mengembuskan napas terakhirnya di RS Panti Nugroho Pakem, Sleman.

Menurut informasi dalam lembaran lelayu atau obituarinya, Bambang akan dimakamkan pada hari ini (24/12/2025) pukul 13.00 WIB di Sasanalaya Pajangan, Pandowoharjo, Sleman.

Sebuah unggahan di akun Instagram @infocegatanklaten memuat kabar duka itu pada pukul 10.00 WIB. Dengan kepergiannya ini, Bambang meninggalkan tiga orang putra, satu menantu, dan dua orang kakak.

Lalu, bagaimana sosok Bambang Rabiyes yang meninggal pada 24 Desember 2025 ini? Simak profil beserta jejak kariernya berikut ini.

Profil Bambang Rabiyes & Jejak Kariernya

Bambang Rabies merupakan nama panggung Bambang Joko Purnomo atau yang juga dikenal sebagai Bambang Suprastowo. Dia lahir di Yogyakarta, 3 Juli 1970 silam.

Namanya dikenal di kalangan masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pasalnya, Bambang sudah ratusan kali mengisi panggung-panggung hiburan dan kesenian.

Bukan tanpa sebab, ternyata Bambang telah manggung sejak kelas 3 SD, seperti saudara-saudaranya yang lain. Dia manggung dalam ketoprak dan kesenian-kesenian tradisional lainnya.

Mulanya, Bambang bercita-cita ingin menjadi seorang dalang. Namun, dia menyadari bahwa vokalnya tidak memadai untuk mewujudkan cita-citanya ini.

Akhirnya, sang ayah yang juga seorang dalang kondang, Sugito, menyarankannya untuk menjadi seorang pelawak. Saran ini pun dilakoninya dengan serius sehingga dia menekuni dunia lawak hingga napas terakhirnya.

Kendati mengubur mimpi menjadi dalang dan memilih menjadi seorang pelawak, Bambang juga tetap dituntut untuk selalu belajar. Dirinya juga perlu untuk menambah wawasan dan peka terhadap berbagai fenomena kehidupan.

Untuk itu, dia pun belajar banyak dari kakak-kakaknya, yakni Marwoto dan Daryadi, yang merupakan seorang dalang. Dia juga belajar dari ayahnya sendiri, Gito, dan kembaran ayahnya, Gati, serta dari pemain ketoprak lainnya di kelompok PS Bayu.

Bambang Rabiyes tak lepas dari popularitas kelompok ketoprak PS Bayu itu. Ini dimulai ketika pada era 1990-an PS Bayu sangat terkenal hingga ke pelosok kampung.

Ikon PS Bayu, duo kembar Gito-Gati, menjadi brand yang mengangkat kelompok tersebut secara pesat. Karakter Gito-Gati yang khas itu mampu mendongkrak pemain lainnya dalam kelompok tersebut, tak terkecuali Bambang Rabiyes.

Penampilan Bambang di situ selalu segar dengan ciri khas gaya cengengesan dan gerak akting yang spontan tanpa dibuat-buat. Tak hanya lontaran kata-kata lucu, daya tarik Bambang terletak di segi mimik wajah, gerak, serta polah tingkah yang luwes.

Bukan tanpa alasan, ternyata Bambang sendiri juga merupakan seorang penari yang andal. Dengan itulah Bambang tampil luwes dan memukau para penonton, selain dari kelakar yang dia lontarkan.

Bambang belajar berkesenian, belajar tampil menghibur khalayak, dari kehidupan, dari lingkungan sekitar, serta dari pergulatan sehari-harinya. Dia tidak mengenyam pendidikan formal untuk menjadi sosoknya yang terkenal sebagai pelawak dan terbilang belajar secara otodidak dari lingkungan dan keluarganya.

Dari kerja kerasnya dalam belajar dan melatih diri, Bambang bahkan pernah meraih juara dalam Lomba Lawak Tingkat Jateng-DIY. Bambang tidak hanya tampil dalam kesenian ketoprak dari kampung ke kampung.

Dirinya telah tampil di level antarprovinsi. Bahkan, dia juga pernah tampil di acara kenegaraan, termasuk di hadapan Megawati Soekarno Putri di Jakarta.

Pembaca yang ingin membaca artikel sejenis terkait profil dapat mengakses tautan berikut ini.

Link Artikel Profil

Baca juga artikel terkait PROFIL atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Wisnu Amri Hidayat