Pasung Kaki Sebagai Simbol Perlawanan

Petani Pegunungan Kendeng bersiap menuju Istana Negara berangkat dari kantor LBH Jakarta untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico
14 Maret 2017
Ini kali kedua Kartini-Kartini Kendeng bertandang ke Istana Presiden, 13 Maret 2017. Sebuah reaksi keras petani Kendeng kembali memasung kakinya. Berharap keadilan dari seorang pemimpin negara atas tanahnya yang "dirampas" atas nama investasi.

Para petani Kendeng menyadari kali ini persoalanya lebih pelik. Usai ijin beroperasinya Pabrik Semen Indonesia kembali diloloskan pejabat tinggi daerah setempat. Perjuanganya yang nyaris sudah setahun lalu, kandas.

Bagi para petani Kendeng, perjuangan menyelamatkan tanahnya dan lestarinya lingkungan Pegunungan Karst Kendeng, aksi pasung kaki jelas bukan pementasan teater. Bukan tontonan mellow, apalagi "bisnis air mata". Resiko fisik atas pemasungan kaki tak hanya sebagai simbol perlawanan, namun juga penanda perjuangan yang khusyuk.

Dalam tidur dan sederet aktifitas keseharianya, kaki yang dibalut cor semen tetap memasung kakinya. Untuk berjalan, mereka perlu dibantu rekan-rekanya.

Mereka sengaja menggelar aksi pasung kaki didepan kediaman Presiden. Agar Presiden langsung bisa paham aspirasinya. Aksi pasung kaki para pejuang para petani Kendeng akan usai, saat izin lingkungan Pabrik Semen Indonesia yang dikeluarkan oleh Gubernur Ganjar dihentikan Presiden Jokowi.

Foto Foto; Andrey Gromico






a