STOP PRESS! Ridho Rhoma Ditangkap Polisi Karena Bawa Narkoba

Pasung Kaki Sebagai Simbol Perlawanan

14 Maret, 2017

Petani Pegunungan Kendeng menginap di kantor LBH Jakarta sebelum melakukan melakukan aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di depan Istana Negara, Senin (13/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menginap di kantor LBH Jakarta sebelum melakukan melakukan aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di depan Istana Negara, Senin (13/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menginap di kantor LBH Jakarta sebelum melakukan melakukan aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di depan Istana Negara, Senin (13/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menginap di kantor LBH Jakarta sebelum melakukan melakukan aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di depan Istana Negara, Senin (13/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng bersiap menuju Istana Negara berangkat dari kantor LBH Jakarta untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menuju Istana Negara untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menuju Istana Negara untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Sejumlah petani Pegunungan Kendeng memasung kakinya dengan semen. Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng bersiap menuju Istana Negara berangkat dari kantor LBH Jakarta untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menuju Istana Negara untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menuju Istana Negara untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menuju Istana Negara untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menuju Istana Negara untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menuju Istana Negara untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Sejumlah petani Pegunungan Kendeng memasung kakinya dengan semen saat menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Petani Pegunungan Kendeng menuju Istana Negara untuk menggelar aksi menolak Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Sejumlah petani Pegunungan Kendeng memasung kakinya dengan semen saat menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Sejumlah petani Pegunungan Kendeng memasung kakinya dengan semen saat menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Sejumlah petani Pegunungan Kendeng memasung kakinya dengan semen saat menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Sejumlah petani Pegunungan Kendeng memasung kakinya dengan semen saat menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (14/3). Tirto.id/Andrey Gromico

Ini kali kedua Kartini-Kartini Kendeng bertandang ke Istana Presiden, 13 Maret 2017. Sebuah reaksi keras petani Kendeng kembali memasung kakinya. Berharap keadilan dari seorang pemimpin negara atas tanahnya yang "dirampas" atas nama investasi.

Para petani Kendeng menyadari kali ini persoalanya lebih pelik. Usai ijin beroperasinya Pabrik Semen Indonesia kembali diloloskan pejabat tinggi daerah setempat. Perjuanganya yang  nyaris sudah setahun lalu, kandas.

Bagi para petani Kendeng, perjuangan menyelamatkan tanahnya dan lestarinya lingkungan Pegunungan Karst Kendeng, aksi pasung kaki jelas bukan pementasan teater. Bukan tontonan mellow, apalagi "bisnis air mata". Resiko fisik atas pemasungan kaki tak hanya sebagai simbol perlawanan, namun juga penanda perjuangan yang khusyuk.

Dalam tidur dan sederet aktifitas keseharianya, kaki yang dibalut cor semen tetap memasung kakinya. Untuk berjalan, mereka perlu dibantu rekan-rekanya.

Mereka sengaja menggelar aksi pasung kaki didepan kediaman Presiden. Agar Presiden langsung bisa paham aspirasinya. Aksi pasung kaki para pejuang para petani Kendeng akan usai, saat izin lingkungan Pabrik Semen Indonesia yang dikeluarkan oleh Gubernur Ganjar dihentikan Presiden Jokowi.

Foto Foto; Andrey Gromico






Keyword


Pasung Kaki Sebagai Simbol Perlawanan