Menuju konten utama
Lebaran 2018

ORI Papua Duga Ada Spekulasi Harga Tiket Pesawat yang Melonjak

Harga tiket pesawat melonjak hingga tiga kali lipat.

ORI Papua Duga Ada Spekulasi Harga Tiket Pesawat yang Melonjak
Calon penumpang antre untuk masuk ke dalam terminal di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (11/6). ANTARA FOTO/Galih Pradipta.

tirto.id - Ombudsman Repulik Indonesia (ORI) Perwakilan Provinsi Papua menduga ada spekulasi harga tiket pesawat yang menyebabkan harganya melonjak tiga kali lipat.

Kepala Ombsman RI Perwakilan Papua Oliv Sabar Iwanggin mengatakan, melonjaknya harga tiket pesawat dari dan ke Papua menjelang hari raya Idul Fitri 1439 Hijriah menjadi catatan tersendiri.

"Kami menduga harga ini pasti akan bertahan hingga arus balik selesai barulah harga kembali normal. Ini terjadi spekulasi harga untuk menguntungkan perusahaan," ujarnya di Jayapura, Sabtu (16/6/2018).

Padahal hari raya ini kan kepentingan masyarakat banyak, seharusnya pihak maskapai penerbangan memberikan kemudahan bagi masyarakat bukan sebaliknya memanfaatkan momentum hari raya untuk meraup untung.

Ia mencontohkan harga tiket pesawat Garuda Indonesia dari Jayapura-Biak yang biasanya Rp600 ribu hingga Rp800 ribu per orang naik tiga kali lipat menjelang Idul Fitri menjadi Rp4 juta per orang.

Selanjutnya, harga tiket pesawat dari Jayapura ke Jakarta yang sebelumnya Rp2,5 juta naik menjadi Rp6juta. Tak hanya Garuda, maskapai penerbangan lain seperti Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya Air juga naik.

Apalagi kalau penumpang yang bersangkutan transit/mengganti pesawat lain, harganya mahal.

Di antaranya seperti Batik, dan Sriwijaya Rp9.638.000 per orang, Garuda dan Sriwijaya Rp9.948.200 per orang, Batik dan Sriwijaya Rp10.285.900.

General Manager Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia Mac Fee mengatakan ia tidak tahu menahu terkait harga tiket transit yang mahal karena manajemen setiap maskapai penerbangan berbeda.

Untuk Garuda Indonesia, kata dia, harganya terjangkau dan naik sesuai dengan time limit dan jumlah pemesan namun tidak terlalu mahal.

Jika tidak pemesannya sepi maka harganya turun, namun jika pemesannya banyak maka hargannya juga di naikkan namun tidak sampe melebihi batas kewajaran.

"Memang perusahaan mencari keuntungan tetapi ada aturan pemerintah yang harus diikuti tidak boleh lebih dari aturan yang ditetapkan," tambah dia.

Baca juga artikel terkait LEBARAN 2018

tirto.id - Sosial budaya
Sumber: antara
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra