Orang-Orang Tajir Penolong Sukarno-Hatta

Oleh: Petrik Matanasi - 11 Juli 2017
Dibaca Normal 2 menit
Berjuang di masa pergerakan nasional juga membutuhkan sokongan uang. Di masa itu, Sukarno dan Hatta sering diberi uang oleh pengusaha tajir pribumi.
tirto.id - Waktu Drs. Mohammad Hatta baru tiba di Batavia sepulang dari Negeri Belanda pada 1933, orang yang dia temui adalah Ayub Rais—yang dipanggilnya Mak Etek—di Sawah Besar. Kala itu, Hatta punya urusan rumit terkait koleksi buku-bukunya yang tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok.

“Terlebih dahulu aku pergi ke toko Djohan Djohor di Pasar Senen untuk menyinggahi Mak Etek Ayub Rais, karena dia ingin pula hadir kalau buku-buku itu diperiksa. Setelah berkenalan dengan Etek Djohan, Etek Djohor, serta beberapa pembantu yang utama, Mak Etek Ayub Rais dan aku berangkat dengan oto (mobil) sedannya,” tulis Hatta dalam Mohammad Hatta Memoir (1979).

Kala itu, punya mobil merupakan salah satu indikator kekayaan. Dan orang-orang yang disapa etek alias paman oleh Hatta itu adalah pengusaha-pengusaha Minang yang sukses di Betawi.

Untuk mengangkut buku-bukunya, Etek Djohan-Djohor bersaudara meminjamkan truknya bagi Hatta. Buku-buku Hatta itu lalu dititipkan di rumah Etek Ayub. Ketiga etek itu pernah mempekerjakan Hatta yang doktorandus bidang ekonomi didikan Rotterdam, Negeri Belanda. Semula, Hatta ditawari sekretaris direksi, tapi Hatta memilih hanya menjadi penasihat bisnis saja. Bekerja untuk para mak eteknya itu membantu Hatta bertahan hidup. Karena bagaimanapun, perjuangan membutuhkan uang.


Hatta pernah diajak ke Jepang oleh Ayub pada Februari 1933. Ayub Rais berusaha memperkuat Firma Djohan-Djohor dalam bisnis impor sepeda dan sabun mandi dari Jepang. Menurut catatan Surya Suryadi dalam artikelnya "Trio Minang Penakluk Pasar Senen 1930an" di koran Singgalang (24/09/2014), Ayub Rais dan Djohan memulai usahanya dari bawah. Setelah Djohan sukses dengan tokonya, dia mengajak adiknya Djohor untuk mengelola bisnis toko mereka di Senen. Setelahnya, barulah Ayub Rais diajak berkongsi dalam Firma Djohan-Djohor.

Selain tiga etek tadi, ada pula pengusaha kaya lain yang membantu Hatta. Salah satunya adalah orang yang berusaha mempertemukan Hatta pada Sukarno: Haji Usman, pemilik Toko Padang di Kramat. Haji Usman terhitung saudara agak jauh dari Djohan-Djohor bersaudara.

“Di masa itu nama Djohan-Djohor dan Toko Padang banyak disebut orang karena aksinya menurunkan harga barang yang tidak sedikit, sehingga toko-toko Cina di Pasar Senen dan Kramat terpaksa juga menurunkan harga,” tulis Hatta.

Hubungan Hatta dan para etek itu berlanjut setelah masa-masa pembuangannya di Boven Digoel dan Banda. Di tahun 1942, ketika Hatta di Betawi (yang sudah jadi Jakarta) lagi, Djohor menemui Hatta, dan membawa sarjana itu ke tukang jahit langganan dengan mengendarai mobilnya. Ia ingin Hatta punya pakaian resmi yang pantas untuk bertemu Gunseikan (penguasa militer Jepang).

Setelah Indonesia merdeka, menurut pengakuan Bahder Djohan dalam Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan (1980), Djohor juga menjadi anggota Palang Merah Indonesia (PMI) yang diketuai Hatta. Atas nama firma Djohan-Djohor, dia menyediakan truk-truk beserta bahan bakar dan sopir untuk PMI di awal revolusi.


Salain dibantu Etek Djohor, PMI yang awalnya dipimpin Hatta juga dibantu Agus Musin Dasaad dari Dasaad Musin Concern. Dasaad juga merupakan salah satu penolong Sukarno di masa pergerakan. Sukarno bertemu Dasaad pertama kali di tahun 1931 ketika Sukarno dibebaskan.


“Di pagi hari aku keluar dari penjara sebagai seorang bebas, seorang laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya, menggenggamkan kepadaku dengan begitu saja uang empat-ratus rupiah, lain tidak karena aku tidak mempunjai uang,” Sukarno merujuk Dasaad dalam biografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (1964) yang ditulis Cindy Adams. Di masa Sukarno masih berkuasa, “Dasaad, adalah seorang kapitalis-sosialis yang paling kaya di Indonesia dan kawanku yang rapat.”

Infografik Orang Kaya di Sekitar Sukarno Hatta


Seperti Hatta yang dianggap tak bisa mengembalikan uang yang digunakannya untuk sekolah dari Mak Etek Ayub Rais, Sukarno pun mengaku dia belum pernah mengembalikan uang 400 rupiah dari Dasaad. Menurut Mestika Zed dalam Kepialangan Politik dan Revolusi Palembang 1900-1950 (2003), Dasaad yang berdarah Lampung-Sulu itu memulai usahanya di sekitar Sumatra bagian Selatan. Sebelum 1942, dia tercatat sebagai miliuner Sumatra.

Usahanya mempunyai cabang di beberapa daerah di Indonesia dan ia pernah bermukim di beberapa kota dagang, termasuk Singapura. Dasaad tercatat sebagai pengusaha pribumi satu-satunya yang duduk dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).


Tak hanya Sukarno saja yang pernah ditolong Dasaad, kaum pergerakan lain juga pernah merasakannya. Tercatat dalam biografi Sukarni yang berjudul Sukarni Dalam Kenangan Teman-temannya (1986) yang ditulis Sumono Mustoffa: “Dasaad kalau memberi cak paling sedikit 5.000-10.000 gulden. Ini lalu dibagi-bagikan kepada kawan- kawan yang butuh biaya.”

Menurut Willem Oltmans dalam Bung Karno Sahabatku (2001), Dasaad sering terlihat di istana Negara menemui Sukarno ketika Sukarno menjadi presiden. “Bila dana pribadinya habis, dia minta tolong Dasaad,” tulis Willem.

Ketika Sukarno makin terkucil pasca-Supersemar, menurut pengakuan Oei Hong Kian dalam Peranakan yang Hidup dalam Tiga Budaya dan Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang Yang Wafat, tiap kali dokter gigi Oei hendak memeriksa kesehatan Sukarno di Istana, yang selalu ada bersama Sukarno adalah Johannes Leimena dan Dasaad.

Baca juga artikel terkait SUKARNO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani