One Cut of the Dead: Super-Kreatif, Jaminan Pemancing Tawa

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 1 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Debut sineas Jepang Shinichiro Ueda ini sukses menuntaskan rindu akan film zombie yang brilian seperti ‘Shaun of the Dead’ (2004). Karya layar lebar paling menghibur tahun ini.
tirto.id - Lewat lima menit menonton permulaan One Cut of the Dead, saya baru tersadar sutradara Shinichiro Ueda menggunakan teknik “long shot”. Adegan tidak dipotong hingga berakhir di menit ke-37, ketika zombie-zombie yang meneror aktris Chinatsu (Yuzuki Akiyama) bisa dibantai semua.

Adegan final memperlihatkan Chinatsu yang berdiri di atap gedung bekas pengolahan air, tepat di tengah simbol bintang yang sepertinya dibuat dengan cat warna merah. Kamera menyorot dari ketinggian sekitar empat meter. Ia terengah-engah. Kapak yang digunakan sebagai senjata masih dipegang kedua tangan. Darah segar membasahi tubuhnya, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Chinatsu sedang ambil bagian dalam film horor yang diarahkan oleh Higurashi (Takayuki Hamatsu). Ia diceritakan kena teror pacarnya, Ko (Kazuaki Nagaya), yang berubah jadi zombie.

Tapi akting Chinatsu ketakutan kurang bagus karena tidak natural. “Cut!” ujar Higurashi, yang kemudian memarahinya habis-habisan, hingga perlu dipisah oleh penata rias Nao (Syuhama Harumi). Belakangan diketahui bahwa adegan itu merupakan pengambilan ke-42. Wajar jika Higurashi frustasi, dan syuting dijeda makan siang.

Saat Chinatsu, Ko, dan Nao sedang mengobrol santai, pintu diketuk dari luar. Masuk seorang kru yang tangannya sudah buntung sekaligus sedang sekarat. Ia diserang kru film lain yang sudah jadi zombie dan mulai mengincar Chinatsu, Ko, dan Nao.


“Zombie apocalypse” yang jadi tema utama film, secara ironis, kini berubah jadi kenyataan. Chinatsu, Ko, dan Nao tidak punya persiapan apapun untuk menghadapinya. Di sisi lain wilayah tempat syuting amat terisolir, sampai tidak dapat dijangkau sinyal ponsel.

Di tengah kekalutan dan kesibukan ketiga aktor mengamankan pintu masuk gedung, Higurashi tiba-tiba muncul sembari berteriak “action!”. Matanya berbinar-binar, penuh kegembiraan, sebab serangan para zombie membuat Chinatsu benar-benar ketakutan.

“Ini bukan fiksi! Bukan kebohongan! Inilah kenyataan!” katanya penuh gairah.

Juru kamera ia perintahkan untuk tidak berhenti merekam. Hingga menit ke-37 penonton disuguhkan usaha bertahan hidup Chinatsu, Ko, dan Nao yang amat berdarah-darah. Aksi kejar-kejaran berlangsung di hampir seluruh kawasan gedung di mana mereka seharusnya merampungkan syuting.

Sutradara Indonesia paling beken hari ini, Joko Anwar, mempromosikan One Cut of the Dead di Twitter dengan anjuran “the less you know about it the better”. Maka saya otomatis mengela napas kecewa saat kredit muncul di adegan final Chinatsu pegang kapak.


Untungnya saya salah. Film lalu memasuki “babak” kedua, di mana penonton mendapat latar belakang pembuatan film pendek, proses “reading”, dan sekelumit tentang keluarga Higurashi.

Di “babak” ketiga film menyuguhkan aksi utama yang menjadi klimaks sekaligus penjelasan atas berbagai kecurigaan penonton sejak menonton film pendek di bagian awal. Di bagian ini penonton yang tak membawa bekal apapun juga akan terkejut dengan ke mana arah film yang sebenarnya.

Komedi horor yang melibatkan zombie adalah genre film yang cukup populer. Tapi untuk membuatnya legendaris butuh kerja ekstra. Dari sekian puluh (atau bahkan ratusan) film zombie yang bertebaran di Hollywood maupun di luar Amerika, keistimewaan jenis apa yang bisa seorang sineas tawarkan?

Contoh yang berhasil adalah Shaun of the Dead (2004) besutan Edgar Wright. Film ini terasa segar sebab alih-alih memprioritaskan para monster, Edgar fokus mengolah para karakternya agar nampak se-sitkom mungkin.

Para karakternya dibiarkan menjalani kehidupan sehari-hari, senormal-normalnya, di mana konflik dan perdebatan yang mengemuka terus-menerus diganggu oleh para zombie.


Di adegan awal, misalnya, dalam satu “longshot” Shaun (Simon Pegg) bangun tidur dalam kondisi masih sempoyongan, pergi beli minuman ke toko seberang, kembali ke rumah, padahal pagi itu “zombie apocalypse” sudah dimulai. Shaun sama tidak memperhatikan zombie yang mulai berkeliaran di jalan.

Adegan itu kocak, dalam nuansa yang sangat “British”. Ia dan Ed (Nick Frost) baru menyadari situasi sebenarnya saat beberapa zombie mampir ke halaman rumah. Alih-alih membungkusnya secara dramatis atau horor, Edgar juga menampilkan aksi perlawanan Shaun dan Ed dengan humoris, sembari berdebat tentang nilai piringan hitam yang mereka pakai sebagai senjata.


Infografik Misbar One Cut of the Dead


One Cut of the Dead juga sebenarnya bukan film tentang zombie. “Babak” kedua menjelaskan reputasi Higurashi dalam membuat film berbiaya murah dengan cepat. Kerjasama dengan Chinatsu berawal dari tawaran seorang produser yang ingin membuat program baru, yakni film horor berdurasi 30 menit, disiarkan secara live dan tanpa jeda.

One Cut of the Dead akhirnya mengangkat tema yang cukup langka sekaligus meta: film soal pembuatan film. Di dalamnya Higurashi harus berhadapan dengan idealisme anak perempuan yang juga bercita-cita menjadi sutradara, dan terutama proses teknis syuting yang jauh panggang dari api.

Kreativitas tema sekaligus pembabakan alur cerita adalah satu poin positif yang membuat film ini mendapat banjir pujian dari para kritikus. Poin lain sepenuhnya tersaji di “babak” ketiga, di mana rangkaian komedinya amat sukses mengocok perut penonton.


One Cut of the Dead adalah salah satu karya layar lebar paling brilian sekaligus paling menghibur pada tahun 2018. Joko Anwar juga mendaulatnya sebagai film favoritnya tahun ini. Ia mencuit One Cut of the Dead “mengingatkan kita kenapa kita suka film dan, buat sebagian dari kita, bikin film.”

Sejumlah media melaporkan bujet One Cut of the Dead cuma sekitar tiga juta yen. Aktornya juga tak dikenal. Wajar jika Shinichiro Ueda mengandalkan kreativitas dalam mengolah skenario film. Syutingnya berjalan selama delapan hari usai Shinichiro mengikuti workshop di Enbu Seminar, Tokyo.

Film pertama kali dirilis di sebuah bioskop “art house” yang memuat 84 kursi di Tokyo. Jatahnya cuma enam hari. Titik baliknya adalah penghargaan sebagai juara kedua kategori Audience Award di Udine Far Film Festival. Sejak saat itu film mulai mendapat perhatian dari para distributor atau komunitas-komunitas film.

Setelah diputar dan mendapat ulasan positif di luar negeri, pada Juni 2018 film diputar kembali di Jepang. Sebulan setelahnya mereka mendapat kesempatan lebih luas usai mendapat kontrak dengan distributor Asmik Ace.

Per pemutaran di 200-an bioskop di Jepang pada Maret 2018, Shinichiro meraup pendapatan kotor hingga 800 juta yen. Sebuah angka yang pantas diraih mengingat kualitas solid yang Shinichiro torehkan dalam debut layar lebarnya itu.

Baca juga artikel terkait FILM KOMEDI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf