Menuju konten utama

OJK Catat 59 Juta Tabungan Pelajar Capai Rp32 Triliun

OJK beri catatan terkait indeks literasi keuangan masyarakat yang masih rendah di angka 66,46 persen.

OJK Catat 59 Juta Tabungan Pelajar Capai Rp32 Triliun
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar menyampikan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I Tahun 2024 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (30/1/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.

tirto.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai saat ini jumlah tabungan pelajar sudah mencapai 59 juta rekening, dengan nominal senilai Rp32 triliun. Besarnya jumlah rekening dan nilai simpanan ini mencerminkan bahwa semangat para pelajar Indonesia untuk menabung cukup besar.

“Jadi, 59 juta anak-anak Indonesia sudah memiliki tabungan dan tentu termasuk adik-adik di sini. Dan kalau lihat tadi, jumlahnya Rp32 triliun. Saya rasa semua ada isinya, walaupun tentu nilainya tidak sama,” kata Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK, Mahendra Siregar kepada para pelajar berseragam pramuka, dalam acara Like It: Generasi Muda Mandiri Finansial Menuju Generasi Emas, di Buperta Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (14/8/2025).

Perlu diketahui, tabungan atau simpanan pelajar adalah tabungan yang diperuntukkan untuk anak-anak usia sekolah.

Menurut Mahendra, sama halnya dengan tabungan biasa, simpanan pelajar tidak hanya bisa digunakan oleh masing-masing individu pelajar. Namun, simpanan pelajar yang terdapat di Perbankan-perbankan yang ada di Indonesia pada akhirnya juga dapat mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia, melalui pembiayaan atau kredit yang disalurkan oleh bank, baik kepada perseorangan maupun dunia usaha.

“Dan juga untuk menciptakan Lapangan kerja, juga untuk memberikan pinjaman bagi pertumbuhan, dan peningkatan hasil usaha menengah, kecil, dan mikro, dan masih banyak lagi,” ucap Mahendra.

Dengan manfaat ini, ia berharap agar jumlah rekening dan nominal dari simpanan pelajar akan semakin meningkat ke depannya.

“Jadi, apa yang adik-adik sumbangkan (kepada negara) dalam bentuk tabungan itu pun. Kemudian, pada gilirannya memberikan nilai tambah dan sumbangsih yang besar kepada negara ini,” tambanya.

Sementara itu, Mahendra mengakui, indeks literasi keuangan masyarakat yang masih sebesar 66,46 persen memang masih cukup rendah. Namun, ini masih lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 54-55 persen.

“Kalau dibandingkan bukan saja dengan negara-negara berkembang, bahkan dengan negara-negara OECD, anggota dari organisasi dari negara-negara maju, angka 66 persen itu adalah angka yang berada dalam kuartal ataupun perempat atau kuartil, kuartil menengah ke atas. Jadi salah satu yang maju sebenarnya,” jelas dia.

Meski begitu, OJK bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan masih akan terus meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat melalui berbagai program. Dus, masyarakat diharapkan akan lebih mengerti dan paham mengenai manfaat dari produk-produk keuangan serta penggunaannya, termasuk dalam hal ini simpanan pelajar.

Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan lebih mengerti dan memahami potensi risiko dari transaksi-transaksi keuangan ilegal yang marak terjadi belakangan ini.

“Jadi, bukan hanya dalam angka literasi semata-mata, tapi juga lebih kepada kualitas dari literasi itu yang kita akan tingkatkan terus. Tentunya ini kemudian masuk kepada pengenalan dan program literasi kepada produk-produk yang berkembang, termasuk juga dengan platform digital yang sekarang sudah dilakukan,” tukas Mahendra.

Baca juga artikel terkait OJK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana