tirto.id - CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan investor asal Amerika Serikat (AS) mendominasi pemesanan obligasi berdenominasi dolar yang pertama kali diterbitkan Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia tersebut.
Jika dirinci pada obligasi dengan tenor lima tahun, investor AS mendominasi pesanan dengan persentase mencapai 38 persen. Baru kemudian diikuti oleh investor asal Eropa dan Timur Tengah dengan persentase sebesar 41 persen.
Selanjutnya, investor asal Asia mengoleksi sekitar 21 persen dari total surat utang yang akan jatuh tempo pada 2031 tersebut.
“Jadi oleh sebab itu rencana itu berjalan dengan baik. Kalau ingin saya sampaikan sedikit, dari investornya kurang lebih yang lima tahun itu 38 persen itu dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 21 persen dari Asia, itu yang lima tahun,” papar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).
Sama halnya dengan obligasi dengan tenor lima tahun, investor AS juga mendominasi pemesanan surat utang yang jatuh tempo pada 2036. Jika dirinci, pesanan investor AS terhadap obligasi dolar Danantara tenor 10 tahun mencapai 52 persen, 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, kemudian 17 persen dari Asia.
“Nah ini memang boleh dibilang biasanya penerbitan obligasi dari Indonesia justru peminatnya kebanyakan dari Asia. Historical tuh seperti itu, tapi ini justru kebalikannya justru peminat dan yang membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat. Justru ini peminat terbesarnya terutama yang 10 tahun 52 persen yang subscribe dari bond kita adalah dari Amerika Serikat,” tuturnya.
Dominasi investor AS terhadap surat utang Danantara ini membuktikan bahwa minat pemodal asing terhadap Indonesia masih cukup baik. Bahkan, ketika dunia sedang diliputi oleh ketidakpastian akibat konflik di berbagai negara.
“Nah, oleh sebab itu yang ingin saya sampaikan bahwa kepercayaan market, kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia itu sangat baik. Dan ini tercemit dari mereka bersedia untuk membeli global bondnya dan antara dari jangka yang lima tahun, 10 tahun,” tutup Rosan.
Sementara itu, Danantara sukses menerbitkan obligasi internasional perdana senilai 1,5 miliar dolar AS. Antusiasme investor terlihat dari nilai pesanan surat utang berdenominasi dolar AS pertama Danantara yang mencapai 4,6 miliar dolar AS atau tiga kali lipat dari nilai penerbitan.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id





































