Menuju konten utama

Rosan Sebut Danantara Berpeluang Rilis Bond Tenor 30 Tahun

Sukses rilis obligasi perdana, CEO Danantara Rosan Roeslani buka peluang terbitkan surat utang tenor 30 tahun seiring tingginya minat investor AS.

Rosan Sebut Danantara Berpeluang Rilis Bond Tenor 30 Tahun
Kantor Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Jl.RP. Soeroso, Menteng, Jakarta. ANTARA/Muhammad Heriyanto/am.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membuka peluang untuk menerbitkan obligasi atau surat utang dengan tenor 30 tahun. Menurut CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani peluang ini terbuka lebar seiring tingginya minat investor terhadap obligasi dolar yang baru saja diterbitkan Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia tersebut untuk pertama kalinya.

Bahkan, saat melakukan road show untuk memperkenalkan obligasi tersebut, dukungan positif berhasil digalang Danantara untuk menerbitkan surat utang dengan tenor lebih panjang.

“Bahkan mereka menyatakan kepada saya sangat-sangat terbuka apabila dan antara ingin menerbitkan bond sampai yang 30 tahun,” ungkap Rosan, dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).

Sementara itu, tingginya minat investor asing terhadap obligasi internasional perdana senilai 1,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) tersebut terlihat dari nilai pesanan yang mencapai 4,6 miliar dolar AS atau tiga kali lipat dari nilai penerbitan.

Jika dirinci, pada obligasi dengan tenor 5 tahun, investor AS mendominasi pesanan dengan persentase mencapai 38 persen.

Baru kemudian diikuti oleh investor asal Eropa dan Timur Tengah dengan persentase sebesar 41 persen. Selanjutnya, investor asal Asia mengoleksi sekitar 21 persen dari total surat utang yang akan jatuh tempo pada 2031 tersebut.

“Jadi oleh sebab itu rencana itu berjalan dengan baik. Kalau ingin saya sampaikan sedikit, dari investornya kurang lebih yang lima tahun itu 38 persen itu dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, 21 persen dari Asia, itu yang lima tahun,” papar Rosan, di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).

Sama halnya dengan obligasi dengan tenor 5 tahun, investor AS juga mendominasi pemesanan surat utang yang jatuh tempo pada 2036. Jika dirinci, pesanan investor AS terhadap obligasi dolar Danantara tenor 10 tahun mencapai 52 persen, 31 persen dari Eropa dan Timur Tengah, kemudian 17 persen dari Asia.

“Nah ini memang boleh dibilang biasanya penerbitan obligasi dari Indonesia justru peminatnya kebanyakan dari Asia. Historical tuh seperti itu, tapi ini justru kebalikannya justru peminat dan yang membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat. Justru ini peminat terbesarnya terutama yang 10 tahun 52 persen yang subscribe dari bond kita adalah dari Amerika Serikat,” tuturnya.

Perlu diketahui, dalam penawaran perdana obligasi dolar ini, Danantara melalui Danantara Investment Management (DIM) berhasil meraup 750 juta dolar AS untuk surat utang dengan tenor 5 tahun dan imbal hasil 5,35 persen. Sedangkan, untuk surat utang dengan tenor 10 tahun –hingga 2036– dan imbal hasil 5,95 persen, Danantara berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar 750 juta dolar.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah