Obed Kresna: Gerakan Mahasiswa Harus Lepas dari Kepentingan Politik

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 13 Februari 2018
Dibaca Normal 10 menit
Presiden mahasiswa UGM ini menguraikan panjang-lebar dari acara Mata Najwa, pendapat soal 'kartu kuning' Zaadit, dan kritik atas biaya kuliah mahal.
tirto.id - Obed Kresna Widyapratista tak pernah menyangka akan jadi perbincangan di media sosial karena penampilannya di Mata Najwa pada Rabu, 7 Februari 2018. Warganet menyoroti hingga membandingkan sikap Obed dengan Zaadit Taqwa, mahasiswa pemberi kartu kuning untuk Presiden Joko Widodo.

Cuitan dukungan terhadap Obed mengalir usai orasinya di Mata Najwa. Orasi dia pada awal segmen, Obed mengangkat soal pendidikan dan keberagaman di Indonesia. Pada akhir segmen, ia menekankan peran mahasiswa sebagai intermediate actor, atau sebagai pihak yang tidak memihak manapun, kecuali kemanusiaan.

Ditemui pada Senin kemarin, 12 Februari, mahasiswa Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM ini menuturkan kepada Tirto cerita di balik orasinya soal keberagaman, termasuk pendapatnya tentang aksi kartu kuning Zaadit Taqwa.

Pendapat kamu soal kartu kuning untuk Jokowi?

Kalau aku melihatnya itu hal yang sangat wajar, apalagi kita sudah mengamini demokrasi yang menjadi sistem politik Indonesia. Bagiku ketika kita sudah mengamini demokrasi, hal-hal semacam itu—mengkritisi pemerintah, menyuarakan sikap politik—seharusnya menjadi hal yang sangat wajar. Dan, seharusnya ditanggapi pula dengan wajar.

Yang dilakukan Zaadit itu, terlepas dari substansinya—bagaimana kajian dia terhadap isu Asmat, Dwifungsi Polri maupun Ormawa—dia sudah melakukan haknya, hak berekspresi dia dengan baik.


Jadi apa yang dilakukan Zaadit adalah satu bentuk peran mahasiswa dalam demokrasi?

Salah satu bentuk kritik, bentuk sikap kritis mahasiswa.

Kamu mengamini sikap Zaadit dengan kartu kuning itu?

Aku mengamini sikap kritis dia.

Menurut kamu, secara etika, apakah itu dibenarkan? Karena banyak yang menganggap Zaadit itu enggak sopan.

Tergantung tujuan aksi Zaadit. Kalau yang dia lakukan itu untuk mencari atensi publik dan menarik atensi banyak pihak, bagiku cara itu tepat. Kalau dia hanya ketemu presiden untuk menyerahkan kajian, enggak ramai, kan.

Tapi, kalau tujuannya menyampaikan kritik terhadap pemerintah untuk segera menyelesaikan kasus gizi buruk di Asmat, atau soal Dwifungsi Polri, atau Ormawa, untuk mengubah ... malah enggak efektif.

Karena saat dia menyemprit dan melakukan kartu kuning, semua orang bingung, kan? Kalau tujuan dia membuat viral dulu baru dia ngomong—ya itu bisa jadi tepat. Itu tergantung strategi dia, sih, dan aku melihatnya dari sisi itu.

Staf Kepresidenan Moeldoko memberikan jawaban dengan capaian Jokowi. Apakah itu menjawab apa yang dikritisi lewat aksi kartu kuning?

Pak Moeldoko menurutku berbicara tentang data-data, ya. Aku kira itu belum sepenuhnya menjawab karena persoalan di Asmat itu menjadi pintu masuk aja untuk persoalan gizi buruk di Indonesia.

Dari teman-teman Medika UGM kemarin memberi data ke kami kalau ternyata gizi buruk itu tidak hanya terjadi di Asmat, tapi di Maluku, di Yogyakarta, bahkan di Jakarta juga ada. Asmat kemarin sebenarnya menjadi trending kemudian karena ada campak, jadi semakin banyak korban.

Tapi kemudian persoalannya bukan hanya sektor kesehatannya kan. Persoalan akses, ada juga permasalahan sosial, budaya, yang enggak seimbang lagi. Kalau aku baca sih, orang Asmat selalu hidup seimbang antara alam, sesama, dan Tuhan. Kalau ada kekacauan atau kematian pasti ada hubungan yang enggak seimbang.

Kalau aku baca-baca dan kemarin ada data dari teman-teman Kehutanan itu ada deforestasi hutan di Asmat—itu membuat ekosistem tidak berjalan dengan baik.


Kamu cukup memahami kasus Asmat ini?

Saya kira belum karena saya belum ke sana untuk melihat langsung. Tapi, setidaknya dari beberapa data itu belum dijawab oleh Pak Moeldoko kemarin, sih. Ada persoalan lain selain itu.

Dari UGM sudah kirim tim ke Asmat, apakah kamu tahu prosesnya?

Iya dari pihak kampus. BEM enggak ikut campur. Dikasih tahu saja secara publik dan saya dikirimi data tapi belum saya baca, sih. Dikirimi datanya setelah saya tampil di Mata Najwa, soal keterlibatan UGM di sana.

Tapi memang UGM, Pak Panut (Panut Mulyono, Rektor UGM) juga ke Papua saat itu. Memang dari universitas ada respons ke sana.


Tim terdiri dari mahasiswa?

Kemungkinan ada keterlibatan mahasiswa, tapi bukan dari BEM. Kami enggak diajak merencanakan karena ini memang sangat teknis persoalannya, kami saat itu masih masa liburan.

Aku, kan, baru menjabat, aku dilantik 28 Januari 2018, setelah itu libur panjang baru masuk 5 Februari kemarin. Jadi memang kegiatan organisasi kami agak off selama liburan. BEM kurang dilibatkan pada saat itu.

Tapi kemudian komunikasi dengan BEM setelah Mata Najwa kemarin sih diberi beberapa informasi. Setahu saya juga ada yang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sana juga, KKN tematik. Nah, keterlibatan mahasiswa itu lewat KKN.

Ketua BEM IPB bilang di Mata Najwa bahwa mahasiswa zaman sekarang sulit memikirkan semacam kejadian di Asmat karena kurikulum kuliahnya. Kuliah sekarang memang seperti itu, ya, sehingga sulit memikirkan isu kemanusiaan?

Kalau saya sebenarnya bukan masalah banyak tugas dan sebagainya—itu masalah pembagian waktu saja. Yang menurut saya lebih banyak menekan gerakan mahasiswa atau aktivisme mahasiswa sekarang itu lebih pada biaya kuliah.

Misalnya gini: mulai angkatan 2013 kami diberlakukan UKT (uang kuliah tunggal). Jadi setiap semester kami harus membayar dengan jumlah yang sama, berapa SKS pun yang diambil. Itu sebenarnya sudah cukup menekan kami sebagai mahasiswa.

Saya agak gambling juga seharusnya saya bisa lulus kemarin, tapi saya harus membayar lagi UKT semester ini padahal saya enggak ambil mata kuliah, tapi saya membayar UKT dengan cukup mahal hanya untuk BEM.

Jadi sebenarnya tekanan terbesar itu bukan pada kesibukan kuliah, sih, tapi pada tekanan biaya kuliah yang cukup tinggi.

Orang sekarang lebih banyak menghabiskan waktu pada kegiatan akademik karena dia harus lulus cepat. Kalau dia enggak lulus cepat, bayarnya semakin mahal. Makanya itu yang kusebut kemarin pada orasi.

Jadi mahasiswa berpikir: saya harus lulus cepat, karena biaya kuliah mahal. Logikanya melupakan isu sosial, meskipun banyak juga mahasiswa yang masih peduli dengan isu sosial.

Kalau memang indikatornya adalah lulus cepat, ya itu bagus, karena mahasiswa sekarang lulus cepat banget. Yang lulus 3,5 tahun itu di angkatan saya sudah 20-an orang. Mungkin bisa dilihat dari data beberapa tahun ke belakang, lulusan di UGM, utamanya Fisipol, itu cepat banget.

UKT akan kelihatan murah kalau kami mengambil full SKS. Tapi kalau posisi saya sekarang di semester 8 cuma ambil skripsi aja jadi mahal banget, karena enggak ambil mata kuliah lain.


Tapi peran mahasiswa sendiri untuk membantu kasus macam Asmat ini apa, sih?

Sebenarnya yang harus dibedakan antara kritik dan solusi, sih. Enggak mungkin kami semua bisa pergi ke sana, tapi yang bisa kami lakukan adalah mengamati dari luar dan melakukan kajian dari basis ilmu yang komprehensif dan melihat perkembangan kasus gizi buruk di sana dan kasus kesehatan di sana, secara umum, baru kami, mahasiswa, sampaikan kritik, sih.

Yang mempunyai tugas menyelesaikan masalah ya pemerintah dan pemerintah daerah di sana.

Peran mahasiswa hanya untuk mengkritik saja?

Iya, salah satunya mengkritik. Tapi kalau bisa ke sana ya silakan ke sana, itu jauh lebih baik. Tapi kalau kondisinya tidak memungkinkan, mengawasi dari luar menurutku cukup, sih, karena memang enggak semuanya bisa ke sana.

Adakah perbedaan paling mendasar dari gerakan mahasiswa zaman dahulu, katakanlah, pada 1990-an dan zaman sekarang?

Kemarin di Mata Najwa juga dibahas soal ini, soal gerakan mahasiswa. Menurutku, gerakan mahasiswa sekarang juga sudah berbeda dari era Orde Baru atau sebelumnya. Zaman sekarang ketika konteks politiknya sudah berubah, sosialnya berubah, gerakan mahasiswa sudah banyak bertransformasi.

Mungkin masih ada aktivis-aktivis yang bergerak melalui gerakan ekstra kampus, GMNI, HMI, dan sebagainya. Dan juga aktivis dengan komunitas-komunitasnya. Tapi ada juga mahasiswa yang bergerak dengan cara lebih baru lagi, misalnya dengan membuat startup, melalui musik, dan sebagainya. Itu menurutku juga bagian dari aktivisme itu.

Tapi kalau kemudian arahnya adalah politik kampus, aktivis kampus itu ya orang-orang yang memang selama ini bergelut pada organisasi.


Metodenya berbeda. Dahulu mungkin ketika negara dipimpin secara otoriter, saluran tidak banyak. Dahulu kalau orang mau mengkritik pemerintah lewat LSM gampang aja dibredel, melalui komunitas kalau tidak sepakat ya mudah saja dibredel. Dulu satu-satunya yang bersih dari cengkeraman pemerintah ya cuma kampus.

Maka dulu gerakan mahasiswa menjadi kuat, karena menjadi satu-satunya saluran yang bisa mewadahi suara-suara masyarakat. Tapi sekarang ketika banyak saluran sudah terbuka, semua orang bisa berpendapat dan berekspresi, bahkan melalui media sosial ... gerakan mahasiswa itu menjadi berubah. Enggak cuma dengan demo.

Mungkin itu masih relevan dan masih perlu dilakukan, tapi bentuk kritik mahasiswa terhadap situasi sosial-politik di Indonesia, aku kira, berubah.

Kayak misalnya yang aku suka itu munculnya startup ruangguru.com, menurutku, itu adalah kritikan cukup keras terhadap pemerintah bahwa negara gagal menyediakan pendidikan yang baik untuk masyarakat, sampai ada aplikasi semacam itu. Itu sebenarnya bentuk kritikan anak muda terhadap situasi sosial-politik di Indonesia.

Soal kamu yang viral selepas acara Mata Najwa, terus dibanding-bandingkan dengan Zaadit. Kamu tahu itu? Bagaimana pendapat kamu?

Tahu, sih. Baca di media sosial. Awalnya aku enggak tahu, enggak memperhatikan. Kaget itu setelah balik dari studio (Mata Najwa) ke hotel, terus dikasih tahu teman, baru 'Woh!' ... viral juga ternyata.

Padahal sebenarnya yang kukatakan itu biasa banget. Bahkan sejujurnya aku agak minder, aku diundang dan ketemu dengan orang-orang UI, Trisakti, IPB, ITB—mereka itu ada di pusat (Jakarta), gitu.

Terus aku dengan background kaya gini, datang ke sana, cukup minder. Dan aku juga bingung kenapa kemudian viral.

Mungkin yang kulihat: masyarakat marah terhadap apa yang dilakukan Zaadit, sehingga mereka butuh pelampiasan kekesalan atau butuh orang untuk menjadi lawan Zaadit ... yang diwujudkan dengan diriku—mungkin gitu.

Tapi itu sih pandangan iseng aja, sih. Tapi bisa jadi mereka merespons seperti itu karena apa yang aku katakan soal perpecahan di masyarakat itu memang mereka rasakan juga, sih.

Kalau terkait personaku dan Zaadit yang dibanding-bandingkan, sih—wah, itu aku juga sebenarnya sangat menyayangkan. Karena pada akhirnya bukan substansi yang dibahas, bukan soal pendidikan mahal yang jadi perbincangan umum. Bukan perpecahan yang jadi sorotan, tapi malah pada persona.

Kamu kenal Zaadit?

Sebelumnya enggak. Ketemu baru di sana (Mata Najwa). Setelah kartu kuning itu aku memang menghubungi Zaadit, cuma enggak dibalas, mungkin terlalu banyak yang menghubungi dia.

Ketika dia mengacungkan kartu kuning itu dan viral, aku langsung menghubungi dia. Aku pengin meminta penjelasan dari aksi dia biar aku juga tahu bukan dari media. Terus pas saya ketemu dia di Mata Najwa, saya juga bilang, 'Kenapa enggak dibalas?'

Dia bilang, 'Wah banyak banget, Bed, yang menghubungi aku.' Ya bisa dipahami, sih.

Setelah tahu dibanding-bandingkan dengan Zaadit, sempat ngobrol lagi dengan dia?

Belum, sih. Jadi kami punya grup teman-teman yang dihubungi Najwa. Kami komunikasi, tapi enggak berjalan, sih. Cuma beberapa kali chat terus enggak ada lagi. Mungkin nanti setelah ini.

Yang aku sayangkan dari respons publik adalah membanding-bandingkan secara personal. Misalnya, dari cara omong. Ya aku orangnya kalau ngomong emang kaya gini, jadi ya gimana lagi? Dan Zaadit cara ngomongnya kaya gitu, kemudian dianggap sombong—ya, aku juga enggak tahu.

Dia sangat santai, sih. Cool, gitu. Kalau memang enggak kuat, dia mungkin agak takut dengan semua yang orang bilang untuk dia. Tapi menurutku, dia sangat cool, kelihatan biasa aja menanggapi semua ini.

Kalian di media sosial diversuskan gitu, ya, ditandingkan. Tapi kenyataannya seperti itu enggak, sih?

Enggak. Aku mengamini sikap kritis Zaadit. Aku menghargai dan menghormati betul yang dilakukan Zaadit. Aku enggak bermusuhan atau berlawanan dengan Zaadit. Aku yakin sih ada agenda politik tertentu yang menunggangi kami.

Aku enggak tahu apakah itu kepentingan ekonomi atau apa. Tapi media juga punya kepentingan, kan. Orang pasti akan terus menggodok ini karena netizen itu suka yang kontroversial dan bertarung, maka ini terus digodok.

Aku ingin klarifikasi juga, sebenarnya. Aku tidak punya hubungan yang buruk dengan Zaadit. Aku malah mengamini, sebenarnya. Konteks closing statement-ku di Mata Najwa itu aku tidak menyalahkan Zaadit.

Aku malah ingin meng-clear-kan kepada publik bahwa apa yang dilakukan Zaadit itu harus dilihat sebagai bentuk kritik mahasiswa yang wajar, lepas dari kepentingan politik apa pun. Ternyata publik malah melihatnya dengan cara pandang yang lain.

Yang ingin aku sampaikan: gerakan mahasiswa harus lepas dari kepentingan politik. Karena kami melakukan kajian terhadap isu tertentu, pasti itu punya dasar, salah satunya keberpihakan kami pada kemanusiaan, bukan pada kepentingan politik tertentu.


Pernyataan penutup kamu yang bikin viral. Bisa diuraikan lagi soal isu yang kamu omongkan?

Yang ingin kukatakan sederhana. Orang-orang Indonesia, kan, terpecah banget. Kalau ada orang yang bilang kebijakan Jokowi itu gini-gini, pasti dia langsung dicap antek Jokowi atau pro-pemerintah. Tapi kalau mengkritik dikit, dicap sebagai anti-pemerintah. Dan sayangnya politikus juga menunggangi kritik atau apresiasi tersebut untuk kepentingan masing-masing.

Ini yang menjadi permasalahan. Enggak bisa lagi mengkritik pemerintah. Langsung dicap, misalnya kritik dikit dibilang anti-Jokowi, kamu kelompok radikal inilah, grup inilah-itulah. Begitupun sebaliknya.

Nah, maksudku, pengin menjelaskan ke publik bahwa mahasiswa itu berdiri di tengah-tengah untuk mengkritik pemerintah maupun kemudian mengapresiasi pemerintah karena melakukan kerja yang bagus. Itu bukan karena kepentingan politik tertentu, bukan karena kami antek pemerintah atau kami antek oposisi, tapi karena keberpihakan kami pada kemanusiaan. Sesederhana itu saja.

Seperti yang dilakukan Zaadit, misalnya?

Iya kami harus melihat clear seperti itu. Clear dia mengkritik pemerintah, keberpihakan dia terhadap Asmat. Bukan dia benci terhadap pemerintah atau dia disusupi oposisi, dia ditunggangi kelompok atau partai tertentu...

Belakangan foto Zaadit sudah disejajarkan dengan ulama-ulama...

Aku enggak bisa memastikan apakah dia beneran begitu atau enggak. Tapi yang aku percayai apa yang dia lakukan dengan kartu kuning itu murni peduli pada kemanusiaan. Aku lebih percaya saja kepada dia. Aku positive thinking aja.

Ada cerita di Mata Najwa: Kok, sekarang mahasiswa sulit sih untuk ketemu Jokowi, untuk menyampaikan kritik, gitu? Menurut kamu memang seperti itu juga?

Ini pandangan pribadi saya, ya. Saya sebetulnya bingung, kenapa mahasiswa pengin banget ketemu Jokowi? Aku merasa bahwa ketika tujuan kami adalah mengubah kebijakan atau mengkritisi kebijakan tertentu, enggak harus kok ketemu dengan presiden. Tapi kalau kami bisa ketemu dengan stakeholder yang tepat mengurusi urusan yang kami kritik, itu malah lebih bagus.

Aku ngomong gini bukan berarti aku mendiskreditkan yang dilakukan teman-teman mahasiswa lain. Cuma berbeda pendapat saja.

Tema orasi kamu pada awal acara Mata Najwa itu ditentukan?

Kami diundang hari Senin malam, TOR (outline tema) hanya umum saja, bahwa kami akan berbicara tentang kartu kuning Zaadit, tapi disuruh berorasi. Sampai titik itu kami menganggap orasi akan umum saja.

Aku sebenarnya ingin berorasi soal respons publik terhadap Zaadit, yang terkesan menyalahkan dan sebagainya. Tapi kemudian, sejam sebelum acara, kami diminta untuk fokus di satu-dua isu saja.

Ya sudah, saya ambil isu yang memang sedang jadi kajian teman-teman mahasiswa UGM, yaitu tentang isu pendidikan, liberalisasi pendidikan. Yang kedua tentang keberagaman. Itu yang menjadi salah satu fokus isu BEM UGM ke depan. Sudah berdiskusi dengan teman-teman di Yogyakarta, sih.

Akun Twitter Ivan Samosir menyebut orasi kamu itu curhat colongan terkait pemilihan Presiden BEM kemarin. Itu benar?

Berbicara tentang isu keberagaman seperti itu saya sukai sejak dulu, sih, bahkan sebelum bergabung dengan BEM. Dulu saya fokus untuk bikin diskusi tentang keberagaman, membuat acara kebudayaan lintas agama sudah kulakukan sejak dulu, tahun 2015-2016.

Kalau disebut curhat colongan karena aku kemarin maju presiden mahasiswa lalu diserang, aku malah enggak curhat, sih (Hehehe). Aku merasa biasa aja. Tapi memang ada isu itu. Jadi ketika aku maju, ketika aku kampanye, ada semacam broadcast, screenshoot chat grup di salah satu fakultas, yang isinya ada satu orang bilang bahwa jangan pilih yang non-Islam. Aku, kan, Kristen, tuh.

Jadi calonnya ada 3: dua muslim, saya Kristen. Pada intinya dia mengajak untuk memilih sesuai dengan ajaran agamanyalah; bahasanya seperti itu.

Itu sempat ramai. Aku merespons biasa aja. Ngapain sih setingkat UGM kayak gini? Aku enggak tahu itu siapa yang menyebarkan, anggota tim mana, tapi menurutku itu malah jadi keuntungan tersendiri.

Kami enggak merespons sama sekali chat itu yang tersebar luas. Kami cuma diam, timku diam. Tapi mungkin orang kemudian simpatik kali, ya: "Halah, UGM kampus kaya gini kok sudah termasuki isu macam begitu."

Mungkin keyakinan mereka itu enggak mempan jadi malah membuat orang jadi simpatik: "Yo wes pilih iki wae." Mungkin, gitu.

Kamu sampai disamakan dengan Ahok karena sama-sama diserang dengan isu agama...

Iya. Tapi tidak sekritis dan semencekam yang dibayangkan orang melihat Jakarta kemarin.


Merasa tertekan enggak?

Jujur aku enggak, sih. Ketika aku diserang isu itu aku sama sekali enggak tertekan. Karena aku ingin menunjukan aku maju bukan karena identitasku. Aku maju karena aku ingin mengubah BEM, misalnya. Dan aku enggak pernah menyinggung kampanye SARA itu, sih.

Ya gimana lagi? Aku emang Kristen dan itu enggak bisa dibohongi. Jangan pilih Obed karena Kristen, ya gimana kalau emang aku Kristen? Masak aku harus bohong kalau aku bukan Kristen, kan, enggak mungkin juga. Aku bersikap wajar aja.

Setelah ada isu itu, komunikasi kamu dengan dua calon lain?

Baik, sih. Kami ngobrol biasa aja. Tapi aku yakin mereka juga tidak punya pikiran seperti itu.

Terus respons kamu gimana setelah akhirnya kamu yang terpilih?

Ramai itu. Banyak chat dan broadcast yang muncul, apalagi aku ini orang Kristen. Ada beberapa chat yang [isinya] 'Bahaya, alarm bahaya, UGM sudah jatuh ke tangan kafir'.

Tapi aku justru malah enggak tertekan sama sekali dengan hal itu. Malah orang-orang men-support aku, memberi semangat, dan aku sendiri tidak terlalu mempermasalahkan itu.

Cuma memang ada kesan orang luar sana ada yang menyebarkan bahwa dengan terpilihnya Obed yang Kristen ini kelompok-kelompok Islam yang keras itu tidak akan terwakili. Ya aku malah menunjukkan sebaliknya. Aku mengajak teman-teman dari sana untuk terlibat di kepengurusanku.


Reaksinya berlangsung lama?

Hampir satu mingguan, bahkan mungkin lebih. Bahkan di media sosial ramai, sih. Aku banyak dihubungi oleh berbagai pihak terkait itu. Ada juga yang bilang, 'Namamu ini sudah masuk ke MCA'. Itu MCA: Muslim Cyber Army. Hahaha...

Itu lucu, sih. Maka aku pengin bilang yang dituliskan orang, seperti Twitter Ivan Samosir itu tidak semencekam yang dituliskan. Aku menanggapinya dengan cukup santai. Sekarang sudah meredam.

Kondisi politik kampus memang sekarang bisa sepanas itu? Macam Pilpres saja, ya.

Mungkin kemarin panas itu karena tiga calon, terus tiga-tiganya punya latar belakang berbeda, apalagi isu identitas itu membuat ramai. Itu membuat suasana Pemilwa agak ramai, dari biasanya sih ada dari orang-orang yang selalu menang di BEM, dua tahun lalu sepi, baru kemarin agak ramai.

Selain itu karena aku bisa dianggap mewakili orang-orang yang apatis dengan BEM. Kemarin ramai karena identitasnya jelas berbeda. Sebelumnya dulu ada, tapi enggak digoreng kayak gini. Apalagi kasus kayak Jakarta kemarin lagi ngetren tuh metodenya.

Jadi, fokus BEM UGM ke isu keberagaman, seperti orasi yang kamu sampaikan di Mata Najwa?

Menurutku isu pendidikan harus selalu melekat pada gerakan mahasiswa. Sampai kami menemukan dunia pendidikan yang memang murah. Ketika pendidikan masih mahal, masih banyak orang yang belum mampu ke sana, itu harus selalu diperjuangkan.

Tahun ini juga kami fokus ke isu keberagaman. Kami lebih menyampaikan awareness kepada publik. Walaupun pengawalan isu-isu insidental akan tetap kami lakukan.

Untuk tahun politik, tahun ini dan tahun depan, peran mahasiswa sendiri apa menurut kamu?

Tahun politik ini menjadi penting bagi mahasiswa, khususnya anak muda, agar terus bisa mengampanyekan wacana tentang keberagaman, tentang antikorupsi, karena mungkin tahun ini kita akan dihadapkan dengan pertarungan identitas yang kuat, dan mahasiswa harus berdiri di situ.

Baca juga artikel terkait GERAKAN MAHASISWA atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Dipna Videlia Putsanra
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Fahri Salam