Menuju konten utama

New Year Anxiety, Rasa Cemas di Awal Tahun yang Manusiawi

Apakah ketakutan akan ketidakpastian masa depan kerap menghantuimu pada momen pergantian tahun? Tenang saja, kamu bisa kok belajar mengelola rasa cemas ini!

New Year Anxiety, Rasa Cemas di Awal Tahun yang Manusiawi
Header Diajeng New Year Anxiety. tirto.id/Quita

tirto.id - Momen pergantian tahun, bagi sebagian orang, tak selalu beresonansi dengan kegembiraan.

Ketika umumnya orang-orang sibuk mempersiapkan pesta, merencanakan liburan, atau merancang resolusi, sebagian orang lain mungkin malah kewalahan karena dihinggapi perasaan cemas memasuki tahun baru.

Dalam bentuk ekstremnya, mereka bisa dibilang tengah mengalami neoannophobia.

Fobia, seperti sudah sering kamu dengar selama ini, adalah sub gangguan kecemasan.

Kecemasan berperan dalam fobia sebagai perasaan khawatir, takut, dan merenung tentang hal tertentu yang mungkin ditakuti seseorang. Fobia tidak akan ada tanpa rasa cemas, namun kecemasan bisa muncul tanpa adanya fobia.

“Pada dasarnya setiap orang cemas terhadap sesuatu. Ada cemas dalam gembira yang disebut excited, ada cemas disertai rasa takut atau cemas pada umumnya. Ada cemas kecil sampai yang luar biasa, cemas besar, cemas menakutkan karena intens dan bikin nggak enak,” papar Ratih Ibrahim, psikolog, Founder & Direktur Personal Growth Counseling & Development Center di Jakarta Barat.

Cemas sebetulnya hal yang lazim dialami orang-orang terutama ketika mereka menghadapi ketidakpastian, termasuk masa depan. New year anxiety disebut Ratih sebagai kecemasan yang bersifat occasionally—terjadi setiap event pergantian tahun.

Pengalaman Nino berikut mungkin bisa menggambarkannya.

“Sejak awal Desember biasanya aku sudah gelisah,” ujar ibu dari dua anak laki-laki ini.

Persisnya sejak kapan Nino mengalami new year anxiety, ia tidak yakin. Kecemasannya memuncak pada tanggal 31 Desember siang. Ketika lingkungan di sekitarnya tengah heboh menyiapkan acara tahun baru, Nino hanya mondar-mandir di dalam rumah atau menyetel TV meskipun tidak fokus pada program acara.

Kata Nino, rasa panik membuatnya tidak jernih berpikir apa sebenarnya yang membuatnya cemas setiap kali pergantian tahun. Namun, berlalunya ingar-bingar acara tutup tahun tidak otomatis membuat Nino tenang. Kegelisahannya dapat berlangsung hingga pertengahan bulan Januari.

“Dasar dari kecemasannya itu adalah rasa nggak aman atau insecure. Ketika overwhelmed, yang bersangkutan bisa panik. Ada yang begitu intensnya sampai nggak bisa napas. Jantungnya deg-degan sampai rasanya sakit dan denyut di dadanya sampai terlihat,” ujar psikolog Ratih yang juga ibu dari dua anak laki-laki usia dewasa.

Header Diajeng New Year Anxiety

Header Diajeng New Year Anxiety. foto/IStockphoto

Banyak sebab seseorang takut menghadapi pergantian tahun yang tidak mereka sadari atau tidak diakui. Dilansir dari situs Phobia Support Forum, rasa ngeri menyambut tahun baru di antaranya dapat disebabkan karena bertambahnya usia, ketidakmampuan mengikuti perkembangan teknologi, dan masa depan yang kurang pasti.

Sementara itu, menurut psikolog Ratih, pemicu kecemasan ada dua: faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal sulit dipisahkan dari momen pergantian tahun dan asosiasinya dengan masa depan.

“Masa depan bikin cemas karena tidak ada kepastian absolut. Kita tidak bisa prediksi, rencanakan, antisipasi membuat langkah-langkah aksi yang serinci dan sesistematik mungkin. Tetap ada ruang ‘nggak jelas dan nggak pasti’. Apalagi pada orang-orang yang bawaannya senewen, nervous. Pada orang-orang neurotik kecemasannya bisa lebih besar,” jelas Ratih.

Kemudian, terkait faktor eksternal, Ratih mengaitakannya dengan the uncertainty post pandemic, “Baru mau seneng, di akhir tahun berita Covid kembali marak. Bagaimana nggak anxious, ya kan? Sulit cari kerja, baca sosmed yang isinya orang galau, pesimis melulu, ngobrol dengan siapapun yang skeptis dan sinical, dapat memicu kecemasan,”

Dikutip dari Stylist, psikolog perkembangan dan pakar parenting di Irlandia Catherine Halissey menambahkan, “Kecemasan di akhir tahun dipicu banyak faktor. Mulai dari faktor praktis; jadwal yang padat, terlalu lama bersama keluarga, tekanan finansial sampai faktor eksistensial; ‘apa yang sudah aku lakukan dengan hidupku’,”

Halissey juga menyatakan, banyak orang merasakan tekanan untuk menjadikan tahun yang akan datang sebagai tahun terbaik. Ini menimbulkan kecemasan yang melumpuhkan, bahkan sebelum tahun yang baru dimulai. Ada juga orang yang merasa kecewa karena belum berhasil mencapai semua yang mereka inginkan pada tahun lalu.

Sampai sekarang, Nino belum punya cara jitu untuk menghalau kecemasannya menghadapi tahun baru. Banyak hal memicu kecemasan yang kerap ia sangkal. “Mungkin saya harus menjalani hipnoterapi. Tarik napas dalam dan meditasi sering gagal,” katanya.

Header Diajeng New Year Anxiety

Header Diajeng New Year Anxiety. foto/istockphoto

Ada sejumlah saran untuk mengatasi new year anxiety, salah satunya dari Thomas Plante, Ph.D di Psychology Today. Hal utama yang Plante sarankan adalah cara yang sudah pernah diterapkan Nino, yaitu menarik napas dalam.

“Jangan lupa bernapas” mungkin terdengar konyol. Tapi nyatanya, ketika kamu kebingungan karena cemas, kamu sering “lupa” bernapas. Banyak riset menyimpulkan bahwa bernapas panjang, dalam dan pernapasan diafragma dapat membantu menenangkan dan membuatmu fokus.

“Apresiasi diri sendiri,” tambah Ratih, “Kalau kita bisa mendapatkan bukti bahwa tahun kemarin baik-baik saja, atau paling tidak kita mampu survive dalam kondisi ‘paling di dasar neraka’ atau pencapaian-pencapaian kita, meski semini apapun untuk diapresiasi, itu akan membantu membuat hati kita besar.”

Cari, temukan, dan baca lagi catatan perjalanan hidup pribadi maupun profesional, dengan catatan kosongkan diri agar bisa obyektif, tetap di ‘titik nol’ saat membacanya.

“Kapan membacanya? Investasikan waktu untuk punya quality time dengan diri sendiri. Apakah dengan ambil cuti, atau selama weekend. Retret pribadi adalah salah satu alternatif,” saran Ratih.

Maknailah hidup sebagai proses belajar. Beri makna positif.

Lalu, bagaimana cara kita merespons kegagalan?

“Katakan pada diri sendiri ‘sedang belajar’. Dari situ aku belajar apa saja dan apa for the next. Tentu fokus pada pertumbuhan kita, our personal growth,” jelas Ratih.

Wujudkan harapan, buat rencana untuk tahun berikutnya.

“Mulai saja dengan yang gampang; tidur teratur pukul 22.00 setiap malam, bangun pukul 07.00 setiap pagi. Kalau masih gelisah? Berdoalah untuk hal-hal baik, doa pengharapan dan keikhlasan menjalani hidup sambil atur napas yang meditatif, mindfully. Lakukan secara teratur sebagai investasi energi baik di dalam diri dan demi terjaganya mental health kita,” pungkas Ratih.

Kamu setuju?

Baca juga artikel terkait LYFE atau tulisan lainnya dari Imma Rachmani

tirto.id - Diajeng
Kontributor: Imma Rachmani
Penulis: Imma Rachmani
Editor: Sekar Kinasih