Natalie Portman & Yahudi Amerika yang Semakin Kritis Kepada Israel

Aktris Natalie Portman (kiri) berbicara dengan mantan presiden Shimon Peres selama sesi pemotretan untuk filmnya "A Tale of Love and Darkness" di Yerusalem, 3 September 2015. FOTO/REUTERS
Oleh: M Faisal - 29 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Natalie Portman pernah dianggap sebagai propagandis Israel. Belakangan sikapnya berubah. Ia mengecam kekerasan aparat keamanan Israel atas warga Palestina.
Natalie Portman, aktris Hollywood yang kerap dipandang pro-Israel dan simbol Yahudi liberal Amerika, jadi sorotan publik akibat menolak menghadiri sebuah acara penghargaan di Israel.

Portman dikecam sejumlah pejabat dan politisi Israel yang menuduhnya anti-semit. Bagaimana seorang Yahudi yang selama ini dikenal bangga dengan identitasnya sebagai putri kelahiran Israel dianggap anti-Yahudi?

Semua berawal ketika Portman menampik undangan untuk hadir di acara penganugerahan Genesis Prize (seringkali disebut sebagai “Nobel Yahudi”) di Yerusalem yang rencananya digelar Juni mendatang. Portman, pada November lalu, dinobatkan jadi pemenang Genesis Prize oleh The Genensis Prize Foundation, karena dinilai telah berkomitmen penuh dalam “program-program filantropis yang berfokus pada peningkatan kesetaraan perempuan di segala aspek ikhtiar manusia” melalui pelbagai aktivisme sosialnya.

Dilansir New York Times, perhelatan Genesis Prize pertama kali digelar pada 2013 dengan tujuan mengapresiasi pencapaian dan kontribusi masyarakat Yahudi di bidang kemanusiaan. Program ini didukung oleh Genesis Philanthropy Group dan Jewish Agency for Israel, lembaga kuasi-pemerintah yang berfokus pada komunitas Yahudi di seluruh dunia.

Beberapa tokoh yang pernah diganjar penghargaan ini adalah Michael R. Bloomberg (2014), Michael Douglas (2015), Itzhak Perlman (2016), dan Anish Kapoor (2017). Para pemenang berhak atas hadiah uang sebesar lebih dari $1 juta.

Ketidakhadiran Portman dalam seremoni Genesis Prize, menurut panitia pada Kamis (26/4) lalu, disebabkan oleh ketidaknyamanan Portman atas “kejadian baru-baru ini di Israel”—merujuk pada pemberangusan protes-protes orang Palestina di perbatasan Gaza beberapa minggu terakhir yang menewaskan puluhan warga setempat.


Pihak Yayasan mengaku “sangat kecewa” terhadap keputusan Portman dan menyatakan akan membatalkan acara sebab “takut sikap Portman mendorong politisasi atas inisiatif filantropis yang mereka lakukan.”

Reaksi keras segera muncul. Parlemen Israel, Knesset, menuntut kewarganegaraan Portman dicabut. Kemudian, Oren Hazan dari Partai Likud mengatakan Portman adalah “Yahudi anti-Semit” yang telah "melampaui batas dengan menyerang Israel.”

Sementara Menteri Kebudayaan Israel, Miri Regev, menyebut Portman “telah terseret oleh barisan pendukung Boycott, Divestment, Sanctions (BDS).”

BDS adalah sebuah kampanye global yang memperjuangkan pengakhiran pendudukan dan kolonisasi Israel terhadap Palestina.

Tapi ada pula yang bersimpati pada Portman. Sineas Israel, David Shadi, menyatakan bahwa pelabelan anti-Semit kepada Portman “sangat keterlaluan". Rachel Azaria, legislator dari sebuah partai yang berkoalisi dengan Netanyahu menerangkan bahwa keputusan Portman untuk tidak hadir di Genesis Prize adalah “lampu merah" bagi pemerintah Israel.

Kecaman Natalie Portman sebagai "anti-semit" memang kebablasan, apalagi jika itu keluar dari mulut Oren Hazan. Bukankah rekan separtainya, Benyamin Netanyahu, awal April ini menyambut kemenangan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban yang nyata-nyata ultra-kanan dan anti-semit?


Respons positif untuk Portman juga diungkapkan oleh gerakan BDS. Beberapa jam usai pihak panitia mengumumkan Portman tidak hadir di acara penganugerahan, situs resmi BDS segera buru-buru menerbitkan tulisan berjudul “Natalie Portman Rejects Israel Prize in Light of its Crimes in Gaza.” Dalam artikel tersebut ditegaskan, kebrutalan pasukan Israel di Gaza telah membuka kesadaran tokoh budaya Israel-Amerika macam Portman untuk menolak segala bentuk kejahatan Israel.

Portman sendiri menulis klarifikasi lewat akun Instagram-nya. Ia menegaskan bahwa ketidakhadirannya di acara Genesis Prize didorong faktor “tak ingin tampil sebagai pendukung [PM Israel] Benjamin Netanyahu yang bakal memberikan pidato di acara tersebut.” Ia juga menambahkan bahwa ia “bukan bagian dari gerakan BDS dan tidak mendukungnya.”

“Seperti banyak orang Israel dan Yahudi di seluruh dunia, saya bisa bersikap kritis terhadap pemimpin Israel tanpa harus memboikot semua orang Israel,” jelasnya. “[…] tapi, penganiayaan terhadap mereka yang didera kekejaman hari ini tak sejalan dengan nilai-nilai Yahudi yang saya anut. Karena peduli dengan Israel, saya harus menentang kekerasan, korupsi, ketidaksetaraan, dan penyalahgunaan kekuasaan.”


Cinta yang Luntur?


Portman lahir di Yerusalem pada 1981 dari ayah Israel dan ibu Amerika. Keluarga ayahnya adalah keturunan imigran Rusia, Polandia, Austria, dan Rumania yang pindah ke Israel. Ia dibesarkan bersama kisah-kisah tentang pengalaman kakek-neneknya selama Holocaust.

Di usianya yang ketiga, Portman pindah ke Amerika guna menemani sang ayah yang sedang mengikuti program residensi sekolah kedokteran. Kendati tinggal di Amerika, bahasa ibunya adalah bahasa Ibrani.

Pengalaman dan kebiasaan hidup seperti itulah yang membuatnya sangat mencintai Israel. Portman tak malu mengekspresikan kecintaannya kepada Israel meski negara itu banyak dikritik karena aksi pendudukan di Palestina dan kekerasan aparat yang membuat orang-orang Palestina menderita.

“Aku beruntung dilahirkan di Israel,” katanya pada 2015.


Ketika kuliah di Harvard pada 1999-2003, ia sempat bekerja sebagai asisten peneliti Alan Dershowitz, Profesor Harvard Law School, ketika menyusun The Case of Israel (2003). Dershowitz sendiri dikenal sebagai seorang pengacara sekaligus propagandis Israel. Kontribusi Portman di buku itu dicatat dengan nama aslinya: Natalie Hershlag.

Tale of Love and Darkness (2015), film pertama yang disutradarai Portman pun adalah adaptasi dari memoar novelis Israel Amos Oz. Lewat memoar itu, Oz berupaya meluruskan mitos dan realitas seputar kelahiran Israel (1945-1950) yang baginya “menyakitkan dan penuh siksaan.”

Tale of Love and Darkness menuai beragam respons. Tapi satu hal yang tidak terhindarkan: gara-gara film ini, Portman dianggap mengabaikan trauma masyarakat Palestina.

Namun perlahan-lahan Portman mulai buka terbuka mengkritik Israel. Jauh sebelum menolak datang ke malam penghargaan Genesis Prize, pada 2015 Portman mengatakan kepada Hollywood Reporter bahwa ia “sangat kecewa” dengan terpilihnya kembali Netanyahu yang dianggapnya pemimpin rasis.

Yahudi Amerika Semakin Kritis

Dalam “How Natalie Portman Became the Latest Israel-Palestine Flashpoint” yang dipublikasikan Vox, Zack Beauchamp menyebut bahwa pernyataan Portman menunjukkan perbedaan sikap politis antara orang Yahudi Israel dan Yahudi Amerika. Yahudi Israel, jelasnya, lebih konservatif dibanding Yahudi Amerika.

Indikatornya, meski Israel punya tradisi politik kiri yang panjang dan kuat, setelah proses perdamaian pada 1990-an, Israel semakin bergerak ke kanan (Partai Buruh Israel yang berhaluan kiri-tengah terakhir memenangkan pemilu pada 1999).

Hasilnya, catat Beauchamp, semakin banyak Yahudi Amerika melihat Israel sebagai negara yang menduduki wilayah Palestina. Selain semakin berjarak, Yahudi Amerika yang didominasi anak-anak muda seperti Portman juga skeptis atas arah politik Israel.


Catherine Rottenberg, profesor tamu dari Goldsmiths, University of London, dalam “Why Natalie Portman is Not the Real Story” yang terbit di Al Jazeera menyatakan bahwa kasus Portman bukanlah perkara yang harus diperhatikan secara serius.

Alih-alih, hal yang perlu direspons secara saksama, tulis Rottenberg, ialah aksi brutal pasukan Israel menembaki kelompok demonstran damai Palestina di Gaza selama beberapa minggu terakhir. Sejauh ini, jumlah korban yang tewas mencapai hampir 40 orang.

Namun, Rottenberg juga tak menampik bahwa kasus Portman semakin menunjukkan tren perubahan cara pandang Yahudi Amerika tentang konflik Israel-Palestina. "Jika dulu AIPAC adalah kelompok lobi Yahudi terkuat di AS, kini muncul sejumlah organisasi [Yahudi] seperti J-Street sampai Jewish Voice for Peace yang berhasil menepis beberapa propaganda AIPAC," demikian Rottenberg.

Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL PALESTINA atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf
DarkLight