Murah, Mewah, dan Gaya Berkat Busana Sewaan

Penulis: Joan Aurelia - 15 Agu 2018 11:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Jasa penyewaan busana juga bisa membantu mengurangi dampak buruk produksi fast fashion.
tirto.id - Perempuan mana yang tidak spontan terkejut saat menerima kabar bahwa dia bisa mengenakan busana karya Karl Lagerfeld, Tex Saverio, dan Ralph Lauren hanya dengan mengeluarkan uang sekitar Rp590 ribu per bulan. Hal ini mungkin terjadi bila seseorang jadi anggota Style Theory, sebuah situs penyewaan busana. Saat ini mereka sedang melakukan promosi demi menarik konsumen Indonesia. Style Theory didirikan pada 2016 di Singapura dan membuka cabang di Indonesia pada akhir 2017.

Situs penyewaan baju ini didirikan oleh Raena Lim dan Chris Halim. Dalam wawancara dengan The Strait Times, Raena berkata bahwa dia hobi belanja pakaian dan aksesori. Hobi tersebut mengakibatkan begitu banyak baju menumpuk dan "menganggur" di lemarinya. Dalam hitungan tahun, banyak sekali busana yang tak pernah dia pakai. Raena terperangkap pada permasalahan klasik orang yang hobi belanja: selalu merasa tidak punya baju dan terus membeli baju baru.

Ia lantas memutuskan untuk mendirikan bisnis penyewaan baju. Awalnya wanita ini punya 900 baju yang siap disewakan. Beberapa saat setelah diluncurkan, Style Theory menarik 150 pelanggan. Dalam kurun waktu kurang dari setahun, usaha Raena dan Chris mendapat 1.000 pelanggan dan menyediakan 8.000 helai busana dari 90 label fesyen. Di Singapura, mereka mematok biaya sewa 129 dolar per bulan untuk pelanggan. Para pelanggan bisa memilih tiga baju sekali pesan dan bisa menukar baju kapanpun bila sudah bosan.


Target pelanggan Style Theory ialah wanita bekerja berusia 20-40 tahun. Melissa Heng, jurnalis Strait Times mewawancara Olivia Victoriana, salah satu pelanggan Style Theory. Olivia, 26 tahun, biasanya menghabiskan 60-80 dolar setiap minggu untuk berbelanja baju. Dia berkisah bahwa selama menjadi anggota Style Theory, dia mendapat empat baju dalam sekali pemesanan dan menggantinya setiap minggu.

Di Singapura, cerita manis soal bisnis sewa baju tak hanya datang dari Style Theory. Strait Times juga menulis kisah Covetella, Rent A Dress, Runway Rent, dan Style Lease. Sebagian d iantaranya didirikan oleh wanita hobi belanja seperti Ranea. Covetella, misalnya, didirikan oleh Carol Chen, seorang selebritas dan sosialita. Seperti Raena, dia pun bahagia karena merasa masyarakat Singapura sudah bisa memahami dan mempraktikkan sistem penyewaan busana untuk bergaya.

Seiring waktu, bisnis penyewaan busana dipandang sebagai usaha potensial. Allied Market Research sempat melakukan penelitian tentang proyeksi bisnis ini hingga 2023. Hasil riset menunjukkan penyewaan busana jadi salah satu opsi menarik bagi para individu pecinta gaya yang belum punya cukup uang untuk membeli produk fesyen yang mereka inginkan. Produk fesyen tersebut mencakup busana sehari-hari seperti atasan dan celana, gaun pesta, hingga busana pernikahan. Setiap jasa penyewaan punya pembagian kategori busana tersendiri yang didasarkan pada jenis acara atau nuansa baju.

Penelitian itu turut menyebut bahwa minat terhadap jenis usaha penyewaan busana dan aksesori masih akan terus berkembang. Penyebab utamanya ialah kemudahan dalam mengakses produk retail secara online. Terjadinya perubahan tren kepemilikan barang fesyen juga turut mempengaruhi keberlangsungan bisnis ini. Publik tidak lagi malu untuk tampil gaya dengan barang sewaan. Fenomena ini paling lazim terjadi di kawasan Amerika Utara. Diprediksi, nilai bisnis ini akan mencapai 1,8 miliar dolar pada 2023.

Infografik Sewa menyewa Baju


Bisa dikatakan Amerika Serikat ialah salah satu pelopor tren penyewaan busana. Pada tahun 2009, muncul Rent The Runway, usaha sewa busana yang didirikan oleh Jennifer Hyman dan Jennifer Fleiss. Ide usaha datang setelah Hyman melihat adiknya membeli busana karya desainer terkenal seharga ribuan dolar dan hanya dipakai satu kali.

Hyman menyadari bahwa situasi di sekitarnya mempengaruhi keinginan orang untuk tampil gaya meski sebetulnya mereka tidak punya penghasilan yang cukup untuk bergaya sesuai harapan. Ia memanfaatkan peluang tersebut. Kepada Fortune ia berkata bahwa dirinya ingin membuat para wanita bagai Cinderella. Awalnya, ide ini tidak disukai oleh para desainer. Hyman harus berupaya meyakinkan para desainer bahwa Rent The Runway sanggup membuat label busana meraih target pasar yang lebih luas. Dengan itu, Hyman bisa mendapatkan barang-barang untuk disewakan.

Kini perusahaan tersebut menyediakan 450 label busana fesyen yang siap disewakan. Harga sewa satu busana dimulai dari 30 dolar untuk jangka waktu empat hari. Pelanggan Rent The Runway akan diperlakukan lebih spesial. Mereka bisa menyimpan barang sewaan sesuka hati selama mereka membayar uang sewa bulanan yang berjumlah sekitar 100 dolar.

Tahun ini perusahaan tersebut mengalami beberapa hal menyenangkan. Jack Ma, pendiri Alibaba menginvestasikan uang di Rent The Runway. Perusahaan tersebut juga baru membuka kantor pusat teranyar yang berlokasi di Manhattan.

Ketertarikan para investor dalam bisnis ini terjadi pula di Australia. Tahun lalu Glam Corner, salah satu bisnis penyewaan busana mendapat modal sebesar 4,2 juta dolar. Situs ini menyediakan beberapa busana premium seperti Dolce & Gabbana, Saint Laurent, Valentino, Victoria Beckham, Stella McCartney, Alexander wang, dan Lanvin. Dean Jones, pendiri Glam Corner berkata bahwa usahanya mengalami pertumbuhan yang signifikan sepanjang 2016-2017. Jones yakin bahwa hal yang dilakukannya akan jadi pelopor perubahan perilaku belanja para penikmat fesyen di Australia.

Di Asia, bisnis sewa busana tidak hanya ada di negara-negara yang penduduknya gemar bergaya seperti Jepang dan India. Jasa penyewaan busana ini ada juga di Cina. Di sana setidaknya sudah ada tiga jasa penyewaan yakni Dora’s Dream, MSParis, dan Ycloset. Nama yang disebut terakhir menyediakan penyewaan busana dengan merek Prada, Miu Miu, Kenzo, hingga Acne Studios. Doris Ke, Marketing and Public Relation Director Ycloset berkata bahwa tidak mudah menemukan busana berkualitas yang dijual di negara tersebut. Di sisi lain, tidak semua orang mampu membeli busana berkualitas dari label impor.

“Saya rasa ini masalah besar,” katanya.

Terlepas dari seberapa menguntungkannya bisnis ini, jasa penyewaan busana bisa dijadikan salah satu cara untuk membantu meminimalisir dampak buruk produksi busana fesyen. The Conversation pernah menulis artikel tentang busana-busana produksi fast fashion yang akhirnya terbuang sia-sia. Penyewaan busana setidaknya bisa memperpanjang usia sebuah busana dan mengurangi sampah pakaian yang menumpuk, dan tentu saja membuat penggunanya tetap gaya tanpa perlu mengeluarkan banyak uang.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight