Menuju konten utama
Sisi Konyol Revolusi Indonesia

Mortir Belanda Kena Tinja: Kisah Konyol Soegih Arto di Era Revolusi

Revolusi Indonesia bukan melulu soal heroisme. Soegih Arto adalah salah satu orang yang mau jujur atas hal konyol di masa itu.

Mortir Belanda Kena Tinja: Kisah Konyol Soegih Arto di Era Revolusi
Ilustrasi Soegih Arto. tirto.id/Sabit

tirto.id - Suatu kali datanglah kiriman mortir buatan dalam negeri ke sebuah tangsi batalion. Rasa bangga tentu muncul. Di zaman Revolusi yang serba sulit, bangsa Indonesia sudah bisa bikin mortir. Lumayan untuk melawan Belanda. Sorenya, Kapten Soegih Arto selaku komandan batalion memerintahkan untuk uji coba mortir made in Republik itu.

Letnan Olih, ajudan Soegih Arto, mengajukan diri untuk mencoba. Setelah Soegih Arto memberi izin, Olih pun bersiap. Lalu Soegih Arto berteriak: "Siaaap, tembaaaak!"

Selepas peluru ditembakkan, terdengar letusan diiringi asap tebal mengepul. Letnan Olih terjatuh dan kepalanya hilang karena kena ledakan mortir. Soegih Arto, yang ketika uji coba berada di sebelah mortir, tidak apa-apa. Namun anak-anak yang berdiri dari jauh untuk menonton malah mendapat luka. Seperti diakuinya dalam pembukaan tulisannya di buku Bunga Rampai Perjuangan & Pengorbanan Jilid I (1995: 565), Soegih Arto kemudian memutuskan untuk tidak memakai senjata dalam negeri tersebut.

Seperti kebanyakan veteran Revolusi Indonesia yang sudah kesohor, apalagi sudah jadi jenderal, Soegih Arto diberi kesempatan berbagi cerita soal pengalamannya di masa Revolusi. Sebagai mantan guru, Soegih Arto, yang punya kesadaran bahwa dirinya hanya segelintir dari sekian banyak orang yang ikut berjuang, masih menyimpan kerendahan hati.

Saya merasa geli juga waktu diminta untuk menulis riwayat perjuangan saya. Bukan apa, tetapi rasanya perjuangan saya tidak banyak artinya,” tulis Soegih Arto di buku terbitan Legiun Veteran Republik Indonesia itu (hlm. 545).

Dalam buku tersebut, Soegih Arto bercerita sedikit soal keluarganya, tentang pengalaman menghadapi Kapten Westerling, soal anak buahnya yang ikut DI/TII Kartosuwiryo, dan tentang bagaimana rasanya jadi tawanan Belanda. Tak lupa, dia juga berbagi cerita kocak dan menggelikan yang terkait dengan dirinya sendiri.

Daripada menceritakan pengalaman tempur yang tidak begitu mengesankan lebih baik saya sampaikan anekdot atau cerita ringan, mengenai pengalaman saya,” tulisnya (hlm. 563-564).

Deposito Buang Hajat

Soegih Arto tidak lupa suatu peristiwa pada 1945 ketika tentara Sekutu bertempur dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di sekitar Bandung. Waktu itu pesawat musuh melintas dan menembaki kubu Soegih Arto. Bukan tangannya yang sontak ambil senjata, tapi, lantaran diselimuti ketakutan, perutnya mendadak sakit dan ingin buang air besar.

Sebagai orang terpelajar, Soegih Arto tidak bisa buang hajat ala kucing dengan sekadar gali tanah. Di belakang sebuah rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya, Soegih Arto, yang masih 21 tahun waktu itu, menemukan sebuah ember kosong. Tak pikir panjang, dia pun ambil itu ember dan menjadikannya alat buang hajat.

“Saya laksanakan keinginan saya itu dan didepositokan di ember,” akunya.

Setelah hajat terlaksana, Soegih Arto lalu membersihkan diri seperti lazimnya dilakukan umat Islam. Ketika itulah tembakan mortir jatuh tepat di ember tempat hasil buang hajatnya, yang ia sebut pupuk alamiah. “Ember dan isinya berserakan dan halaman penuh dengan pupuk alamiah. Saya mengucap syukur dan berfikir: coba kalau saya masih di ember itu, maka saya jadi pupuk juga.”

Di hari lainnya, sekitar akhir 1945, waktu menyerang markas Kempeitai di Bandung, Soegih Arto bertindak sebagai penembak senapan mesin. Di sekitar Jalan Dago, tembakan dilancarkan dengan gencar, tapi serdadu-serdadu Jepang yang nekat malah bergerak maju. Ketika makin dekat dengan posisi kubunya, Soegih Arto dan lainnya memilih mundur.

“Karena gugupnya saya terjatuh dan membentur batu tajam. Darah mengalir, yah, agak banyak juga, sehingga kemeja saya merah,” kenangnya.

Soegih Arto dan kawan-kawan mengungsi ke sebuah SMP di Jalan Jawa. Kebetulan banyak gadis-gadis yang segera menolongnya. Ketika ditanya apa dirinya kena tembakan peluru, Soegih Arto diam saja. “Saya mendapat perawatan yang aduhai, padahal luka saya hanya disebabkan gugup lalu mengenai batu tajam.”

Dalam sebuah patroli, Soegih Arto dan rombongannya kurang makan tiga hari berturut-turut. Mereka hanya bisa makan buah yang tak bikin kenyang. Ketika berhenti di sebuah desa, mereka harus kecewa dan lapar mereka berlanjut karena desa itu miskin. Mereka pun hanya numpang istirahat. Ketika istirahat itu, seekor kelinci melintas di bawah kolong rumah warga. Mata para anggota pun berkedip sebagai kode untuk menyikat kelinci malam itu juga.

“Alir liur mulai mengalir. Malam itu tanpa ampun, saya masuk kolong lalu memukul kelinci itu, lantas dipotong, disisit kulitnya dibakar dan akhirnya…. Lezaaat,” tutur Soegih Arto.

Setelah santap malam lezat itu, mereka tertidur. Begitu bangun mereka dapat kejutan. Rupanya, santapan semalam bukanlah kelinci, melainkan kucing.

Infografik Soegih Arto

Infografik Soegih Arto. tirto.id/Sabit

Dari Dubes hingga Jaksa Agung

Setelah pengakuan kedaulatan pada 1949, Soegih Arto melanjutkan karier di militer. Pada 1950-an dia pernah menjadi komandan resimen di Bandung Selatan merangkap Komandan KMKB Bandung. Sekolah militer bergengsi yang pernah diikuti lulusan sekolah guru Holland Inlandsche Kweekschool ini adalah Hoogare Krijgschool di Den Haag.

Setelah ditempatkan di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat sebagai Kepala Staf hingga 1956, seperti ditulis Abdul Haris Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Masa Pancaroba Kedua (1984: 15 & 69), Mayor Soegih Arto ditempatkan di Medan sebagai Komandan Garnizun. Di sana dia menghadapi intrik antarperwira dan bertahan hingga 1958 ketika PRRI bergejolak. Seperti diakuinya, Soegih Arto sempat jadi tahanan dalam kerusuhan itu.

Tahun berikutnya, Soegih Arto ikut kursus atase dan kemudian menjadi Konsul Jenderal di Singapura. Dia berada di sana sejak 1959 hingga diusir pemerintah setempat pada 1963 karena Konfrontasi Malaysia.

Setelah sempat jadi Duta Besar RI di Birma antara 1964-1965, dirinya kemudian ditarik kembali ke militer. Jabatannya antara 1965-1966 adalah Asisten I/Intelijen Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad).

Sejak 1966 hingga 1974, pada dekade pertama Orde Baru, Soegih Arto diangkat menjadi Jaksa Agung RI. Setelahnya dia jadi duta besar lagi di India dari 1974 hingga 1977. Pada 1979 dia pensiun dari militer. Sebagai veteran, Soegih Arto pernah menjadi Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Petrik Matanasi

tirto.id - Humaniora
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan