tirto.id - MMA Global menegaskan peran strategisnya bukan hanya sebagai wadah pertemuan para C-Level di industri marketing. MMA Global juga menegaskan diri sebagai laboratorium gagasan lewat sejumlah think tank yang dirancang untuk membantu para anggotanya merespons perubahan industri marketing dan advertising.
Hal ini ditegaskan dalam Executive Dialogues 2025 yang digelar di Jakarta, Selasa (26/8), di mana puluhan pimpinan C-level dan pemimpin bisnis bertukar pikiran soal arah masa depan industri.
Sejak beberapa tahun terakhir, MMA membangun empat think tank utama: MATT (Marketing Attribution Think Tank), MOSTT (Marketing Organisation Structure Think Tank), DATT (Data Think Tank), serta ALC (AI Leadership Coalition).
Keempatnya menjadi ruang kolaborasi antara anggota, akademisi, hingga pakar industri untuk menguji kerangka kerja, menyusun metodologi, dan menghasilkan model yang bisa direplikasi secara global. Hasil dari uji coba awal telah menunjukkan peningkatan signifikan, mulai dari laba atas belanja iklan digital hingga ratusan persen, sampai struktur organisasi marketing yang lebih adaptif terhadap tantangan era digital.
Rohit Dadwal, CEO MMA Global APAC sekaligus Global Head of SMARTIES Worldwide, menekankan bahwa peran MMA bukan sekadar memberi panduan jangka pendek, melainkan menyiapkan fondasi bagi industri dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
"Prioritas kami adalah bekerja untuk masa depan industri advertising. Seperti yang saya bilang, kami tidak berusaha memecahkan masalah hari ini. Kami tidak berusaha memecahkan masalah esok hari. Kami akan berusaha memecahkan masalah tiga tahun yang akan datang," ujarnya.
Menurut Rohit, salah satu masalah di masa depan adalah orang-orang fokus pada penjualan dan performa merek. Masalah kreativitas semakin ditinggalkan. Maka hasilnya, ujar Rohit, loyalitas pada merek perlahan menghilang.
"Tahu gak kenapa hal ini terjadi? Karena tidak ada yang membangun brand. Semuanya fokus ngomongin performa transaksi bisnis," tuturnya.
Menurut Rohit, hal ini bukan perkara bernar atau salah. Semuanya tergantung prioritas, jenis bisnis, agenda pertumbuhan, dan banyak skala prioritas masing-masing. Namun, dalam dunia advertising dan marketing, cerita yang utuh dan satu kesatuan tetap menjadi hal fundamental.
"Kita harus punya brand. Harus ada keterikatan. Harus bisa mendorong penjualan. Harus pula berkembang. Itulah fungsinya advertising dan marketing," tambah Rohit.
Dengan pendekatan ini, marketer yang mengikuti program percontohan think tank ini melaporkan peningkatan signifikan. Laba atas belanja iklan digital tercatat antara 137% hingga 259%, dengan tambahan 15% pada total anggaran marketing.
Peningkatan kemampuan tim juga mendorong kenaikan pendapatan hingga 10%. Sementara strategi segmentasi yang lebih presisi meningkatkan performa kampanye sebesar 50–100%. Bahkan, struktur marketing berbasis kinerja terbukti mampu mendongkrak penjualan hingga 2,5%.
Sebagai forum marketing dan advertising, MMA juga menegaskan keunikannya dibanding asosiasi lain. Hal ini tak lepas dari ekosistemnya yang mencakup marketer, agensi, penerbit, hingga akademisi. “Tidak ada satu pihak pun yang bisa melakukan ini sendirian. MMA hadir untuk membangun masa depan industri dengan wawasan dan kerangka kerja berbasis data, bukan sekadar opini,” lanjut Rohit.
Shanti Tolani, Country Head dan Board Director MMA Global Indonesia, menyoroti pentingnya kolaborasi lebih erat antaranggota untuk memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia.
“Kami butuh dukungan para pimpinan tim dan mitra untuk bekerja bersama. Mungkin kita perlu berkumpul kembali, atau melakukan panggilan bulanan. Apa pun bentuknya, yang jelas kami sudah memiliki 3-4 laporan industri setiap tahun, data insights, serta Smarties winning case study hub yang bisa diakses anggota,” ujarnya.
Menurut Shanti, seluruh fasilitas itu bisa dimanfaatkan anggota untuk belajar dari kampanye terbaik, mengikuti forum, konferensi, hingga klub kepemimpinan. “Anda punya akses, punya masukan, punya semuanya. Tinggal bagaimana kita bisa memaksimalkan dan bekerja bersama agar industri ini lebih maju,” katanya. Ia juga mendorong anggota agar aktif memberi masukan tentang aspek baru yang perlu disentuh MMA, baik untuk industri, pemerintah, maupun dewan pengurus.
Saat membuka acara, Ketua MMA Global Indonesia Sutanto Hartono menegaskan bahwa Executive Dialogues adalah inisiatif strategis untuk mentransformasi para pakar lokal menjadi aset kompetitif di tengah lanskap industri yang terus berubah. Dengan proyeksi investasi ekonomi digital Indonesia mencapai USD130 miliar pada 2025, atau setara 44 persen pasar digital Asia Tenggara, kebutuhan akan perangkat yang mampu memberikan ROI terukur secara waktu nyata menjadi semakin mendesak.
Executive Dialogues 2025 pun menegaskan kembali fungsi MMA: menjadi pusat gravitasi bagi industri marketing untuk menyatukan gagasan, menguji pendekatan baru, dan menyiapkan standar global. Lewat think tank yang mereka kembangkan, MMA berupaya menghadirkan kepastian terukur di tengah industri yang kerap berubah cepat.
Editor: Tim Media Service
Masuk tirto.id




































