tirto.id - Apa yang sebenarnya dapat kita pelajari dari gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026?
Gempa yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo itu terjadi pada kedalaman sekitar 15 kilometer dan memicu peringatan dini tsunami. Gelombang tsunami memang tidak besar, tetapi terukur di sejumlah tempat, termasuk Sikka dan Pelabuhan Kewapante. Yang lebih mengkhawatirkan, ribuan gempa susulan terus mengguncang Flores dalam beberapa hari berikutnya.
Peristiwa ini bukan sekadar tragedi di Nusa Tenggara Timur. Ia mengingatkan kita pada satu kenyataan yang kerap terlupakan bahwa bumi tidak selalu berperilaku seperti peta bahaya yang kita buat, apalagi mengikuti batas-batas zona yang kita bayangkan.
Peringatan itu seharusnya mendapat perhatian lebih serius ketika kita melihat ke Selatan Jawa. Proyeksi data demografi mikro Badan Pusat Statistik menunjukkan setidaknya 28,2 juta jiwa akan menetap di pesisir Selatan Jawa pada tahun 2030.
Lonjakan populasi ini berjalan seiring dengan masifnya pengembangan simpul perekonomian dan pariwisata di koridor selatan Jawa. Wilayah ini bukan hanya menempatkan puluhan juta manusia dalam satu kawasan yang memiliki potensi bahaya gempa dan tsunami, tetapi juga menempatkan aset ekonomi bernilai sangat besar pada jalur risiko yang sama.
Pengalaman Aceh 2004 dan Tohoku 2011 menunjukkan bahwa ketika bencana besar bertemu dengan konsentrasi penduduk dan infrastruktur modern, persoalannya tidak lagi semata-mata berapa banyak bangunan yang roboh, melainkan seberapa besar guncangan tersebut dapat mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi dalam skala yang jauh lebih luas.
Persoalannya, bagaimana seharusnya kita membaca ancaman itu?
Selama ini, pembicaraan mengenai gempa besar di Indonesia kerap dibingkai dengan istilah seismic gap—zona patahan aktif yang telah relatif lama tidak mengalami gempa besar. Dari sini muncul logika yang tampak sederhana yaitu semakin lama sebuah segmen diam, semakin besar energi yang dianggap telah terakumulasi, dan semakin dekat pula kemungkinan terjadinya gempa besar.
Logika semacam ini memang membantu kita mengenali wilayah yang perlu mendapat perhatian. Namun ia menjadi bermasalah ketika berubah dari sebuah konsep untuk memahami perilaku kegempaan menjadi seolah-olah sebuah jam penghitung mundur. Gempa Flores kembali mengingatkan kita bahwa mengenali sumber bahaya tidak sama dengan mengetahui kapan gempa akan terjadi.
Di sinilah persoalan seismic gap perlu dilihat dengan lebih hati-hati. Konsep ini lahir dari upaya mencari keteraturan dalam sejarah gempa bumi. Namun bumi tidak bekerja seperti kalender yang akan mengembalikan gempa setelah suatu jangka waktu tertentu.
Segmen yang telah lama tidak mengalami gempa besar memang dapat menyimpan akumulasi tegangan, tetapi lamanya suatu segmen berada dalam keadaan relatif tenang tidak dengan sendirinya memberikan kepastian tentang kapan gempa berikutnya akan terjadi, seberapa besar magnitudonya, maupun seberapa jauh patahan akan merambat.
Karena itu, persoalannya bukan apakah seismic gap sama sekali tidak berguna. Persoalannya adalah ketika konsep tersebut diperlakukan sebagai ramalan yang terlalu pasti terhadap masa depan.
Selatan Jawa dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Mari beranjak kembali ke Selatan Jawa. Sejumlah pemodelan memang menunjukkan bahwa kawasan ini berpotensi mengalami tsunami yang sangat besar. Widyantoro dan rekan-rekannya, misalnya, memodelkan skenario terburuk ketika dua segmen megathrust Selatan Jawa mengalami rupture secara bersamaan.
Dalam skenario tersebut, tinggi tsunami dapat mencapai sekitar 20 meter di Jawa Barat dan 12 meter di Jawa Timur. Angka-angka ini sangat penting bagi perencanaan mitigasi, tetapi perlu dibaca sebagaimana mestinya yaitu sebagai hasil suatu skenario, bukan ramalan tentang tsunami yang pasti akan terjadi. Tantangan ilmiahnya bukan menghapus angka tersebut karena dianggap terlalu besar, melainkan memahami seberapa mungkin setiap skenario terjadi dan seberapa luas ketidakpastian yang menyertainya.
Persoalannya menjadi semakin rumit ketika kita melihat pengalaman tsunami di sepanjang Selatan Jawa. Tsunami Banyuwangi 1994 dan Pangandaran 2006 menunjukkan bahwa besarnya tsunami tidak selalu dapat dibaca dengan sederhana dari magnitudo gempa atau dari lamanya suatu segmen berada dalam keadaan tenang.
Pangandaran 2006, khususnya, dikenal sebagai tsunami earthquake, yaitu gempa yang menghasilkan tsunami relatif besar dibandingkan dengan kuatnya guncangan yang dirasakan masyarakat di daratan.
Di sinilah persoalan pemodelan bahaya menjadi menarik. Kita tentu membutuhkan model untuk memperkirakan kemungkinan tinggi tsunami, jangkauan genangan, waktu tiba gelombang, dan wilayah yang harus dievakuasi.
Tanpa model, kita tidak memiliki dasar yang cukup untuk mempersiapkan masyarakat. Tetapi model bukanlah jendela untuk melihat masa depan secara pasti. Ia adalah cara untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan berdasarkan pengetahuan yang tersedia saat ini.
Karena itu, semakin besar ketidakpastian mengenai perilaku sumber gempa, semakin penting pula kita mencari bukti dari masa lalu. Bukan untuk meramalkan tanggal gempa berikutnya, melainkan untuk mengetahui bahwa peristiwa serupa pernah terjadi, bagaimana karakteristiknya, dan seberapa jauh dampaknya menjangkau daratan.
Membaca Arsip Alam dan Budaya Jawa
Salah satu sumber pengetahuan yang sering luput dari perhatian adalah ingatan masyarakat yang tersimpan dalam arsip budaya.
Dalam konteks Jawa, misalnya, Serat Sri Nata memuat kisah tentang peristiwa alam luar biasa yang oleh masyarakat masa lalu diwariskan dalam bentuk bahasa puitis. Di dalamnya terdapat rangkaian gambaran tentang laut yang bergolak hebat, air yang berubah menjadi sangat dahsyat, makhluk-makhluk laut yang terhempas, dan daratan yang seolah berubah oleh gerakan air. Rangkaian deskripsi tersebut menarik karena memiliki sejumlah kemiripan dengan fenomena yang dilaporkan masyarakat ketika tsunami terjadi.
Tentu saja, kesamaan semacam itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Serat Sri Nata adalah catatan ilmiah tentang tsunami. Namun justru di situlah nilai pentingnya. Teks tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman terhadap bencana alam dapat bertahan dalam ingatan kolektif, bahkan ketika bahasa ilmiah yang kita gunakan sekarang belum pernah dikenal oleh masyarakat yang mengalaminya.
Ingatan semacam itu tidak boleh ditempatkan sebagai pengganti sains. Ia justru dapat menjadi petunjuk bagi sains. Apa yang diwariskan melalui cerita, naskah, nama tempat, tradisi, atau ingatan masyarakat dapat membantu kita menemukan pertanyaan yang kemudian diuji dengan arsip alam. Jika sebuah cerita menggambarkan laut yang tiba-tiba surut, air yang datang dengan kekuatan luar biasa, atau perubahan bentang alam setelah suatu peristiwa, pertanyaan ilmiahnya menjadi jelas yaitu adakah jejak geologis yang dapat menguji cerita tersebut? Dengan cara seperti ini, arsip budaya dan arsip alam tidak perlu dipertentangkan.
Keuntungan Selatan Jawa justru terletak pada keragaman arsip alam yang tersedia. Berbeda dengan sebagian wilayah Mentawai yang memiliki formasi koral mikroatol yang sangat baik untuk merekam perubahan muka daratan akibat gempa, sebagian besar pesisir Selatan Jawa didominasi pantai terjal dan tebing.
Kondisi ini memang membatasi penggunaan mikroatol sebagai arsip utama, tetapi bukan berarti sejarah deformasi bumi di kawasan ini telah hilang. Rekaman perubahan lingkungan masih dapat tersimpan dalam berbagai bentuk. Lingkaran pertumbuhan stalaktit dan stalagmit di gua-gua karst dapat merekam perubahan lingkungan yang berkaitan dengan gangguan besar, sementara pengangkatan atau penurunan daratan secara tiba-tiba dapat meninggalkan jejak pada stratigrafi sedimen dan undak-undak pantai. Tantangannya adalah menemukan, membaca, dan menguji satu arsip dengan arsip lainnya.
Di sepanjang pesisir Selatan Jawa, tanda-tanda seperti itu mulai terungkap. Penelitian BRIN telah menemukan lapisan sedimen yang ditafsirkan sebagai jejak tsunami purba di sejumlah lokasi, membentang dari Lebak hingga Kulon Progo.
Lapisan-lapisan tersebut penting bukan karena dapat meramalkan kapan tsunami berikutnya akan datang, melainkan karena memberikan bukti bahwa pantai Selatan Jawa pernah mengalami peristiwa-peristiwa tsunami pada masa ketika belum ada catatan instrumental maupun sejarah tertulis yang memadai. Jika lapisan-lapisan itu dapat ditelusuri umur, sebaran, dan karakteristiknya secara lebih rinci, kita dapat mulai menyusun kembali sejarah bencana yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan tanah.
Namun satu jenis bukti saja tidak cukup. Rekonstruksi sejarah kegempaan Selatan Jawa perlu mempertemukan rekaman sedimen dengan pengamatan deformasi bumi yang berlangsung sekarang. Ketika data geodesi masa kini dipertemukan dengan jejak gempa dan tsunami masa lalu, serta dibaca bersama arsip budaya masyarakat pesisir, kita tidak memperoleh ramalan tentang kapan gempa akan datang. Kita memperoleh sesuatu yang lebih jujur dan lebih berguna bagi mitigasi yaitu gambaran tentang rentang kemungkinan yang harus dipersiapkan.
Semua pengetahuan tersebut pada akhirnya harus diterjemahkan ke dalam cara baru membangun kebijakan mitigasi. Kita tidak perlu membuang model tsunami, peta bahaya, ataupun konsep seismic gap. Yang perlu diubah adalah cara kita memperlakukannya.
Model harus dibaca sebagai kumpulan skenario, bukan sebagai ramalan. Seismic gap dapat menjadi salah satu informasi untuk mengenali sumber bahaya, tetapi tidak boleh berubah menjadi jam penghitung mundur. Sebaliknya, sejarah gempa dan tsunami yang tersimpan dalam lapisan sedimen, deformasi daratan, rekaman geodesi, dan ingatan budaya perlu terus digunakan untuk memperluas rentang kemungkinan yang harus kita persiapkan.
Bagi Selatan Jawa, cara berpikir semacam ini bukan pilihan akademis. Di sepanjang kawasan ini telah tumbuh kota-kota, pelabuhan, kawasan industri, permukiman, dan destinasi wisata dengan konsentrasi manusia dan aset ekonomi yang terus meningkat. Kita tidak perlu menunggu sampai ilmu pengetahuan mampu mengatakan dengan pasti kapan gempa besar berikutnya akan terjadi. Justru karena kepastian itu tidak tersedia, pembangunan kesiapsiagaan harus dilakukan sekarang. Yang harus dipersiapkan bukan hanya bangunan yang lebih kuat dan sistem peringatan yang lebih cepat, tetapi juga jalur evakuasi, tata ruang, pendidikan kebencanaan, latihan berkala, kapasitas pemerintah daerah, serta masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan ketika bumi tiba-tiba berhenti memberi waktu untuk berpikir.
Pada akhirnya, persoalan gempa di Indonesia terlalu besar untuk diserahkan kepada satu lembaga, satu model, atau satu generasi. Gempa dapat terjadi di banyak bagian negeri ini, dengan karakter sumber, tingkat kerentanan, dan konsekuensi yang berbeda-beda.
Karena itu, yang kita perlukan bukan sekadar kesiapsiagaan menghadapi satu seismic gap, melainkan suatu gerakan nasional yang bekerja terus-menerus untuk mengurangi risiko di seluruh Indonesia. Saya sering menyebutnya sebagai “Perang Semesta Menghadapi Gempa”. Bukan perang melawan alam, karena gempa tidak mungkin kita kalahkan, melainkan perang melawan ketidaksiapan, ketidaktahuan, dan anggapan bahwa bencana besar masih jauh dari kita.
Flores telah kembali mengingatkan kita bahwa bumi tidak pernah berjanji untuk menunggu sampai kita siap. Pertanyaannya sekarang bukan kapan gempa besar akan datang, melainkan apakah ketika ia datang kita sudah melakukan segala yang mungkin untuk menyelamatkan manusia. []
Penulis adalah Peneliti Ahli Utama bidang geologi tsunami dan paleotsunami di Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id
































