Mitos Bus Hantu dan Alasan Orang Kecanduan Cerita Horor

Ilustrasi horor. FOTO/iStockphoto
Oleh: Widia Primastika - 28 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Setiap orang memiliki penerimaan yang berbeda terhadap kisah horor. Apa sebabnya?
tirto.id - Kisah tentang 'bus hantu' Bekasi–Bandung menjadi perbincangan populer di dunia maya pada Selasa, 25 Juni 2019. Melalui akun Instagram, seorang warganet bernama Hebbie Agus Kurnia menceritakan melakukan perjalanan dari Bekasi Timur ke Bandung dalam waktu singkat dengan menumpang sebuah bus berbau anyir. Ia mengaku tak dipungut sepeser uang pun oleh kondektur bus. Para penumpang bus, masih menurut pengakuan Hebbie, terlihat pucat dan kaku.

Google Trend hari itu menempatkan kisah Hebbie pada urutan ketujuh.

Sehari kemudian, Rabu, 26 Juni 2019, hiburan horor lain kembali mendapat tempat di Google Trend. Film Annabelle Comes Home, sekuel ketiga Annabelle dan seri keenam dari semesta The Conjuring dirilis hari itu.

Film pertama Annabelle sukses meraup pendapatan lebih dari $257 juta sementara sekuelnya mengantongi lebih dari $306 juta. Laris manis waralaba Conjuring menunjukkan bahwa hiburan horor selalu mampu menarik perhatian orang.

Bonaventura D. Genta, pemilik akun Youtube Kisah Tanah Jawa, akun yang berisi tentang misteri tempat-tempat angker, mengakui bahwa hiburan horor memang selalu mendapat tempat.

“Sebenarnya kalau kita sendiri, horor itu kan selalu menjadi makanan ya buat penonton-penonton di Indonesia, apapun kontennya [kalau] tentang horor pasti akan dimakan. Horor itu enggak pilih-pilih,” ujar pemilik akun dengan 301.000 pengikut ini.

Pernyataan Genta tentu beralasan. Video-video akun "Kisah Tanah Jawa" memang telah diakses ratusan ribu penonton.


Genta menceritakan konten yang ia bikin ini berawal dari pertemuan dirinya dengan Om Hao dan Mada ketika menulis cerita "Keluarga Tak Kasat Mata", sebuah kisah horor yang dimuat di Kaskus dan diangkat ke layar lebar.

"Kemudian setelah selesai ‘Keluarga Tak Kasat Mata’ kita kumpul, yuk bikin apa lagi, masak cuma gini-gini aja? Akhirnya ya "Kisah Tanah Jawa" berdiri sampai sekarang,” kata pria berusia 26 tahun ini.

Genta menyampaikan bahwa ide pembuatan akun berasal dari Om Hao, dan Made, dan dirinya. Genta sendiri mengaku bukan penggemar hiburan atau cerita horor.

“Aku enggak suka nonton horor, lebih suka nonton drama. Konten itu ya cuma kalau pas ngumpul aja. Dan sebenarnya saya enggak begitu suka juga, malahan kita menghindari itu karena dengan banyaknya kita menonton, nanti mempengaruhi pikiran dan gaya berpikir kita,” ungkapnya kepada Tirto, Kamis (27/6).

Tingginya minat orang Indonesia dalam mendengarkan cerita horor, mendorong Genta dkk untuk memberikan tontonan yang berbeda. Melalui kanal Youtube-nya, Genta tak ingin hanya menyajikan hiburan yang menyeramkan, tapi ia juga memberikan edukasi.

Genta mengatakan Kisah Tanah Jawa dibuat oleh tiga orang dengan latar belakang yang berbeda-beda: Om Hao menggeluti 'ilmu metafisika', Mada pecinta sejarah, dan Genta yang tak pernah percaya hal-hal mistis.

“Makanya apa yang diberikan Om Hao itu menurut metafisika, harusnya menggunakan data sejarah yang ada, sehingga sebagai orang awam, kita bisa menerima dengan logikanya,” tutur Genta.

Setelah membagikan cerita itu, baik di Kaskus maupun Youtube, tak jarang Genta mendapat umpan balik dari para penikmatnya. Di situ penonton kerap mengomentari kesamaan antara kisah mereka dan Genta.

“Jadi itu konsep yang kita pakai. Jadi "Kisah Tanah Jawa" itu enggak pernah menggurui atau memberikan sebuah ilmu pasti, jadi hanya memberikan sebuah media saja untuk mereka melakukan pembenaran atas apa yang pernah mereka alami,” katanya.

Tak Sekadar Takut

Bus berhantu, film Annabelle, cerita-cerita Genta, dan sederet hiburan horor lainnya selalu mengundang beragam reaksi. Ada yang ketakutan, tak percaya, bahkan menertawakan kisah-kisah tersebut. Efek psikologisnya pun bermacam-macam.

Studi Bruce Ballon dan Molyn Leszcz berjudul “Horror Films: Tales to Master Terror or Shapers of Trauma” (2018, PDF) mencatat peningkatan stres dan trauma yang terjadi setelah orang menonton film The Exorcist.


Ballon dan Leszcz mengategorikan Exorcist dalam film horor paranoia karena memberikan efek kecemasan paranoid dan depresif akibat hilangnya anggota keluarga yang dicintai.

Meski begitu, mengapa ada orang yang menyukainya? Para ahli memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Dilansir dari catatan Allegra Ringo untuk The Atlantic (2013), Margee Kerr, seorang staf sosiolog di Scare House, sebuah objek wisata berhantu yang terletak di Pitsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, mengatakan bahwa kesukaan orang terhadap hiburan horor muncul karena proses kimiawi dalam otak manusia.

Glenn Sparks, seorang profesor dari Brian Lamb School of Communication, Purdue University, mengatakan bahwa ketika orang menonton film-film yang menakutkan, detak jantuk, tekanan darah, dan pernapasan meningkat. Sensasi itu bertahan setelah film usai serta mempengaruhi emosi setelah menonton. Namun, biasanya orang tanpa sadar akan berfokus pada pengalaman menontonnya, bukan filmnya. "Alih-alih fokus pada rasa takut, Anda akan teringat betapa gembiranya menonton bersama teman-teman sehingga Anda ingin mengulanginya lagi."

Diwawancarai New York Times pada 2016, neuropsikolog Vanderbilt University David Zald menjelaskan bahwa ada orang yang tak memiliki “rem” ketika melakukan pelepasan hormon dopamin. Tak heran jika satu orang dan lainnya memiliki penerimaan berbeda-beda terhadap hiburan horor. Yang satu menganggap horor menyenangkan, sementara bagi yang lain menakutkan.

Ketakutan dan Rasa Ingin Tahu

Terlepas dari rasa percaya-tidak percaya yang muncul, kita tak bisa memungkiri bahwa manusia sering dihantui rasa penasaran. Misalnya saat teman Anda bercerita tentang kejadian menakutkan yang ia alami di sebuah tempat, terkadang secara tak sadar Anda akan menghujaninya dengan pertanyaan.



Dalam situasi seperti ini, rasa ingin tahu Anda akan meningkat, setelah itu mendorong Anda untuk “menguji” diri sendiri, misalnya dengan mendatangi tempat itu. Nah, ketika rasa penasaran itu terbayar, ada rasa bangga yang muncul. Menurut Kerr, mereka merasakan peningkatan harga diri.

Namun, sekali lagi, penerimaan masing-masing individu terhadap cerita horor berbeda-beda. Selain perbedaan proses biologis, keadaan sosial-budaya juga berpengaruh.

Baca juga artikel terkait FILM HOROR atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight