Mereka Yang Untung Besar Dengan Uber

Oleh: Mawa Kresna - 2 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Kehadiran Uber, layaknya start-up konsep ride-sharing lainnya memang membawa berkah. Ia mampu memberikan peluang pekerjaan bagi ribuan orang. Tak hanya itu, ia juga memberikan peluang usaha bagi pemilik kendaraan. Perkembangan inilah yang kemudian mengubah konsep Uber, sehingga tak berbeda dari taksi konvensional.
tirto.id - Masuknya Uber ke Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Bukan hanya karena memudahkan mencari transportasi, tetapi juga menjadi peluang bagi banyak orang untuk meraup untung dengan menyewakan mobil miliknya ataupun menjadi pengemudi.

Syarat-syaratnya cukup mudah. Cukup kelengkapan surat-surat dari mobil yang hendak digunakan. Sementara pengemudi, cukup hanya dengan berbekal identitas, termasuk SIM A. Pengemudi tak selalu pemilik mobil, ia bisa menyewanya dari orang lain ataupun dari jasa penyewaan mobil. Dengan kemudahan ini, maka menjadi pengemudi Uber merupakan salah satu pilihan pekerjaan yang cukup menjanjikan. Sebagian pekerja kantoran bahkan tergoda untuk menjadi pengemudi Uber untuk mengisi waktu luangnya di akhir pekan, ataupun sekalian berangkat dan pulang ke kantor.

Tidak hanya dari sisi pengemudi, Uber juga membuka peluang bagi bisnis menyewakan mobil. Peluang ini biasanya dimanfaatkan oleh perusahaan jasa persewaan mobil dan para pemilik mobil yang kendaraannya menganggur ataupun jarang dipakai.

Salah satunya yang dilakukan oleh Sisi Wahyuni, seorang warga Jakarta yang baru memiliki mobil pada awal 2016. Ide itu tercetus ketika tetangganya hendak menyewa mobilnya yang sering nganggur di rumah.

“Dulu setelah nikah, ada sisa uang, terus kami belikan mobil. Tapi jarang dipakai juga, akhirnya ada tetangga yang mau sewa untuk Uber,” kata Sisi saat berbincang dengan tirto.id, Senin 29 Agustus.

Dengan mobil disewakan untuk Uber, Sisi minimal bisa memeroleh pendapatan untuk menutup cicilan kreditnya. Ia tak perlu merogoh lagi uang dari penghasilannya sebagai pekerja kantoran. Ia menyewakan mobilnya sehari Rp 250ribu. Biaya sewa itu sudah termasuk dengan biaya perawatan atau service mobil rutin. Sehingga pengemudi tidak perlu risau jika ada kerusakan saat menggunakan mobil.

“Sudah untung itu, cicilan mobil bisa ter-cover, drivernya juga saya yakin dapat untung. Sehari mungkin bisa dapat Rp 500ribu – Rp 700ribu. Jadi masih ada sisanya,” ujarnya.

Pada bulan Juni 2016, Sisi memutuskan untuk membeli satu mobil lagi. Mobil itu pun juga disewakannya pada pengemudi Uber dengan harga yang sama. Dengan dua mobil itu, dia tidak perlu lagi dipusingkan dengan angsuran bulanan.

“Kalau dikurangi angsuran bulanan dan service bulanan, masih ada sisa Rp 1j utaan perbulan. Lumayanlah. Itu pas weekend, saya bisa santai pakai mobil untuk jalan-jalan,” ungkapnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Fahreza, lulusan S1 salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Satu tahun lalu, dia mendirikan bisnis rental mobil. Bisnis itu pun bisa berjalan dengan baik meski untungnya tidak terlalu besar.

Nasibnya berubah ketika Uber mulai berkembang di Ibukota. Bisnisnya ia putar. Mobil yang semula disewakannya untuk pribadi atau kantor, kini disewakan untuk pengemudi uber. Dia pun ditawari menjadi partner Uber Dost.

“Uber Dost itu seperti marketingnya Uber, kita diminta cari driver, nanti dapat fee. Kebetulan saya kan punya rental mobil juga, jadi sekalian,” kata Reza.

Mulanya saat memulai bisnis rental, Reza hanya memiliki tiga mobil. Kini bisnisnya sudah berkembang. Di bawah bendera rentalnya, ada 30 mobil yang disewakan untuk Uber. Sebanyak 10 mobil adalah miliknya, 20 lainnya titipan orang.

Setiap pengemudi Uber yang menggunakan mobilnya dikenakan setoran bulanan. Besarannya pun bervariasi, mulai Rp 3,5 juta – Rp 5 juta per bulan, tergantung jenis mobilnya. Dalam sebulan, Reza pun bisa meraup pendapatan hingga Rp 60 juta.




Kembali ke Taksi Konvensional

Maraknya pelaku bisnis rental mobil yang beralih ke menyewakan mobilnya untuk Uber membuat konsep bisnis Uber sedikit berubah. Semula, pengemudi Uber yang bebas menentukan waktu kerja dan menjadi bos bagi diri sendiri, menjadi hilang.

Para pengemudi yang bekerja dengan mobil milik rental, dibebani dengan uang setoran bulanan maupun harian. Ini artinya, mereka harus bekerja siang malam agar setoran terpenuhi. Apalagi dengan armada Uber yang semakin banyak, belum lagi dari ride sharing lainnya seperti Grab dan Go-car, maka persaingan mendapatkan penumpang semakin ketat.

Konsep pengemudi dengan setoran ini pun tidak jauh beda dengan taksi konvensional seperti Blue Bird, Express dan lainnya. Para driver dikenakan setoran dan sisanya pendapatan menjadi milik driver. Misalnya dalam sehari seorang driver dikenakan setoran Rp 250ribu, maka jika dia memeroleh Rp 500ribu perhari, maka dia hanya mendapatkan Rp 250ribu sisa setoran. Itu pun masih dipotong dengan bensin.

Namun, memang tidak semua pengemudi menggunakan mobil milik rental, ada juga yang menggunakan mobil pribadi. Head of Communications Uber Indonesia, Dian Safitri membenarkan jika ada driver yang menyewa mobil untuk menjadi driver Uber. Namun jumlah itu tidak banyak.

Menurutnya, dari 67 persen driver Uber di Indonesia mengatur jam kerjanya dengan bebas. Tidak ada yang terpatok seperti kerja kantoran. Bahkan ada sekitar 43 persen driver hanya bekerja kurang dari 10 jam per minggu.

“Mereka masih bisa on off kapan pun mereka mau. Tidak ada aturan, tidak ada target, tidak ada jam kerja. Terserah mau kapan nge-drive. Mau malam atau siang,” kata Dian.

Uber pun tidak mempermasalahkan jika pengemudi tidak menggunakan mobil sendiri. Uber bahkan mengajak kerja sama sejumlah perusahaan rental mobil sebagai mitranya. Seperti halnya Reza, pengusaha rental yang digandeng oleh Uber.

Jika skema ini terus berlangsung maka bisnis ini tidak jauh berbeda dengan taksi konvensional biasa, bahkan mungkin akan lebih parah. Sebab, pengemudi tidak hanya menyetor kepada pemilik rental, tapi juga harus berbagi pendapatannya dengan Uber sebagai penyedia jasa aplikasi.

Baca juga artikel terkait UBER atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan