Menuju konten utama

Merangkul Afrika Selatan, Pintu Gerbang Pasar Afrika

Afrika Selatan jadi pasar baru yang belum digarap maksimal sebagai potensi yang menguntungkan Indonesia.

Merangkul Afrika Selatan, Pintu Gerbang Pasar Afrika
Presiden Joko Widodo (kanan) dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma (kiri) memberikan keterangan pers seusai melakukan pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/3). Kedua kepala negara beserta delegasi masing-masing melakukan pertemuan bilateral untuk meningkatkan kerja sama antara kedua negara. ANTARA FOTO/Setpres/Krishadiyanto/kye/17.

tirto.id - Hubungan Indonesia dengan Afrika Selatan sudah terjalin cakup panjang. Proses ini tidak datang tiba-tiba. Dalam peringatan 50 tahun Konferensi Asia-Afrika pada April 2015 lalu, pemerintah kedua negara menandatangani kesepakatan dagang untuk mengembangkan kerjasama teknis dalam bidang agrikultur, energi, dan sumber daya maritim. Pemerintah kedua negara sepakat menghilangkan aturan-aturan bisnis yang menghambat perdagangan.

Komitmen ini ditandatangani secara resmi sebelum pertemuan Konferensi Asia-Afrika berlangsung waktu itu. Menteri Kerjasama dan Hubungan Internasional Afrika Selatan saat itu, Maite Nkoana-Mashabane, menjelaskan bahwa kerjasama bilateral tersebut mendorong kerjasama bisnis yang sebelumnya telah mencapai nilai $2 miliar.

“Secara bilateral kami baru saja menandatangani kerjasama ekonomi. Kami butuh mengembangkan hubungan perdagangan dan ekonomi. Baik Afrika dan Asia diberkahi oleh populasi anak muda dan berpendidikan. Rakyat kami adalah yang terbaik dan kami akan memanfaatkan kerjasama ini,” ujar Nkoana-Mashabane seperti dikutip South Africa Broadcast Company.

Pada Maret 2017, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma saat berkunjung ke Indonesia membahas pentingnya mendukung usaha kecil dan menengah sebagai kunci meningkatnya pertumbuhan perekonomian kawasan IORA. Jacob Zuma mengemukakan hal tersebut dalam acara diskusi interaktif sesi pertama dalam penyelenggaraan "Business Summit" Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA).

Baca juga:

Menurut Zuma, keberpihakan terhadap pengembangan UKM di kawasan Samudera Hindia menjadi hal yang penting terutama mengingat pada saat ini perekonomian global masih dalam keadaan yang tidak menentu. Presiden Afsel juga mengingatkan pentingnya mendorong pertumbuhan perekonomian inklusif yang juga membantu kaum perempuan dan kalangan marjinal.

Komitmen kedua negara kemudian semakin serius untuk diwujudkan saat Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda mengatakan bahwa pemerintah memfasilitasi 18 pengusaha dalam negeri dari berbagai sektor unggulan untuk bertemu dan memperkenalkan produk-produk mereka ke pengusaha Afrika Selatan.

"Para pelaku usaha datang dari Indonesia untuk mendapatkan informasi dan mendalami peluang bisnis, serta mendapatkan kesepakatan bisnis dengan rekanan di Afrika Selatan," kata Arlinda, saat memberikan sambutan pada Indonesia-South Africa Business Forum, di Johannesburg, seperti dikutip Antara.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah pengusaha asal Indonesia dari berbagai sektor diperkenalkan kepada kurang lebih 150 pengusaha Afrika Selatan. Beberapa di antaranya berasal dari sektor produk pertanian perkebunan, kopi, produsen ban hingga produk dan bumbu makanan. Produk ekspor Indonesia ke Afrika Selatan antara lain kelapa sawit, karet, otomotif produk, bahan kimia, sepatu, dan kakao. Sementara produk impor Indonesia dari Afrika Selatan adalah bubuk kayu, alumunium, buah-buahan, dan tembaga.

Infografik Perdagangan Indonesia Afsel

Kementerian Perdagangan juga mengajak para pengusaha Afrika Selatan untuk hadir dalam pameran produk dalam negeri terbesar Trade Expo Indonesia (TEI) ke-32 yang akan diselenggarakan pada 11-15 Oktober 2017. Data dari Kemendag menyebutkan penyelenggaraan TEI 2016, total nilai transaksi mencapai $1,02 miliar. Nilai ini naik sekitar 12 persen dari tahun 2015.

Hubungan kerjasama semakin serius dijajaki setelah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa anggota parlemen dan beberapa negara bagian di Afrika Selatan mendukung keinginan Indonesia untuk meningkatkan hubungan dagang kedua negara, salah satunya terkait relaksasi hambatan non tarif dalam perdagangan.

"Beberapa negara bagian Afrika Selatan dan parlemen mendukung keinginan Indonesia untuk meningkatkan hubungan dagang selain juga menyetujui apa yang kita sepakati soal study nontariff," kata Enggartiasto di Lagos, seperti dikutip Antara. Kesepakatan terkait study nontariff tersebut muncul setelah kedua negara melakukan Joint Trade Committee (JTC).

Afrika Selatan merupakan negara tujuan ekspor Indonesia ke-32 dan menjadi yang pertama untuk kawasan Afrika. Dengan populasi penduduk mencapai lebih dari 60 juta jiwa, pasar Afrika dinilai begitu menjanjikan. Selain itu, Afrika Selatan juga dinilai sebagai pintu gerbang untuk mengakses pasar Afrika.

Pemerintah pada 2017 menargetkan peningkatan ekspor nonmigas sebesar 5,6 persen meskipun kondisi perekonomian global dinilai masih cenderung melambat. Target tersebut lebih rendah dari yang tertuang dalam Rencana Pemerintah Jangka Menengah (RPJM) pada 2017 tercatat sebesar 11,9 persen.

Salah satu upaya untuk meningkatkan ekspor nonmigas adalah dengan berupaya menembus pasar-pasar baru seperti India, Rusia, negara-negara Afrika dan Timur Tengah. Sementara pasar tradisional akan tetap dipertahankan.

Secara kumulatif berdasar data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia pada periode Januari-Juni 2017 mencapai 79,96 miliar dolar atau meningkat 14,03 persen dibanding periode yang sama pada 2016, sedangkan ekspor nonmigas mencapai 72,36 miliar dolar atau meningkat 13,73 persen.

Salah satu poin yang akan dalam study nontariff yang akan diidentifikasi oleh kedua negara adalah tingkat kecocokan struktur ekspor-impor antara Indonesia dengan Afrika Selatan. Menteri Perdagangan tengah melakukan kunjungan kerja ke Afrika Selatan dan Nigeria dalam upaya untuk meningkatkan hubungan dagang dengan Indonesia. Pemerintah berkeinginan supaya Afrika Selatan bisa memulai perundingan terkait kesepakatan South African Custom Union Preferential Trade Agreement (SACU-PTA). SACU beranggotakan lima negara yakni Botswana, Lesotho, Namibia, Swaziland dan Afrika Selatan.

"Mereka juga menyampaikan dukungan agar PTA (Preferential Trade Agreement) sudah mulai dipersiapkan, karena mereka berpendapat bahwa tariff juga akan meningkatkan hubungan dagang serta menguntungkan masyarakat Afrika Selatan," kata Enggartiasto.

Menurut Enggartiasto, jika nantinya SACU-PTA berhasil disepakati maka produk Indonesia akan lebih kompetitif untuk masuk ke dalam pasar Afrika Selatan, karena adanya penyesuaian tariff yang membuat produk dalam negeri saat ini dikenakan bea masuk sebesar 20-40 persen. Salah satu opsi yang sempat ditawarkan Menteri Perdagangan dan Industri Afrika Selatan Rob Davies adalah membuka peluang ekspor sapi dan daging sapi ke Indonesia.

Total perdagangan kedua negara pada 2016 baru mencapai kisaran satu miliar dolar Amerika Serikat. Dari total nilai perdagangan tersebut, nilai ekspor mencapai $727,8 juta dan impor senilai $290,8 juta, sehingga Indonesia mengantongi surplus sebesar $437 juta.

Baca juga artikel terkait EKSPOR atau tulisan lainnya dari Arman Dhani

tirto.id - Bisnis
Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Windu Jusuf