Menuju konten utama

Menyusuri Kuburan Batu Kete Kesu dan Londa di Toraja

Kete Kesu dan Londa meninggalkan kesan paling kuat. Di tempat itu, kematian tidak disembunyikan di balik tembok sunyi.

Menyusuri Kuburan Batu Kete Kesu dan Londa di Toraja
Rumah adat suku Toraja Tongkonan yang berusia lebih dari 400 tahun di desa wisata adat Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. tirto.id/Auliya Umayna
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Matahari siang menggantung tepat di atas Desa Adat Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Namun, semilir angin dan hamparan sawah yang mengelilingi kawasan itu membuat terik terasa lebih ramah. Di hadapan pengunjung, deretan Tongkonan—rumah adat khas Toraja—berdiri anggun, seolah menyambut siapa pun yang datang dengan kemegahan yang diwariskan lintas zaman.

Tongkonan itu bukan bangunan yang baru kemarin sore berdiri. Usianya telah melampaui empat abad. Tanduk-tanduk kerbau yang menghiasi bagian depannya menjadi penanda kehormatan sekaligus kemewahan pemilik rumah.

Namun, siang itu, para wisatawan lebih banyak tertarik ke arah tebing batu yang berada tak jauh dari kompleks Tongkonan. Untuk menuju tebing yang berada di belakang area perkampungan tersebut, wisatawan harus melewati jalan setapak yang di kanan dan kirinya terdapat sejumlah UMKM menjajakan oleh-oleh khas Toraja.

Kete Susu

Suasana di kawasan desa adat Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. tirto.id/Umay

Sebelum mencapai tebing batu yang merupakan lokasi pemakaman masyarakat Toraja tersebut, wisatawan disambut oleh sejumlah bangunan yang memiliki bentuk khas. Ketua Yayasan Kete Kesu, Layuk Sarungallo, mengatakan bahwa bangunan tersebut berisi peti jenazah dan dibangun untuk menghemat area tebing. Katanya, setiap bangunan dapat diisi minimal 20 peti dari keluarga yang sama.

"Beda dengan kita yang di kota, satu lobang satu jenazah," kata Layuk saat Tirto berkunjung ke Kete Kesu, Kamis (21/5/2026).

Layuk yang telah berusia 80 tahun, mejelaskan soal makam tebing batu yang menjadi budaya masyarakat Toraja dengan sangat bersemangat. Layuk bilang, tradisi pemakaman dengan meletakan peti jenazah di tebing batu, telah dilakukan sebelum ajaran islam masuk ke Toraja. Layuk juga mengatakan bahwa jenis pemakaman di tebing batu dilakukan untuk menghemat penggunaan lahan.

Untuk mencapai lokasi makam batu, harus melalui tangga yang cukup curam dan membuat sedikit ngos-ngosan, saat berdiri di salah satu anak tangga, kita sudah dapat melihat susunan peti mati yang terbuat dari kayu. Sejumlah kerangka manusia juga dapat terlihat dari celah peti yang tua dan mulai keropos.

Kete Susu

Suasana di kawasan desa adat Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. tirto.id/Umay

Sebelum mencapai ujung tangga atas, terdapat pula patung-patung yang disusun rapih dalam tebing dan tertutup gerbang besi bercelah. Di sepanjang perjalanan menaiki tebing, sebelum akhirnya mencapai pintu gua yang menjadi titik akhir jangkauan wisatawan, mata akan terus melihat kerangka manusia dari celah-celah peti, sebagian kerangka terutama bagian kepala juga tersusun rapih di area-area tertentu.

Saat tiba diujung tebing, ada Marcel, sang pemandu yang menawarkan jasanya kepada para wisatawan untuk menemani menyusuri gua. Marsel terlihat masih muda, sebelum mempersilakan para pengunjung masuk untuk melihat langsung isi gua, Marcel menjelaskan sejumlah aturan yang harus ditaati. Salah satu yang paling Marcel tekankan adalah 'dilarang memegang tengkorak'.

Kata Marcel yang bergaya santai namun cekatan ini, jika memegang kerangka, maka akan mendapat sanksi adat dan diwajibkan memberikan sumbangan berupa kerbau. Marcel bilang, sekalipun ada kerangka yang terjatuh, para wisatawan tetap dilarang untuk memegang. Katanya, untuk memegang kerangka, harus dilakukan dengan melalui ritual adat bernama Ma'Nene.

Di mulut gua, terdapat patung dengan ikat kepala berwarna merah, tak jauh dari situ, ada sejumlah kerangka yang tersusun rapih serta beberapa peti yang tertutup kain. Di dalam gua, aroma kayu lapuk dan tanah lembab langsung terasa. Namun anehnya, tidak muncul perasaan takut atau horror di dalam gua tersebut.

Kete Susu

Suasana di kawasan desa adat Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. tirto.id/Umay

Semakin dalam menyusuri gua, Marcel menjelaskan soal satu satunya peti yang berada di ujung gua. Dia bilang, usianya telah mencapai ratusan tahun. Marcel juga menawari para wisatawan untuk berfoto di area tersebut. Meski diambil dalam keadaan gelap, hasil jepretan Marcel sangat ciamik.

Perjalanan berlanjut menuju Londa, yang juga lokasi pemakanan batu. Namun, area tebing ini, dikhususkan untuk rumpun To'lengke dan To'pangrapa dari suku Toraja. Sebelum ke area tebing terdapat seekor kerbau berukuran besar yang harganya bisa mencapai ratusan bahkan miliaran rupiah.

Tak kalah sejuk dengan Kete Kesu, di dinding tebing Londa terdapat balkon kayu yang dipenuhi patung para bangsawan dari rumpun To'lengke dan To'pangrapa lengkap dengan wajah dan pakaian yang menyerupai. Di sekitarnya, terdapat susunan sejumlah peti dari kalangan biasa. Sementara, lokasi peti para bangsawan disimpan di puncak tebing dan tak dapat diakses wisatawan.

Londa memiliki dua mulut gua yang saling terhubung. Namun, kata pemandu di sana, jalan penghubungnya hanya dapat diakses dengan merangkak sejauh 25 meter. Di mulut gua pertama, wisatawan akan disambut dengan susunan tengkorak kepala. Kemudian, terdapat sejumlah peti yang tersusun rapih.

tradisi pemakaman Toraja

Tumpukan kerangka manusia di atas peti di kuburan tebing desa wisata adat Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. tirto.id/Auliya Umayna

Semakin dalam menyusuri gua, kita akan bertemu dengan dua kerangka kepala yang saling berhadapan. Pemandu bilang keduanya adalah 'romeo dan juliet' Toraja. Mereka memutuskan untuk mati dengan cara bunuh diri akibat cinta yang tak direstui. Didekatnya, juga terdapat beberapa peti tersusun.

Keluar dari mulut gua pertama, pemandu yang menggunakan lampu petromax untuk pencahayaan tersebut, mengajak wisatawan untuk melihat gua kedua, di dalamnya masih sama, terdapat sejumlah peti tersusun dan sejumlah kerangka manusia terutama bagian kepala. Di sana juga terdapat jalan berbetuk celah kecil yang kata pemandu merupakan jalan menuju gua pertama.

Londa dan Kete Kesu, menjadi daya tarik Toraja bahkan hingga ke mancanegara. Staf Destinasi Dinas Pariwisata Toraja Utara, Andro, mengatakan bahwa Kete Kesu dan Londa paling banyak dikunjungi wisatawan para bulan Oktober-Desember, dengan pendapatan Rp150 juta per bulan pada masing-masing lokasi. Kata Andro, pendapatan di dua area tersebut, akan dibagi 30 persen untuk Pemda dan 70 persen untuk pihak Yayasan Kete Kesu dan Yayasan Londa.

Tak habis di Londa dan Kete Kesu, Toraja juga masih punya banyak lokasi-lokasi menarik yang harus dikunjungi. Tirto bersama dengan sejumlah media lainnya dan Kantor Imigrasi Palopo Kelas II Non TPI, berpindah destinasi. Namun, yang satu ini bukan di Toraja Utara, melainkan di Tana Toraja yaitu Patung Yesus Memberkati.

tradisi pemakaman Toraja

Patung Yesus memberkati di Buntu Burake yang merupakan ikon wisata religi setinggi kurang lebih 40-45 meter di puncak bukit karst, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. tirto.id/Auliya Umayna

Kami mengunjungi Patung Yesus Memberkati ini, pada siang hari, panas matahari sangat menyengat. Namun, hal itu seakan terganti dengan kemegahan Patung Yesus Memberkati dan pemandangan indah disekitarnya. Namun, para wisatawan kesulitan untuk mengambil foto patung karena terlalu tinggi untuk dijangkau oleh kamera dari jarak dekat.

Pemandangan disekitarnya sangat indah, dari area patung, mata tak habisnya disuguhkan dengan hamparan tebing indah dan pepohonan. Dari area patung, juga terlihat pemandangan wilayah Toraja yang sangat indah. Bunga-bunga juga tumbuh di sela-sela batu sekitar area patung.

Bukan di Toraja, perjalanan ditutup di Kedatuan Luwu, Palopo, salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan yang menyimpan jejak panjang sejarah kawasan timur Nusantara. Jika Toraja memperlihatkan hubungan masyarakat dengan kematian dan leluhur, Kedatuan Luwu menghadirkan cerita berbeda tentang kekuasaan, perdagangan, dan perkembangan peradaban di Sulawesi Selatan.

Namun dari seluruh perjalanan itu, Kete Kesu dan Londa meninggalkan kesan paling kuat. Di tempat itu, kematian tidak disembunyikan di balik tembok sunyi. Ia hadir berdampingan dengan rumah, sawah, tawa anak-anak, dan kehidupan yang terus berjalan di bawah matahari Toraja.

Baca juga artikel terkait TORAJA atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - News Plus
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Anggun P Situmorang