Menuju konten utama

Menyambut Imlek di Caow Eng Bio, Kelenteng Tertua di Bali

Caow Eng Bio adalah satu-satunya kelenteng di Indonesia yang menjadi rumah Dewi Shui Wei Shen Niang, pelindung para nelayan dan pelaut.

Menyambut Imlek di Caow Eng Bio, Kelenteng Tertua di Bali
Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio, Tanjung Benoa, Minggu (15/02/2026). Tirto.id/Sandra Gisela
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Suasana Kelenteng Caow Eng Bio tampak bergeliat pada Minggu (15/02/2026) pagi. Lampion-lampion merah mulai menghiasi jalan di sekitar tempat tersebut, kain-kain merah dibentangkan, dan aroma dupa menguar.

Kelenteng yang terletak di Tanjung Benoa tersebut sudah ramai oleh pengurus yang ikut serta dalam mempercantik fasad bangunan, untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.

Ketika masuk ke dalam kelenteng, tampak beberapa orang sedang konsentrasi mengganti lampion yang lama dengan yang baru. Beberapa orang lain menyusun kertas, yang nantinya akan digunakan untuk persembahyangan Imlek. Sementara itu, sisanya menata buah-buah yang kelak akan diletakkan di depan altar dewa-dewi.

“Persiapannya seperti itu. Kita hari ini pasang-pasang buah, kemarin pasang-pasang jajan,” kata Sanjaya (65), yang menjadi Biokong alias Penjaga Kelenteng Caow Eng Bio, sambil menunjukkan proses persiapan yang tengah dilakukan.

Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio

Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio, Tanjung Benoa, Minggu (15/02/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

Persiapan tersebut sudah satu bulan dilakukan oleh pengurus kelenteng. Langkah pertama yang dilakukan adalah membersihkan fasad bangunan, seperti membersihkan tembok dan lantai kelenteng menggunakan cairan pembersih. Puncak dari rangkaian pembersihan tersebut dilakukan pada Kamis (12/02/2026) dengan membersihkan altar dan rupang.

“Pembersihan altar dan rupang diawali dengan mandi di laut dan mandi di kelenteng menggunakan air suci pada tanggal 11. Itu biasanya dilakukan satu minggu sebelum Imlek, ketika dewa-dewi kembali ke alam atau tempat masing-masing. Karena di sini kosong, kita bersihkan rupang-rupang,” jelasnya.

Dalam Kelenteng Caow Eng Bio, terdapat tiga altar utama, yakni milik Shui Wei Shen Niang atau Dewi Laut, Ya Ti Kong atau para pahlawan suci, dan Tu Di Gong atau Dewa Bumi. Di samping tiga altar utama tersebut, terdapat altar Dewi Mazu yang merupakan dewi dari Pulau Hainan, serta altar Dewa Dapur.

“Untuk persembahyangan secara standar, kita pakai dupa, lilin, kertas sembahyang, dan manisan. Lalu, ada lampion. Umat pasang lampion ini tujuannya untuk penerangan selama setahun ke depan. Diharapkan pribadi tersebut mendapat penerangan yang maksimal,” terang Sanjaya.

Altar-altar yang sudah dibersihkan tersebut lantas ditutup dengan kain tokwi dari Taiwan. Kain tersebut berbentuk persegi panjang dengan warna dasar merah, serta sulaman-sulaman simbol keagamaan seperti naga dan kepala singa. Simbol-simbol tersebut melambangkan keberuntungan, kebaikan, dan kekuatan.

“Jadi nanti tanggal 16, kita akan merayakan acara tutup tahun dan buka tahun baru. Persembahyangannya akan disekaliguskan dengan Imlek. Kita mengucapkan terima kasih atas berkah-berkah yang sudah kita terima, kemudian kita langsung sembahyang menyambut 2577 dengan harapan untuk umat yang lebih baik,” ungkapnya.

Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio

Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio, Tanjung Benoa, Minggu (15/02/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

Kemeriahan Kelenteng Caow Eng Bio saat menyambut Imlek tidak hanya diminati oleh penduduk di sekitar kawasan Tanjung Benoa saja, tetapi wisatawan yang berasal dari Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Sanjaya mengungkap, pelancong yang paling banyak mengunjungi Kelenteng Caow Eng Bio adalah dari Bagansiapiapi, Provinsi Riau.

“Karena terkait dengan laut. Bagansiapiapi itu adalah daerah yang terkait dengan laut, jadi sembahyang ke sini,” ucap Sanjaya.

Persiapan di Minggu (15/02/2026) merupakan yang terakhir menjelang Imlek, sebab pada Senin (16/02/2026), umat sudah akan berdatangan untuk melakukan sembahyang Malam Imlek. Namun, pada Senin pagi, pengurus Kelenteng Caow Eng Bio akan memasak Sam Seng atau daging tiga unsur.

Unsur-unsur yang ada pada Sam Seng terdiri atas daging babi, ikan laut, dan ayam yang masing-masing mewakili unsur darat, air, dan udara. Sam Seng tersebut digunakan sebagai persembahan bagi para leluhur dalam menyambut pergantian tahun. Terdapat pula kue-kue basah yang akan ditata bersama dengan buah-buah di altar.

“Ini untuk menyambut Imlek di tanggal 1 penanggalan Kongzili, untuk melepas tahun yang lama. Jadi sudah selesai di Minggu. Tinggal yang masakan saja, ada Sam Seng, masakan yang enam macam, serta kue-kue basah dan kering,” jelas Dewan Pertimbangan Kelenteng Caow Eng Bio, Nyoman Suarsana Ardika.

Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio

Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio, Tanjung Benoa, Minggu (15/02/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

Dari Hainan ke Bali

Bukan hanya karena dikenal letaknya yang dekat dengan objek wisata air terkemuka di Pulau Dewata, tetapi Kelenteng Caow Eng Bio juga disebut sebagai kelenteng tertua di Bali, sekaligus tertua kelima di Indonesia. Sejarah mengenai Kelenteng Caow Eng Bio berakar dari tahun 1548, ketika nelayan dari Hainan, Cina, singgah untuk berlindung dari angin barat.

“Di dekat sini ada pelabuhan. Biasanya orang-orang berdagang dari Cina ke Bali, pasti ke Tanjung Benoa ini. Setelah itu, mungkin di perjalanan ada suatu perasaan, akhirnya dibuat tempat pemujaan,” kata Sanjaya.

Pada tahun 1800-an, dibuatlah bangunan fisik dengan arsitektur Cina untuk tempat yang memuja Dewi Shui Wei Shen Niang atau Dewi Laut itu. Tanah dari kelenteng tersebut dihibahkan oleh Ida Cokorda Pemecutan yang merupakan Raja Badung ke-10. Prasasti di depan kelenteng tersebut dibangun pada tahun 1879, yang berisikan marga-marga orang yang ikut mendirikan kelenteng tersebut.

“Kelenteng ini satu-satunya di Bali dan satu-satunya di Indonesia yang tuan rumahnya Dewi Shui Wei Shen Niang. Dewi ini melindungi para nelayan, pelaut-pelaut, dan segala aktivitas yang diadakan di laut,” jelas Sanjaya.

Fasad dari Kelenteng Caow Eng Bio telah mengalami ratusan kali pemugaran. Sanjaya mengatakan, pemugaran-pemugaran tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas lantai dan elemen-elemen lain yang ada di dalam kelenteng itu. Pemugaran tersebut juga menyebabkan kelenteng tersebut tetap bersih dan kokoh meskipun sudah ratusan tahun berlalu.

“Para nelayan setiap mau melaut, dia sembahyang ke sini dan memohon keselamatan. Di samping itu, ada kegiatan rutin setiap Ce It (bulan mati) dan Cap Go (bulan purnama). Tidak hanya nelayan, tetapi kelenteng ini terbuka untuk umum, yang penting bersembahyang niatnya dari dia sendiri,” kata Sanjaya.

Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio

Persiapan Imlek di Kelenteng Caow Eng Bio, Tanjung Benoa, Minggu (15/02/2026). Tirto.id/Sandra Gisela

Harapan di Tahun Kuda Api

Nyoman, salah satu pengurus kelenteng, melihat antusiasme umat dalam menyambut Imlek 2577 Kongzili cukup tinggi. Dia berharap, lebih banyak umat dapat berdatangan pada momentum Imlek untuk bersembahyang dalam keadaan sehat.

Persembahyangan di Kelenteng Caow Eng Bio tersebut akan berlangsung hingga tanggal 3 Maret 2026 atau saat Cap Go Meh.

“Kita berharap, di tahun Kuda Api yang akan datang ini, dunia lebih tenang, perekonomian lebih baik, dan harapan semua umat, kita ikut mendoakan. Kita juga ikut mendoakan supaya semua makhluk di dunia ini bisa hidup dengan damai dan sejahtera,” kata Nyoman.

Sementara itu, Sanjaya melihat terdapat sekitar 500 hingga 700 umat yang akan datang ke Kelenteng Caow Eng Bio pada periode Imlek hingga Cap Go Meh. Kapasitas kelenteng disebut mencukupi, sebab umat akan bersembahyang secara bergilir dengan perputaran yang cukup cepat.

Meskipun umat terus mengalir dengan cepat, seluruhnya membawa doa untuk Imlek 2577 Kongzili, serta rasa terima kasih untuk jalannya tahun 2576 Kongzili yang sudah berlalu. Umat-umat tersebut juga membawa harapan dan keyakinan bahwa tahun mendatang akan membawa hal-hal yang lebih baik dalam hidup mereka.

“Semoga semua makhluk berbahagia,” tutupnya

Baca juga artikel terkait IMLEK 2026 atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - News Plus
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Alfons Yoshio Hartanto