tirto.id - Kamis (12/2/2026) pagi, udara di Gang Ibu Aisah, Jalan Cibadak, Kota Bandung, terasa lebih hidup dari biasanya. Di tengah deretan bangunan tua kawasan itu, Vihara Dharma Ramsi sudah ramai didatangi pengurus, jemaat, relawan, dan simpatisan. Mereka datang bukan sekadar untuk bersembahyang, melainkan untuk urun tenaga dalam kerja bakti tahunan: membersihkan altar, ruangan, serta rupang para dewa-dewi menjelang Tahun Baru Imlek 2557 Kongzili.
Pagi itu, vihara mulai “bersolek”. Hilir mudik relawan terlihat membawa tangga kecil, kain lap, kuas halus, hingga cairan pembersih. Sebagian berjalan cepat menuju altar-altar utama, sebagian lain menyiapkan ember berisi air bersih. Tak ada komando keras, namun setiap orang seolah tahu tugasnya masing-masing.
Di sudut ruangan, beberapa relawan tampak khusyuk menyapu debu yang menempel di rupang menggunakan kuas kecil. Gerakan mereka pelan dan hati-hati. Ada pula yang mengelap permukaan altar dengan kain lembap, memastikan tak ada sisa abu dupa yang tertinggal. Momentum ini menjadi saat kebersamaan antara pengurus rumah ibadah dan warga keturunan Tionghoa untuk membersihkan setiap sudut vihara.
Salah satu yang tampak tekun adalah Yuswan. Lelaki berusia sekitar 70 tahun itu mendapat giliran membersihkan tiga rupang berukuran sekitar 60–80 sentimeter, termasuk arca Dewa San Kwan. Dengan tangan bergetar halus namun terampil, ia mengelap wajah patung menggunakan kain basah. Sesekali ia menyemprotkan cairan pembersih, lalu menggosok perlahan bagian janggut dan lipatan jubah, berhati-hati agar cat serta ukiran tidak rusak.
“Membersihkannya tidak begitu lama, tapi harus teliti, terutama di bagian kumis dan janggut,” ujarnya sambil menunjuk detail halus pada rupang yang sedang ia rawat.

Bagi Yuswan, ritual ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Dalam kepercayaan etnis Tionghoa, Dewa San Kwan diyakini sebagai simbol perlindungan dan pemberi berkah. “Kita memohon perlindungan dari malapetaka, juga untuk urusan pekerjaan dan pendidikan,” tuturnya.
Menjelang Imlek tahun ini, harapannya sederhana. Ia ingin kehidupan yang lebih baik, negeri yang maju, serta dijauhkan dari bencana dan kesusahan.
"Sederhana saja. Selamat, bahagia, negara maju dan jangan banyak bencana. Kita minta tidak ada lagi kesusahan," pintanya.
Tak jauh dari Yuswan, Arifin Gunawan (68) berdiri di depan altar persembahan. Tangannya cekatan membersihkan sisa-sisa abu dupa yang menumpuk di sudut meja altar. Ia tampak paham betul bagian mana yang harus didahulukan. Ritual ini jelas bukan kali pertama ia lakukan.
“Saya sedang membersihkan Dewa Uang, Dewa Kekayaan. Masih ada waktu sebelum Imlek, jadi semuanya harus selesai,” ujarnya.
Menurut Gunawan, pembersihan menjelang Imlek mengandung makna simbolik. Ia mengibaratkannya seperti seseorang yang hendak mengambil cuti kerja. "Maknanya jadi para dewa kebagian cuti kerja. Mau imlek ini, dia mau ke khayangan, jadi sudah waktunya kami bersih-bersih," ucapnya dengan senyum puas.
Ia pun menyelipkan doa untuk Tahun Kuda Api. Dalam penanggalan Tionghoa, siklus 60 tahunan membawa kembali elemen dan shio yang sama. Tahun ini menjadi momentum harapan baru. “Semoga negara kita lebih baik, aman, damai, dan semua masyarakat sehat,” tambahnya.

Sementara itu, pengurus vihara, Kwok Soetjie—akrab disapa Asoey—mengawasi jalannya kerja bakti. Ia menjelaskan, pembersihan harus rampung dalam empat hari ke depan. Terdapat sekitar 28 altar dan 50 hingga 60 rupang yang harus dibersihkan secara menyeluruh.
Setelah itu, persiapan berlanjut dengan pemasangan ratusan lilin sekitar 14–15 Februari 2026. Lilin-lilin tersebut akan ditempatkan di altar sebagai bagian dari rangkaian ritual Imlek. Jumlahnya disesuaikan dengan pesanan umat.
“Tahun ini mungkin ada sedikit penurunan karena kondisi ekonomi. Tapi kita harus tetap banyak bersyukur,” ujar Asoey.
Baginya, esensi Imlek bukan terletak pada kemeriahan semata, melainkan pada rasa syukur dan kebersamaan. Tahun Kuda Api yang kembali hadir di 2026, menurutnya, adalah pengingat tentang semangat, energi, dan keberanian untuk melangkah.
Ia pun menegaskan satu harapan utama: kesehatan. “Yang penting sehat. Percuma banyak uang kalau tidak sehat. Kebaikan itu juga bagian dari amal ibadah,” katanya.
Di antara aroma dupa dan gemericik air pembersih, kerja bakti pagi itu terasa lebih dari sekadar aktivitas fisik. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas generasi—mereka yang sepuh dengan pengalaman panjang, dan mereka yang lebih muda dengan semangat baru. Bersama-sama, mereka merawat bukan hanya bangunan vihara, tetapi juga tradisi dan harapan.
Menjelang Imlek, setiap sapuan kuas dan setiap kain yang mengelap rupang menjadi simbol pembersihan diri. Debu-debu yang terangkat seakan membawa pergi beban tahun lalu, memberi ruang bagi harapan baru untuk tumbuh. Di Vihara Dharma Ramsi, Imlek bukan hanya perayaan pergantian tahun, melainkan perayaan tentang iman, kebersamaan, dan keyakinan bahwa hari esok akan lebih baik.

Penulis: Amad NZ
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id































