Menuju konten utama

Menteri LH: Tragedi Bantar Gebang Terbesar Kedua Sejak 2005

Menteri LH sempat berkaca dengan tragedi sampah di Cimahi yang menelan korban 157 orang pada tahun 2005.

Menteri LH: Tragedi Bantar Gebang Terbesar Kedua Sejak 2005
Foto udara sejumlah alat berat beroperasi saat melakukan pencarian korban longsor sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (8/3/2026) malam. Berdasarkan data sementara dari Tim SAR Kota Bekasi, sebanyak empat orang meninggal dunia akibat peristiwa yang terjadi pada Minggu (8/3) siang. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Lingkungan Hidup (LH) mengungkap data mengenai pengelolaan sampah usai adanya longsor di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (PTST) Bantar Gebang. Dari data tersebut disebut tragedi longsoran tumpukan sampah di Bantar Gebang serupa dengan yang terjadi di wilayah Cimahi pada 2005.

Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan bahwa peristiwa longsor di Bantar Gebang ini menjadi yang terbesar kedua.

"Ini tentu tragedi yang sangat memilukan, tragedi kedua terbesar setelah kejadian tragedi sampah tahun 2005 yang menelan korban satu dusun di Leuwigajah, Cimahi, dengan jumlah 157 orang," kata Hanif dalam sambutannya di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (11/3/2026).

Hanif menerangkan, data di Kementerian LH mencatat bahwa setiap harinya terdapat delapan ton sampah. Penyumbang sampah terbanyak, yakni dari pemilik kawasan, pengelola kawasan, merupakan pasar, hotel, restoran, kafe, tempat wisata, stasiun, hingga terminal.

"Dari 8.000 ton per hari tersebut, maka 1.000 tonnya disumbang dari pemilik kawasan, pengelola kawasan, merupakan pasar, hotel, restoran, kafe, tempat wisata, stasiun, terminal, dan seterusnya. Ini yang kemudian harus menyelesaikan sampahnya sendiri," ungkap dia.

Jumlah sampah setiap harinya itu, kata Hanif, terbilang sangat besar jika dibandingkan dengan angka penduduk Jakarta yang mencapai 11 juta orang. Oleh karenanya, dia menilai tragedi longsor Bantar Gebang ini harus menjadi titik balik untuk menekan penanganan sampah.

"Tentu ini harus menjadi titik balik pengelolaan sampah di Jakarta. Pengelolaan sampah di Jakarta harus kemudian menekankan penanganan sampah pada sumber-sumbernya," ucap dia.

Ditambahkan Hanif, peristiwa longsor di Bantar Gebang diakui menjadi pelajaran pahit untuk semua pihak. Terlebih, tujuh orang meninggal dunia yang tidak sepatutnya dengan cara tertumpuk sampah.

Diketahui, setelah penemuan korban terkahir, Kantor SAR Jakarta menutup operasi pencarian korban longsor di Bantar Gebang dengan data jumlah meninggal dunia mencapai tujuh orang. Sedangkan korban selamat berjumlah enam orang.

"Pukul 00.00 WIB dengan ditemukannya seluruh korban dan tidak adanya laporan korban hilang, maka operasi SAR dinyatakan ditutup," tutur Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, dalam keterangan tertulis, Selasa (20/3/2026).

Baca juga artikel terkait TPST BANTAR GEBANG atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - Flash News
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Alfons Yoshio Hartanto