tirto.id - Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengeluhkan kondisi penumpukan sejumlah barang inventaris istana di gudang Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg). Untuk mengatasi masalah tersebut, Prasetyo tengah melakukan inventarisasi dan memilah mana yang bernilai historis dan manayang hanya sekedar barang bekas biasa.
“Kami sedang berupaya meng-exercise untuk memisahkan mana yang barang-barang itu memiliki nilai historis yang itu harus dipertahankan, tapi ada juga barang-barang yang secara jenis itu memungkinkan untuk dihapusbukukan,” kata Prasetyo dalam rapat kerja bersama Komisi XIII DPR RI, Rabu (15/7/2026).
Prasetyo memberi catatan bahwa benda yang sebagian besar bernilai sejarah tersebut bukan hasil sitaan. Dia menegaskan barang-barang tua tersebut didapat secara legal oleh pemerintahan periode sebelumnya dan tercatat sebagai inventaris Istana.
"Ini bukan barang sitaan tapi ya, ini adalah aset-aset atau barang-barang istana. Misalnya, perabot-perabot atau barang-barang itu sudah sekian puluh tahun juga menumpuk, Pak. Jadi, gudang juga makin penuh,” ujarnya.
Selain menyimpan dalam gudang, Prasetyo berupaya agar sebagian benda cagar budaya yang disimpan di gudang Kemensetneg dapat dihibahkan ke museum. Sedangkan, benda lain diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti perabotan rumah maupun kusen.
“Banyak sekali, Pak, misalnya kasur, kursi, itu banyak sekali ini. Meja yang mungkin tidak cukup memiliki nilai historis,” terangnya.
Di hadapan mitra kerja DPR, Mensesneg juga mendiskusikan perihal pengelolaan aset hasil sitaan yang didapat dari kementerian dan lembaga kabinet. Dia khawatir jika tidak dikelola dengan baik, aset sitaan menjadi mangkrak dan beban bagi pemerintah dalam pemeliharaan.
“Termasuk yang tadi disampaikan ini sedikit saja tanggapan mengenai tata kelola barang aset. Memang betul itu juga yang sedang kami diskusikan karena yang paling sering adalah ketika aset sitaan itu diserahkan, itu kemudian tidak mampu mengelolanya," jelasnya.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































