Menuju konten utama

Menkomdigi Sebut Tingkat Keberhasilan Startup RI Cukup Tinggi

Kepercayaan terhadap perusahaan rintisan di Tanah Air perlu untuk terus dibangun.

Menkomdigi Sebut Tingkat Keberhasilan Startup RI Cukup Tinggi
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bersiap mengikuti rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (15/9/2025). Komisi I DPR menyetujui pagu anggaran Kementerian Komunikasi dan Digital sebesar Rp8 triliun untuk tahun anggaran 2026. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengeklaim bahwa tingkat keberhasilan startup Indonesia justru jauh lebih besar dibandingkan negara lain. Namun, ia mengakui bahwa kepercayaan terhadap perusahaan rintisan di Tanah Air perlu untuk terus dibangun.

“Kami memiliki tantangan untuk meyakinkan mengenai startup kami. Tingkat keberhasilan yang terakumulasi dari pertumbuhan dan tahap awal sekitar 10 miliar dolar AS, sementara kegagalan kurang dari 1 miliar dolar AS. Meski angkanya kecil, ini menjadi ruang bagi kami untuk terus meyakinkan bahwa startup Indonesia bisa semakin berkembang,” jelas Meutya dalam acara Tech in Asia Conference, di Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Meutya juga menyoroti kontribusi startup dalam penciptaan lapangan kerja. Ia mengatakan, meskipun hanya menyumbang sekitar 100.000, namun dampak tidak langsungnya ke pembukaan lapangan kerja cukup besar.

“Kami mencatat ada 100.000 orang yang dipekerjakan langsung oleh perusahaan rintisan. Di luar itu, jutaan lapangan kerja lain tercipta sebagai dampak tidak langsung dari kehadiran startup di Indonesia,” ucapnya.

Oleh karena itu, ia melihat bahwa perusahaan rintisan atau startup ini telah menjadi bagian dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Jadi lahirnya startup kita sudah sangat berpengaruh dan menentukan pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” tuturnya.

Dalam kesempatan sama, Pendiri Bukalapak, Achmad Zaky, menyatakan bahwa persentase startup yang gagal di Indonesia tidak lebih dari 5 persen. Ia menekankan bahwa mayoritas perusahaan rintisan justru sukses menciptakan nilai ekonomi dan menjadi tulang punggung ekosistem digital nasional.

Zaky membagi startup Indonesia ke dalam tiga kategori. Kotak pertama diisi perusahaan dengan total valuasi 21 miliar dolar AS seperti GoTo, Tiket.com, Bukalapak, Blibli, Traveloka, DANA, Xendit, Bank Jago, Superbank, dan Ajaib.

Kotak kedua berisi perusahaan menengah dengan total valuasi 6 miliar dolar AS dengan pertumbuhan yang stabil dan jumlahnya banyak, seperti Fore, Ruangguru, dan Sociolla.

“Jika kita gabungkan keduanya, nilai yang mereka ciptakan mencapai 26-27 miliar dolar AS. Media dan masyarakat sering kali hanya fokus pada kotak ketiga, yaitu perusahaan yang gagal. Padahal, seperti Tiny Hub, Zenius, atau Investree, jumlahnya tidak lebih dari 5%,” kata Zaky.

Ia menekankan bahwa fakta ini sering terlupakan di tengah pesimisme yang kadang muncul di pemberitaan. “Kita menggunakan Gojek, GoPay, DANA, Traveloka, Tiket.com, Kitabisa, Stockbit, dan Bibit setiap hari. Semua ini diciptakan oleh founder Indonesia. Ini luar biasa,” ujarnya.

Zaky juga mengenang perjalanan panjang ekosistem startup yang dimulai dari nol. Menurutnya, pada 2010 saat dirinya memulai Bukalapak belum ada venture capital.

“Pada era 2010, bahkan tidak ada venture capital (VC) atau pendana. Sekarang, kita memiliki banyak VC yang luar biasa,” tambahnya.

Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana