Menuju konten utama

Menjadikan ChatGPT Sebagai Teman Belajar, Bukan Jawaban Instan

Menyadari potensi besarnya penggunaan ChatGPT untuk belajar, OpenAI terus berinovasi dalam produk interaktif dalam belajar.

Menjadikan ChatGPT Sebagai Teman Belajar, Bukan Jawaban Instan
Raghav Gupta, Head Of Education Asia Pacific OpenAI. FOTO/Dok: Hoffman Agency

tirto.id - Selepas Maghrib, Muhammad Agha Nazih, siswa SMAN 1 Kudus, menghabiskan waktu berjam jam untuk belajar menggunakan ChatGPT. Dia memakai sejumlah fitur untuk mempelajari materi hingga membuat soal sendiri. Sampai akhirnya meraih nilai sempurna 100 di Fisika.

Agha menjadi contoh bagaimana AI khususnya di OpenAI bisa dimanfaatkan sebagai teman belajar, bukan sebagai sarana untuk mencari jawaban. Dengan sejumlah fitur terbaru, para siswa kini bisa lebih berinteraksi dengan mesin guna memberikan pemahaman mendalam terkait pelajaran.

Raghav Gupta, Head of Education Asia Pacific OpenAI, menyampaikan sejumlah riset tentang cara belajar memakai AI. Dia menekankan tentang pentingnya AI tidak dijadikan sebagai jalan pintas.

"Studi menunjukkan bahwa jika Anda menggunakan AI hanya sebagai alat jalan pintas, itu akan melarutkan proses kognitif. Hal tersebut tidak membantu pembelajaran, melainkan melemahkannya," tegas Raghav dalam wawancara dengan jurnalis di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Berdasarkan hasil perilaku pengguna OpenAI, Raghav mengungkapkan semakin banyak siswa yang memanfaatkan AI sebagai bagian dari proses belajar. Saat ini, setidaknya ada 900 juta pengguna ChatGPT aktif mingguan secara global, dengan sekitar 140 juta pengguna memakainya untuk belajar matematika dan sains.

Lalu, sebanyak 40% di antaranya berusia di bawah 24 tahun. Mereka menggunakan ChatGPT untuk membantu mengerjakan tugas, menulis, belajar, serta memahami konsep yang belum sepenuhnya mereka pahami dari materi perkuliahan.

Dia juga menambahkan, sekitar 20% dari percakapan global di ChatGPT terkait dengan pembelajaran. Dalam kurun waktu tiga tahun sejak diluncurkan, ChatGPT telah berkembang menjadi salah satu platform pembelajaran terbesar di dunia.

Sementara di Indonesia, sekitar 55% pengguna ChatGPT di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan profesional muda berusia 18–34 tahun.

“Pada bulan Maret 2026 saja, pengguna di Indonesia mengirimkan lebih dari 450 juta pesan terkait pendidikan dan pembelajaran ke ChatGPT. Indonesia termasuk dalam 5 negara teratas secara global untuk jumlah pesan terkait pendidikan dan pembelajaran yang dikirim per pengguna,” jelasnya.

Metodologi Baru: Dari Teks ke Visual Interaktif

Menyadari potensi besarnya penggunaan ChatGPT untuk belajar, OpenAI terus berinovasi dalam produk interaktif dalam belajar. Fokus utamanya adalah mengubah penggunaan pasif menjadi penggunaan terpandu (guided usage).

Salah satu terobosan utamanya adalah Interactive Learning. Selama ini, AI cenderung memberikan deskripsi teks yang statis. Kini, untuk konsep seperti Teorema Pythagoras atau perhitungan luas lingkaran, ChatGPT menyajikannya secara visual dan dinamis. Siswa tidak lagi sekadar membaca rumus, tetapi bisa mengubah ukuran variabel secara langsung dan melihat dampaknya terhadap struktur geometri secara real-time. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 70 konsep matematika dan fisika yang diintegrasikan dengan pendekatan visual interaktif ini untuk memancing pemahaman konseptual, bukan sekadar hafalan.

Selain itu, fitur Study Mode dirancang bersama para ilmuwan pembelajaran untuk berfungsi sebagai tutor interaktif. Alih-alih langsung menyodorkan jawaban, model ini akan memberikan petunjuk (hints), penjelasan langkah-demi-langkah, dan pertanyaan reflektif yang memaksa siswa untuk tetap berpikir mandiri.

Studi Bank Dunia di Nigeria menunjukkan bahwa bimbingan AI selama enam minggu mampu memberikan peningkatan hasil belajar setara dengan 1,5 hingga 2 tahun sekolah formal. Hal ini sejalan dengan teori Bloom’s Two Sigma yang menekankan keunggulan bimbingan satu-lawan-satu (one-on-one tutoring).

Di akhir hari, peran pengajar justru menjadi lebih krusial sebagai penjaga moral dan pembimbing etika penggunaan AI. Pergeseran dari pemecahan masalah (problem solving) menjadi pembingkaian masalah (problem framing) menuntut manusia untuk lebih tajam dalam berpikir kritis dan melakukan penilaian (judgment).

“Peran guru menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya. AI dapat membantu mereka dalam perencanaan pelajaran dan penilaian, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk mentoring dan mengajar langsung. Guru juga berperan kunci dalam membimbing siswa mengenai penggunaan AI yang aman, etis, dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait CHATGPT atau tulisan lainnya dari Rachmadin Ismail

tirto.id - Flash News
Penulis: Rachmadin Ismail
Editor: Anggun P Situmorang