Mengenal Teori-teori Konflik Sosial Menurut para Ahli Sosiologi

Oleh: Muhammad Ibnu Azzulfa - 8 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Konflik sosial adalah salah satu tema penting di ilmu sosiologi. Sejumlah ahli sosiologi merumuskan teori yang khusus menjelaskan konflik sosial.
tirto.id - Hubungan antarindividu dalam masyarakat, dalam studi sosiologi, disebut dengan interaksi sosial. Proses interaksi antarindividu dalam masyarakat ini bisa mengakibatkan 2 kategori dampak, yakni asosiatif (hubungan semakin erat) dan disosiatif (hubungan merenggang).

Kedua bentuk interaksi itu melekat pada hubungan antarindividu sehingga dapat mempengaruhi masyarakat. Salah satu bentuk asosiatif misalnya kerja sama. Sebaliknya contoh bentuk disosiatif yaitu adanya konflik, demikian seperti dikutip dari laman Rumah Belajar Kemendikbud.

Konflik sosial muncul ketika perbedaan antarindividu atau kelompok dalam masyarakat tidak dapat dinetralisir atau didamaikan. Konflik sosial tidak terjadi dengan sendirinya. Meski penyebab utama konflik sosial adalah perbedaan di tengah masyarakat, banyak faktor yang bisa terkait dengannya.

Masih mengutip sumber dari Kemdikbud, setidaknya terdapat 4 faktor utama yang sering kali jadi penyebab konflik sosial. Keempatnya adalah: perbedaan antar-individu; perbedaan kebudayaan dan latarbelakang individu maupun kelompok; perbedaan kepentingan; dan perubahan sosial yang terlalu cepat. Selain itu, masih banyak faktor lain yang bisa memicu konflik sosial.

Maka itu, dalam studi sosiologi, konflik sosial mendapatkan perhatian besar dan memunculkan apa yang disebut teori konflik. Berikut contoh teori-teori konflik menurut sejumlah ahli sosiologi, yang dirangkum dari berbagai sumber, termasuk modul pembelajaran terbitan Kemdikbud.

1. Teori Konflik Karl Marx

Karl Marx sering kali menjadi tokoh utama dalam berbagai pembahasan terkait teori konflik sosial. Karl Marx memandang teori konflik sebagai suatu bentuk pertentangan kelas. Dari sudut pandang itu, ia memperkenalkan konsep struktur kelas di masyarakat.

Teori Marx melihat masyarakat sebagai arena ketimpangan (inequality) yang dapat memicu konflik dan perubahan sosial. Marx menilai konflik di masyarakat berkaitan dengan adanya kelompok yang berkuasa dan dikuasai. Di teori Marx, konflik kelas dipicu oleh pertentangan kepentingan ekonomi.

Selain itu, setidaknya ada 4 konsep dasar dalam teori ini:

  • struktur kelas di masyarakat;
  • kepentingan ekonomi yang saling bertentangan di antara kelas yang berbeda;
  • Adanya pengaruh besar dilihat dari kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang;
  • Adanya pengaruh dari konflik kelas terhadap perubahan struktur sosial.

Mengutip penjelasan Novri Susan dalam buku Sosiologi Konflik: Teori-teori dan Analisis (2009, hlm 22), pertentangan kelas menurut Marx dipicu oleh perbedaan akses terhadap sumber kekuasaan, yakni modal. Dalam masyarakat kapitalis, hal itu menciptakan dua kelas yang saling bertentangan, yakni borjuis dan proletariat.

2. Teori Konflik Lewis A. Coser

Lewis Coser menilai konflik memiliki fungsi positif jika bisa dikelola dan diekspresikan sewajarnya. Sosiologi konflik Lewis Coser mempengaruhi sosiologi konflik pragmatis, atau multidispliner, yang digunakan untuk mengelola konflik dalam perusahaan ataupun organisasi modern lainnya (Novri Susan, 2009, hlm: 46).

Teori konflik menurut Lewis A. Coser memandang sistem sosial bersifat fungsional. Menurut Coser, konflik tidak selalu memiliki sifat negatif. Konflik juga dapat mempererat hubungan antar-individu dalam suatu kelompok.

Coser meyakini keberadaan konflik tidak harus bersifat disfungsional. Oleh karena itu, keberadaan konflik dapat memicu suatu bentuk interaksi dan memicu konsekuensi yang bersifat positif. Selain itu, dengan adanya konflik juga dapat menggerakkan anggota kelompok yang terisolasi menjadi berperan aktif dalam aktivitas kelompoknya.

Selain itu, Coser mengelompokkan konflik sosial menjadi dua jenis, yaitu konflik realistis dan non-realistis. Konflik Realistis adalah konflik yang berdasar dari kekecewaan individu maupun kelompok atas berbagai bentuk permasalahan dalam hubungan sosial. Sementara Konflik non-Realistis lahir karena ada kebutuhan melepaskan ketegangan dari salah satu atau 2 pihak yang berkonflik.

3. Teori Konflik Ralf Dahrendorf

Menurut Ralf Dahrendorf, konflik hanya muncul melalui relasi-relasi sosial dalam sistem. Maka itu, konflik tidak mungkin melibatkan individu ataupun kelompok yang tidak terhubung dalam sistem.

Dalam teori Dahrendorf, relasi-relasi di struktur sosial ditentukan oleh kekuasaan (Novri Susan, 2009, hlm: 39). Adapun kekuasaan yang dimaksud oleh Dahrendorf adalah kekuasaan atas kontrol dan sanksi yang memungkinkan pemilik kekuasaan memberikan perintah dan meraih keuntungan dari mereka yang tidak berkuasa.

Dalam pandangan Dahrendorf, konflik kepentingan menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan dari relasi antara pemilik kekuasaan dan mereka yang tidak berkuasa.

Pada awalnya, Dahrendorf merumuskan teori konflik sebagai teori parsial yang digunakan untuk menganalisis fenomena sosial. Lantas, Dahrendorf melihat masyarakat memiliki dua sisi berbeda, yaitu konflik dan kerja sama.

Berdasarkan pemikiran itu, Dahrendorf menganalisis konflik sosial dengan perspektif dari sosiologi fungsionalisme struktural, untuk menyempurnakan teorinya. Dia pun mengadopsi teori perjuangan kelas Marxian untuk membangun teori kelas dan pertentangan kelas dalam masyarakat industri.

Dehrendorf mengaitkan pemikiran fungsional mengenai struktur dan fungsi masyarakat dengan teori konflik antarkelas sosial. Selain itu, Dehrendorf tidak memandang masyarakat sebagai suatu hal yang statis, melainkan bisa berubah oleh adanya konflik sosial.


Baca juga artikel terkait TEORI SOSIOLOGI atau tulisan menarik lainnya Muhammad Ibnu Azzulfa
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Muhammad Ibnu Azzulfa
Penulis: Muhammad Ibnu Azzulfa
Editor: Addi M Idhom
DarkLight