Mengenal Susan Budihardjo, Guru Para Desainer Fesyen Indonesia

Susan Budihardjo, perancang busana senior yang mendirikan Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) berpose saat ditemui di kantornya, Cikini, Jakarta pada Kamis (4/4/19). tirto.id/Hafitz Maulana
Oleh: Joan Aurelia - 6 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Perkenalkan Susan Budihardjo, pendiri Lembaga Pengajaran Tata Busana yang beroperasi sejak 1980.
tirto.id - Desainer busana Susan Budihardjo selalu bersemangat ketika membicarakan masa muda. Bicara momen-momen seru pada umur 17 membuatnya bergelora.

“Seminggu bisa tiga kali disko,” katanya sambil tertawa. Saya spontan mengangkat kedua alis dan diam beberapa detik setelah mendengar pernyataan itu.

Ia menyebut beberapa diskotek favorit seperti Mini Disco dan Hotel Borobudur, tempat langganannya berdansa-dansi seraya mendengar lagu-lagu Jimmy Hendrix dan YMCA. Pada masa itu, ujar Susan, seluruh pengunjung turun ke lantai dansa dan bergoyang di bawah deretan lampu bundar warna warni.

“Zaman itu hanya joget. Tidak konsumsi obat-obatan dan tidak mabuk-mabukan,” kenang perempuan berusia 70 tahun itu.

Hobi bersenang-senang ternyata membuat Susan selalu merasa perlu baju baru. Ia enggan tampil biasa-biasa saja. Apalagi di diskotek ada banyak ‘anak Menteng’ yang punya gaya paling keren pada dekade 1970-an. “Anak Selatan enggak ada apa-apanya. Enggak terdengar.”

Fesyen andalannya saat itu adalah atasan ketat yang diikat di atas perut, celana cutbray, hot pants, dan sepatu wedges setinggi 12cm.

“Rambut panjang lurus setengah lengan dan pakai ikat kepala. Atasan bisa ganti-ganti mulai dari kebaya, kemeja, atau kemben. Rata-rata dibuat sendiri dan dipadupadankan sesuka hati. Tidak ada sumber inspirasi tertentu karena majalah fesyen pada masa itu masih sangat jarang,” katanya.


Perawakan susan yang cukup semampai dan langsing mungkin membuatnya terlihat seperiti model. Sampai-sampai beberapa kawan disko Susan mengagumi penampilannya dan meminta Susan membuatkan busana untuk mereka. Tentu dengan prinsip ‘yang lain daripada yang lain’.

Dari sanalah muncul keinginan jadi desainer busana. Setelah menempuh pendidikan di jurusan arsitektur Universitas Tarumanegara, ia belajar tata busana di lembaga pendidikan yang kini bernama Akademi Senirupa dan Desain ISWI.

Kala itu ISWI belum jadi institusi pendidikan yang menawarkan berbagai mata pelajaran terkait mode. Program belajar mengajar pun dibuat untuk waktu satu tahun. Materi pendidikannya berisi teknik pembuatan busana. Meminjam istilah Susan, “diajarkan jadi tukang jahit".

Susan yang tidak puas memutuskan pergi ke Jerman demi mendapat pendidikan mode yang lebih baik. Pada 1970-an Jerman jadi pilihan karena menawarkan program pendidikan gratis dan berbagai kemudahan lain bagi calon mahasiswa luar negeri.

Tapi bagi Susan, pendidikan mode di Jerman pun kurang memuaskan. Ia pun pindah ke London untuk melanjutkan studi fesyen. Sebagai kota mode yang kala itu lebih menarik hatinya ketimbang Paris, London memberinya kesempatan untuk mempelajari apapun yang ia inginkan.

“Ternyata jadi desainer saja tak cukup. Saya mau ada tempat belajar mode yang proper di Jakarta.”

Ia cukup percaya diri untuk membuka ruang belajar desain busana meski tidak menyandang titel dari institusi pendidikan mode atau mendapat banyak penghargaan. Ranah fesyen saat itu belum menarik perhatian publik luas. Namun, Susan merasa kemampuan, kemauan, dan bakatnya sudah bisa jadi bekal yang cukup.

Ia mulai merancang kurikulum pendidikan yang terinspirasi dari beberapa kelas yang ia masuki selama belajar di London dan Jerman. Pembuatan pola, sejarah mode, dan teknik merancang busana jadi materi awal yang diberikan kepada murid.

“Awalnya cuma ada satu murid dan aku,” kata perempuan yang mendirikan Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo (LPTB ) pada 1980.

Selain mengajar, Susan juga mencari guru dan melakukan kegiatan pemasaran.

“Jalan paling efektif saat itu adalah ikut Lomba Perancang Mode yang diselenggarakan Femina Grup.”

Calon murid pun berdatangan. Pada pertengahan 1980-an, Susan mendapat puluhan murid. Beberapa guru ia rekrut dari kampus dalam dan luar negeri. Pada kurun waktu yang sama ia memutuskan berhenti menyelenggarakan peragaan busana tahunan dan merancang busana untuk klien perorangan.


Ia menemukan kenikmatan sebagai pendidik. Sejak itu, momen terbaik ia rasakan ketika mengajar murid dan menyaksikan mereka merilis koleksi-koleksi busana hebat yang mendapat penghargaan di berbagai kompetisi mode.

Kami berjumpa sehari setelah peragaan busana Adrian Gan, salah satu muridnya. Peragaan busana diselenggarakan di Hotel Mulia dan mengundang ratusan klien privat yang berasal dari kalangan konglomerat ibukota.

“Sejak dulu sudah terlihat bakatnya dan saya bangga dia bisa jadi seperti itu sekarang. Begitu pula dengan Sebastian Gunawan, Didi Budiardjo, dan Eddy Betty,” kata Susan menyebut beberapa nama desainer kondang tanah air yang pernah jadi muridnya.

Sebetulnya ia ingin meminta para desainer untuk mengajar di sekolahnya. Tapi Susan sadar pekerjaan pendidik membutuh komitmen yang besar. Pengalamannya memperlihatkan bahwa para desainer yang terbiasa bekerja sesuai intuisi dan mood bisa seketika emoh mengajar dan memilih untuk merancang busana saja.

Hal lain yang sempat menguras pikirannya dulu adalah masa-masa ketika sekolah mode luar negeri mulai dibuka di Indonesia. Jurusan desain busana juga didirikan oleh kampus-kampus lokal.

“Guru-guru di sekolah ini dibajak. Jelas saya tidak bisa membayar lebih. Yang bisa saya lakukan hanya meminta tolong agar mereka tidak membocorkan materi dan metode pengajaran yang dimiliki sekolah ini. Tapi aku juga enggak bisa menjamin hal itu dilakukan,” tuturnya.

Ia menyiasati persaingan dengan terus berinovasi dalam menciptakan materi pembelajaran baru. Kini LPTB setidaknya punya 20 mata pelajaran yang diajarkan kepada murid dalam kurun waktu 1,5 tahun. Beberapa mata pelajaran itu ialah Experimental Textile, The Art of Draping, Fashion Research, Styling, Merchandising & Marketing, dan Handpainting.

“Untungnya masih ada beberapa guru yang loyal yang masih mau mengajar meski usianya sudah kepala tujuh dan kesulitan naik tangga. Dan ada murid-murid mode dari universitas lain yang mendaftar ke sini. Mungkin karena ada materi yang beda.”


Sejak awal berdiri, jumlah murid LPTB dalam setahun tidak pernah lebih dari 50 orang. Keterbatasan fasilitas itu dimanfaatkan sebagai jalan untuk memberi pengajaran yang lebih intensif.

Dari balik kaca ruang rapat, saya melihat wajah-wajah remaja perempuan 18 tahunan berseliweran dan duduk santai di ruang serba hitam di lantai dasar ruko tiga lantai kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

“Anak-anak di sini rata-rata memang berusia muda. Setidaknya ada kemajuan, fesyen tidak lagi dianggap sebelah mata. Tapi mereka yang muda-muda ini masih suka kebingungan memilih kain. Mindset-nya masih mengarah ke anggapan bahwa kain harus mahal.”



Saya dan Susan duduk berdampingan di belakang manekin-manekin yang mengenakan terusan hitam hasil olahan sprei dan handuk bekas hotel. Beberapa waktu sebelum kami bertemu, Susan bercerita sempat kebingungan lantaran dikirim dua truk berisi handuk dan sprei bekas dari sebuah grup hotel.

Perusahaan tersebut mengajak Susan bekerjasama untuk melatih para ibu rumah tangga di Bali agar bisa membuat busana dan aksesori sederhana dari kain bekas. Harapannya, aktivitas itu bisa menjadi sumber mata pencaharian.

Susan tak keberatan. Dalam hati ia mengatakan bahwa pendidikan soft skill tetap diperlukan agar para ibu kelak bisa konsisten mengoptimalkan keterampilan barunya. Di sisi lain, ia pun merasa perlu memberi perspektif baru untuk murid.


Baju-baju itu hanyalah contoh yang diharapkan bisa memantik inspirasi. “Tidak mudah membuat baju dari barang bekas. Ada banyak tahap dan biaya cukup besar yang dibutuhkan untuk mengolah kain agar layak dijadikan bahan busana. Ujung-ujungnya kain dan busana tidak bisa dipatok dengan harga murah,” kata Susan soal tantangan mempraktikkan prinsip sustainable fashion atau fesyen ramah lingkungan.

Setidaknya ia berupaya menghadapi tantangan itu.

Susan mengatakan bahwa kerjasama mengolah ‘sampah’ adalah hal baru baginya. Ia sendiri masih memikirkan hal-hal apa yang bisa dibuat agar kain bekas tidak berakhir jadi sampah yang merusak alam.

Ia pernah vakum dari industri mode selama tujuh tahun karena bosan. Ia merasa ruang lingkup mode yang sarat keglamoran sesungguhnya tak cocok untuk dirinya. Ia tak nyaman tampil dan bersosialisasi di keramaian. Menurutnya, menyaksikan peragaan busana tidaklah penting—kecuali peragaan dari para muridnya.

Kamera pun sesungguhnya tidak membuatnya nyaman. Ia enggan dipotret di media cetak maupun online. Tapi hari itu saya tidak mengajukan pilihan selain foto profil. Publik perlu tahu dan mengingat wajah desainer perempuan generasi kedua di Indonesia yang konsisten di ranah pendidikan mode. Terlalu sayang bila nasibnya seperti Non Kawilarang, desainer busana era 1960-an yang arsip karyanya kini tak bisa ditemukan.

Ia merasa nyaman di dua tempat. Pertama, di dalam ruang workshopnya di Petojo, Jakarta Utara, tempat ia menemui segelintir klien privat. Kedua, di rumahnya di Bogor.

“Jakarta terlalu riuh. Saya enggak sanggup tinggal di kota ini. Saya butuh pemandangan hijau dan ketenangan.”

Baca juga artikel terkait DESAINER BUSANA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight