Menuju konten utama

Mengatasi Skeptisme: Mendorong Pemahaman pada Produk Bebas Asap

Produk bebas asap terbukti lebih baik bagi perokok dewasa, tetapi edukasi dan kolaborasi lintas sektor masih dibutuhkan untuk memberi pemahaman ke publik.

Mengatasi Skeptisme: Mendorong Pemahaman pada Produk Bebas Asap
Vice President Communications and Engagement Philip Morris International (PMI), Tommaso Di Giovanni, menyampaikan presentasi dalam konferensi internasional "Technovation: Smoke-Free by PMI" di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Rabu (8/10/2025). (Foto/Dok. Rachmadin Ismail).
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Produk bebas asap telah terbukti secara ilmiah sebagai alternatif yang lebih baik bagi perokok dewasa yang memilih untuk tetap menggunakan produk tembakau atau nikotin. Namun, tantangan besar masih dihadapi dalam hal sosialisasi dan edukasi terhadap produk ini.

Hal ini menjadi sorotan dalam konferensi "Technovation: Smoke-Free by PMI" yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Rabu (8/10/2025).

Vice President Communications and Engagement Philip Morris International (PMI), Tommaso Di Giovanni, menegaskan bahwa pemahaman publik terhadap produk bebas asap masih belum sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

"Belum sepenuhnya sejalan dengan ilmu pengetahuan," kata Tommaso.

Menurutnya, miskonsepsi yang beredar di masyarakat membuat banyak orang menyamakan semua produk tembakau sebagai sama berbahayanya. Padahal, terdapat perbedaan mendasar antara produk tembakau yang dibakar dan yang tidak dibakar. Ketidaktahuan ini memperlambat adopsi terhadap alternatif yang lebih baik.

“Masih banyak yang merokok [bakar] hari ini dan tidak berhenti atau beralih ke produk yang lebih baik adalah harga yang harus dibayar karena skeptisme,” tambahnya.

Skeptisme ini juga berdampak pada kebingungan di kalangan masyarakat, termasuk tenaga kesehatan. Tommaso mencontohkan survei di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa sekitar 80% dokter masih meyakini bahwa nikotin adalah penyebab kanker, padahal bukan.

Faktanya, nikotin murni tidak menghasilkan zat karsinogen. Zat berbahaya utama dalam kebiasaan merokok berasal dari TAR—senyawa kimia berbahaya yang terbentuk saat tembakau dibakar.

Menurut US Food and Drug Administration (FDA), nikotin memang bersifat adiktif dan dapat menyebabkan ketergantungan. Namun, nikotin bukanlah penyebab utama dari berbagai penyakit berbahaya terkait kebiasaan merokok. Penyakit-penyakit tersebut dipicu oleh paparan zat kimia hasil pembakaran rokok.

Hal ini juga ditegaskan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC), bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menyatakan bahwa nikotin tidak secara umum diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik. Efek utamanya adalah menciptakan ketergantungan, bukan memicu kanker secara langsung.

Lebih lanjut, American Cancer Society mencatat bahwa asap tembakau mengandung lebih dari 7.000 zat kimia, termasuk setidaknya 70 karsinogen yang diketahui. Namun, nikotin tidak termasuk dalam daftar zat penyebab kanker tersebut.

Rilis PMI Dubai

Vice President Communications and Engagement Philip Morris International (PMI), Tommaso Di Giovanni, saat menjadi narasumber dalam konferensi internasional 'Technovation: Smoke-Free by PMI' yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Rabu (8/10/2025). (Foto/Dok. Rachmadin Ismail)

Sebagai solusi, dikembangkanlah produk bebas asap yang dapat mengurangi risiko dari kebiasaan merokok. Produk-produk ini mencakup produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, dan kantong nikotin.

“Pemahaman konsumen dan akses terhadap informasi yang akurat tentang produk bebas asap adalah kunci,” tambah Tommaso.

PMI telah menginvestasikan lebih dari USD 14 miliar sejak 2008 untuk pengembangan produk bebas asap. Pada 2024, 99,5% dari total pengeluaran R&D PMI didedikasikan untuk produk ini.

Di Indonesia, PMI melalui PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) mengalokasikan lebih dari 330 juta USD untuk pengembangan produk bebas asap, termasuk pembangunan fasilitas produksi dan laboratorium penelitian kelas dunia di Karawang, Jawa Barat. Fasilitas ini didukung oleh 200 tenaga ahli berkualifikasi tinggi dari dalam negeri.

Filosofi utama dari produk bebas asap adalah harm reduction atau pengurangan bahaya. Dengan menghilangkan proses pembakaran, produk ini secara signifikan mengurangi paparan zat berbahaya dan berpotensi berbahaya. Karena tidak melalui proses pembakaran, produk alternatif ini dinilai jauh lebih baik daripada terus merokok.

Apa Solusinya untuk Melawan Skeptisme?

Solusi untuk mengatasi skeptisme terhadap produk bebas asap adalah kolaborasi lintas sektor. Semua pihak—mulai dari konsumen, pemerintah, komunitas tenaga kesehatan, akademisi, media, hingga industri—perlu membuka komunikasi dan menyediakan akses terhadap informasi yang akurat.

“Ini sangat memungkinkan, saat semua elemen itu bisa terjadi, perubahan maka akan bisa terjadi lebih cepat,” tutup Tommaso.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI TEMBAKAU atau tulisan lainnya dari Rachmadin Ismail

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Rachmadin Ismail
Editor: Addi M Idhom