tirto.id - Di sebuah ruang ganti yang pengap oleh bau keringat, seorang atlet merayakan maskulinitas lewat masa otot, tekel keras, dan seberapa presisi kakinya mampu menendang bola. Tampil dominan jadi satu-satunya cara agar dia dihargai di lapangan.
Beberapa jam setelahnya, di sebuah ruang kelas yang sejuk oleh angin AC, si atlet tetiba merasa pandir di hadapan guru dan murid-murid lain.
Lapangan dan kelas.
Banyak atlet pelajar di seluruh dunia menghabiskan masa muda di antara dua dunia itu. Salah satunya adalah kisah Matthew O’Toole yang ia tulis di blog Medium pribadinya. Ia menuangkan pengalaman hari-hari penuh keresahan, saat dianggap tidak cukup pintar di kelas, tapi dilabeli “kutu buku” oleh rekan setimnya di lapangan.
Sebagai atlet pelajar, O’Toole sempat terjebak dikotomi kuno, dituntut memilih jadi mesin fisik tangguh bagi klubnya atau jadi pemikir tekun saja di ruang kelas. Masyarakat, lewat sebuah mekanisme bernama prasangka, jarang memberi izin ke seseorang untuk menjadi keduanya sekaligus.
Maka lahirlah stigma dumb jock, sebuah label bagi para atlet bertubuh atletis tapi dianggap berotak udang. Ada banyak orang yang yang masih meremehkan kapasitas berpikir para atlet.
Padahal, riset menunjukkan, stigma itu bisa meneror psikologis mereka.
Prasangka Naif
"Cara Anda menilai seseorang sering kali memengaruhi cara orang itu berperilaku di kemudian hari," ujar seorang eks atlet gulat, Azizbek Nematillaev, di TEDx.
"Logikanya yaitu jika Anda memperlakukan seseorang seperti orang yang tidak kompeten dan bodoh, mereka cenderung jadi tidak kompeten dan bodoh. Jika Anda memperlakukan mereka seperti orang cerdas dan kompeten, hal itu mendorong mereka untuk jadi cerdas dan kompeten."
Cerita Azizbek senada dengan sesuatu yang disebut oleh Psikolog Sian Beilock sebagai stereotype threat. Saat seorang atlet memasuki ruang kelas dengan keyakinan bahwa orang-orang menganggapnya bodoh, kemampuan akademiknya seolah hilang.
Apakah karena tidak punya kapasitas intelektual? Bukan, justru karena pikirannya lebih dulu ditelan oleh rasa cemas akibat stereotip itu. Ironisnya, kecemasan malah berdampak mengurangi konsentrasi, daya ingat, sampai kemampuan akademik atlet.
Azizbek juga menceritakan ironi saat dia mendengar percakapan seorang dewasa dengan anak sekolah yang baru akan lulus. Saat si anak mengaku tak menguasai matematika, bahasa asing, maupun mata pelajaran lainnya, si dewasa langsung menyarankan anak itu masuk ke fakultas olahraga dengan dalih "yang penting fisik bagus".
Bias akademis kuno itu secara historis dikenal sebagai dumb-jock hypothesis. Psikolog David A. Rosenbaum menjelaskan, stigma tersebut langgeng karena adanya asumsi keliru bahwa "seseorang tidak harus cerdas secara IQ untuk bisa bergerak dengan baik." Akibatnya, psikologi tradisional juga sempat lama terjebak dalam pandangan kognisi yang terpisah dari tubuh (disembodied cognition).
Angka-angka dalam riset Gabrielle Longo bertajuk "Scoring a Goal against the Dumb Jock Stereotype" telah mematahkan stigma tak berdasar itu.
Surveinya terhadap atlet pelajar di Divisi I dan Divisi III di Amerika Serikat menunjukkan, sekitar 41 persen responden meluangkan waktu lebih dari 20 jam setiap pekan untuk menekuni cabang olahraga mereka. Di sela jadwal padat itu, mereka juga meluangkan 15-24 jam untuk belajar dan mengerjakan tugas.
Artinya, para atlet pelajar tersebut menghabiskan waktu sampai 44 jam per minggu demi menyeimbangkan dua dunia, akademik dan olahraga, lebih panjang ketimbang jam kantoran orang dewasa.
Sayang, ruang kelas seringkali tetap memandang para atlet pelajar dengan tatapan miring. Atlet sepakbola perempuan Division III, dalam riset Longo, mengaku nilainya dipotong oleh dosen karena absen demi pertandingan resmi. Atlet lain bercerita bagaimana surat dispen ditolak oleh dosen dengan alasan, "Kamu tak ada bedanya dengan mahasiswa lain."
Untungnya, kutukan dumb jock tidak sepenuhnya menaklukkan atlet pelajar. Dalam risetnya, Longo menemukan sekitar 90 persen dari mereka bermotivasi tinggi untuk belajar. Alih-alih sekadar mengejar nilai agar tetap boleh bertanding, mereka melakukannya karena memang ingin berkembang.

Namun, mengapa stereotip itu bertahan begitu lama? Apakah karena masyarakat masih memelihara definisi kecerdasan pakai kacamata kuno?
Selama lebih dari seabad, manusia dinilai lewat skor ujian, rapor, dan IQ. Ruang kelas dianggap satu-satunya panggung tempat kecerdasan dipertontonkan, sementara lapangan olahraga dipandang sekadar arena adu fisik. Seolah saat seseorang mengenakan seragam olahraga, kapasitas intelektualnya ikut tercabut.
Padahal, ilmu psikologi dan neurosains modern sudah bergerak melampaui cara pandang itu, melalui paradigma Kognisi Mengejawantah atau Embodied Cognition. Pendekatan tersebut menegaskan, proses berpikir manusia tidak terisolasi di otak, melainkan juga berakar dan disimulasikan melalui aktivitas sensorimotor tubuh.
Saat atlet bertanding, mereka mengaktifkan sistem Kognisi Motorik (Motor Cognition) yang kompleks. Itu adalah proses mental tingkat tinggi untuk merencanakan gerakan, membaca ruang kosong, memecahkan strategi taktis, dan mengantisipasi tindakan lawan, dalam tempo sepersekian detik.
Marc Jeannerod, ahli ilmu saraf yang telah diakui secara internasional, menjelaskan bahwa upaya membayangkan sebuah gerakan dan mengeksekusinya di lapanganmelibatkan mekanisme saraf otak yang sama. Bahkan, otak atlet elit mengalami spesialisasi jaringan saraf yang bikin integrasi sensorimotor dan regulasi emosi mereka jauh lebih unggul dibanding non-atlet.
Perbedaannya hanya pada medium. Seorang siswa menyelesaikan persoalan matematika di atas kertas, sementara atlet menyelesaikan soal yang tidak kalah rumit via tubuh dan gerak. Keduanya sama-sama mengolah informasi, memprediksi peluang, dan dituntut untuk memilih keputusan terbaik.
Menghindari Tragedi
Kutukan dumb jock kian berbahaya saat karier seorang atlet purna. Dunia olahraga berumur pendek. Cedera, usia, atau penurunan performa, menjadi hal wajar yang menyebabkan karier atlet berakhir dalam hitungan musim. Saat itu terjadi, orang-orang yang sejak muda diyakinkan bahwa dirinya "hanya orang lapangan" kerap kesulitan beradaptasi dengan kehidupan baru.
Fenomena itu tidak asing di Indonesia. Kita berkali-kali menyaksikan eks atlet terpaksa kerja serabutan, bahkan menjual medali demi menyambung hidup.
Tentu penyebabnya tidak tunggal. Namun, stereotip yang bikin atlet mengabaikan pendidikan atau pengembangan diri jelas turut mempersempit pilihan hidup mereka setelah gantung sepatu.
Hambatan itu juga kerap datang dari lingkaran terdekat. Azizbek salah satunya. Ia mengenang kejadian saat meminta sang ibu membelikannya buku fisika untuk persiapan olimpiade sekolah, tetapi ibunya justru meragukannya.
"Saya meminta ibu untuk membelikan buku pelajaran fisika, tetapi beliau menjawab: 'Kenapa? Kamu tidak perlu belajar fisika, kamu seorang pegulat.'”
Azizbek menolak tunduk pada batasan itu. Ia memutus kutukan dumb jock dengan menang olimpiade fisika tingkat distrik dua tahun berturut-turut pada 2014 dan 2015, serta tembus jajaran mahasiswa terbaik saat mendalami biologi.
"Fisika adalah pelajaran favorit saya di sekolah dan itu membantu saya dalam memahami beberapa konsep sulit dalam biomekanika olahraga. Sekarang saya menggunakan biologi untuk memahami fisiologi olahraga dengan lebih baik." ujar Azizbek.
Hari ini kita mulai melihat kian banyak contoh serupa yang menolak tunduk pada stigma kuno dumb jock. Eduardo Camavinga memanfaatkan jeda kompetisi dengan ikut kursus bisnis di Harvard saat dia tidak dipanggil Timnas Prancis di Piala Dunia 2026. Matthew Freese jadi lulusan Harvard pertama di Piala Dunia 2026 yang bermain sebagai penjaga gawang utama Timnas Amerika Serikat.
Di tanah air, Yanto Basna, eks bek Timnas Indonesia, menunjukkan bahwa karier olahraga dan akademik bisa berjalan beriringan. Dia mampu bersekolah sampai lulus jenjang magister, mengejar gelar doktor, sembari berkarier sebagai dosen di Papua.
Otot dan otak tidak pernah saling meniadakan. Bukankah keduanya bisa tumbuh bersama, melahirkan manusia yang oke secara jasmani sekaligus matang secara intelektual? Bisa saja, 'kan, seseorang menyukai tekel-tekel keras di pagi hari dan memecahkan soal fisika di sore hari, sembari mencintai puisi di malam hari?
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id







































