Mengapa Kabar Kematian Selebritas Bikin Publik Berduka?

Ilustrasi menggunakan aplikasi media sosial setelah kematian. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 27 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Interaksi parasosial memungkinkan publik merasa punya ikatan yang sangat dekat dengan selebritas idola mereka.
Sehari setelah hari kematian Ashraf Sinclair, acara televisi seperti Silet dan tayangan variety show populer asuhan Uya Kuya, Pagi Pagi Past Happy, mulai menayangkan berbagai video lawas almarhum bersama istrinya, Bunga Citra Lestari (BCL). Ada kalanya tayangan video juga diselingi dengan komentar dari kalangan selebritas lain mengenai Sinclair.

Di berbagai kanal hiburan di media online, sudut pandang mengenai kematian Sinclair diberitakan lebih variatif. Mulai dari dugaan penyebab kematian, firasat dari sang anak, sampai kabar soal kalimat terakhir yang diucapkan BCL ketika membangunkan sang suami pada hari kematiannya.

Layaknya kabar soal selebritas lain yang meninggal--terlebih secara mendadak--di mana saja, berita-berita terkait belum surut tayang hingga beberapa hari ke depannya.

Kematian Kobe Bryant pada Januari lalu bisa jadi contoh pertama. Beberapa menit setelah kabar kematian Bryant dipublikasikan, linimasa media sosial dipenuhi oleh foto maupun video mengenai legenda LA Lakers tersebut bersama sang putri yang juga ikut tewas, Gianna Bryant. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan tidak mengikuti dunia basket tapi ikut berkabung karena kabar kematian tersebut.

Beberapa media populer seperti Buzzfeed menayangkan ekspresi duka para fans Bryant. Mereka menaruh bunga, lilin, dan menulis ucapan-ucapan duka di area stadion Staples Center, AS. Di muka benda-benda itu, fans Bryant menangis dan berpelukan untuk saling menguatkan.

Di dalam negeri, berita kematian Bryant bahkan masih ditayangkan hingga 12 Februari lalu--Bryant meninggal pada 26 Januari 2020.

Bermula Sejak Kematian John F. Kennedy


Ungkapan duka cita dari publik terkait kabar selebritas yang meninggal berawal saat mantan Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy, meninggal pada 25 November 1963.

Menurut laporan Reuters, peliputan media soal wafatnya JFK disiarkan selama empat hari berturut-turut. Media merekam seluruh proses pemakaman sampai waktu di mana JFK dikuburkan dan menayangkannya secara langsung tanpa jeda iklan.

Nielsen, salah satu lembaga pengukur rating terkemuka menyebut, berita soal kematian JFK adalah pemberitaan yang memiliki rating tertinggi karena diminati oleh publik AS. Ketika pihak Gedung Putih mengonfirmasi kematian sang presiden, 45,5% pemirsa di rumah menonton dari televisi. Jumlah tersebut meningkat menjadi 81% ketika peti mati Kennedy tiba di Arlington National Cemetery.

Tak hanya itu, para warga AS juga datang langsung dan mengelilingi kawasan rumah JFK untuk melayat Pak Presiden.


Ide siaran langsung televisi dari tempat kejadian kala itu masih amat langka dilakukan. Terutama karena keterbatasan teknologi. Para kru televisi pun harus berjibaku memindahkan peralatan berat mereka ke markas besar kepolisian Dallas, lalu merangkai kabel-kabel ke dinding gedung.

Namun, kerja keras tersebut menghasilkan sesuatu yang spektakuler: siaran pemakaman JFK jadi acuan berbagai televisi dalam melakukan liputan langsung hingga sekarang.

"Pembunuhan Kennedy menjadi template untuk liputan," kata Bob Schieffer kepada Reuters. 50 tahun lalu, Schieffer meliput acara untuk Fort Worth Star Telegram dan sekarang menjadi penyiar veteran di CBS. Ia melanjutkan: "Kami bekerja di salah satu momen terburuk dalam kehidupan bangsa saat itu dan kami tidak tahu apa yang harus dilakukan, seperti apa yang terjadi pada 9/11."

Sejak siaran mengenai kematian JFK tersebut, pemberitaan soal meninggalnya selebritas atau pesohor selalu diikuti dengan kabar soal histeria warga yang melayat dan aksi-aksi mereka dalam mengekspresikan duka.

Ketika Putri Diana meninggal pada 1997, untuk menyebut contoh lain, warga Inggris mengelilingi istana Buckingham. Mereka mengirim bunga, menaruh foto, meletakkan lilin, dan berhimpun di sana seraya bebrayan menuangkan kesedihan.

Dalam tulisannya di The Conversation, Hilda Maclean, kandidat Doktor School of Social Science, University of Queensland, menjelaskan bahwa public mourning seperti yang dilakukan saat kematian Diana sesungguhnya adalah tradisi yang diwariskan dari zaman Victoria. Pada masa tersebut, bila ada pesohor yang meninggal, publik akan berkumpul untuk berduka bersama.

Tradisi tersebut diterapkan juga dalam negara-negara koloni Inggris seperti Australia. Seiring berjalannya waktu, public mourning jadi praktik yang lumrah dilakukan di negara-negara lain seperti AS. Selain itu, public mourning juga dipandang sebagai salah satu cara pembuktian diri bahwa seseorang mengikuti isu yang sedang ramai diperbincangkan.

Sekarang, ekspresi duka itu tidak hanya dilakukan dengan aksi di kehidupan nyata tetapi juga berbagai unggahan di media sosial.

Mengapa Merasa Perlu Menyampaikan Duka?


Menurut Spee Kosloff, psikolog dari California State University yang diwawancarai Washington Post, histeria publik terhadap kematian pesohor terjadi karena mereka menganggap selebritas sebagai sosok yang spesial dan simbol ketenaran, kemakmuran, atau keunikan. Maka ketika sang idola meninggal, sang fans merasa sudah kehilangan satu hal yang spesial.

Para fans tersebut kemudian mencoba menunjukkan betapa spesialnya sosok idola dengan mengungkap banyak hal tentang karya mereka. Contoh: menunjukkan bahwa ia mendengarkan lagu-lagu atau album yang jarang terekspos, atau membaca tulisan-tulisan yang tidak mudah ditemui di media lain.

Jurnalis Quartz, Katherine Foley, mengutip pendapat sosiolog dari Liverpool Hope University yang menyebut bahwa ketika selebritas meninggal, para fans juga akan mengingat kembali makna sosok tersebut bagi diri sendiri dan dalam kondisi seperti apa ia bertemu dengan mereka.

Alasan lain mengapa publik menyatakan kesedihannya terhadap idola yang tidak mereka kenal adalah karena interaksi parasosial yang tercipta antara individu dan sang idola.



Riset (PDF, 2017) Katie Z, Gach, dkk. yang dipublikasikan Research Gate menjelaskan interaksi parasosial menumbuhkan rasa kebersamaan dan kenikmatan sosial. Di era media sosial, interaksi parasosial tersebut bisa semakin intens lantaran individu bisa langsung berkomunikasi dengan idolanya secara virtual.


Psychology Today mencatat bahwa interaksi parasosial itu dimungkinkan apabila individu merasa kesepian. Rasa kesepian ini bisa disebabkan karena mereka bukan pribadi yang mudah menjalin interaksi dengan orang baru atau mereka mudah merasa gugup dalam berinteraksi dengan orang lain.

Pemberitaan di media dan media sosial tentang selebritas menciptakan kedekatan virtual di antara mereka. Studi "From People Power to Mass Hysteria" yang terbit dalam International Journal of Cultural Studies (2008) mencatat bahwa media massa membangun citra selebritas dengan sebaik dan sedekat mungkin dengan fans, termasuk kesehariannya dan cara berpikirnya.

Hal tersebut menciptakan ilusi tentang sifat dan karakter selebritas yang diidolakan. Ketika idola tersebut meninggal, publik pun merasa kehilangan. Ekspresi kesedihan di media sosial juga terjadi karena publik kerap terekspos dengan pemberitaan dan kabar terkait di media massa.

Namun begitu, momen kedukaan di media sosial juga bisa memunculkan situasi negatif. Dalam penelitian Gach terkait Facebook, massa yang sedang berduka hanya memandang ucapan belasungkawa serta kenangan positif tentang selebritas yang meninggal. Komentar di luar itu bisa dipandang menyimpang.

Ucapan belasungkawa Emma Watson tentang meninggalnya Alan Rickman, aktor kawakan asal Inggris, pada Januari 2016 lalu, misalnya, dianggap memiliki "agenda tersendiri" karena ia menyempilkan isu feminisme. Adapun hal tersebut dilakukan Watson karena selama ini Rickman juga fokus dengan isu terkait.

Baca juga artikel terkait BERITA DUKA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight