tirto.id - Tangan kanan Sidik Mulyadi tampak penuh membawa tisu basah hingga makanan siap saji. Langkahnya cepat menyusuri lorong Hotel Diyar Tayibah. Ia hendak menemui seorang jemaah haji lanjut usia (lansia) yang membutuhkan pelayanan khusus.
Sesampainya di lantai atas, Sidik—begitu ia akrab disapa—langsung masuk ke kamar sang jemaah. Dengan lembut, ia membangunkannya. "Bapak, Assalamualaikum," ucapnya, Jumat (16/5/2025).
Setelah bangun, Sidik segera membersihkan tubuh jemaah tersebut dengan tisu basah. Usai itu, ia menyiapkan sarapan. "Ini makanannya, Pak, saya suapin ya."
Dengan telaten, Sidik menyuapi sang jemaah yang tampak lahap menyantap hidangan. "Saya dan semua petugas di sini adalah anak bapak. Jadi, bapak tidak sendiri," ucapnya menenangkan.
Sidik Mulyadi merupakan petugas haji bidang layanan lansia yang bertugas di Sektor 5, Madinah. Ia menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, menganggap jemaah seperti orang tuanya sendiri. Bagi Sidik, ini adalah ladang ibadah demi meraih rida Allah SWT.

Kasi Lansia, Disabilitas dan PKP2JH Daerah Kerja (Daker) Madinah, Didit Sigit Kurniawan, menjelaskan bahwa pelayanan terhadap jemaah lansia diberikan secara menyeluruh, khususnya bagi mereka yang datang tanpa pendamping atau keluarga.
"Layanan diberikan sejak pagi hingga malam, termasuk memandikan, menyuapi, dan mendampingi beribadah di Masjid Nabawi," kata dia.
Petugas akan memverifikasi kondisi jemaah saat tiba di hotel. "Kalau datang tanpa keluarga, langsung kita masukkan ke dalam kategori perhatian khusus."
Ikhtiar Mewujudkan Haji Ramah Lansia
Pemerintah, melalui Kementerian Agama (Kemenag), terus berikhtiar untuk menghadirkan penyelenggaraan haji yang ramah lansia. Berbagai fasilitas dan kemudahan turut terlaksana pada musim haji tahun ini. Sejumlah terobosan yang dihadirkan antara lain murur, tanazul, hingga safari wukuf.
Murur adalah pergerakan jemaah haji dari Arafah melintas di Muzdalifah lalu menuju ke Mina saat puncak haji. Jemaah diberangkatkan dari Arafah setelah magrib menuju Muzdalifah, tanpa turun, dan langsung menuju ke Mina.
Murur secara sistematis kali pertama diterapkan pada penyelenggaraaan haji 2024. Terobosan ini berhasil mempercepat proses mobilisasi jemaah dari Muzdalifah ke Mina hingga selesai pada pukul 07.37 waktu Arab Saudi. Lebih dari 50 ribu jemaah haji Indonesia yang mengikuti skema ini dan itu berhasil mengurangi kepadatan jemaah di Muzdalifah.
Sementara itu, skema safari wukuf lansia non mandiri juga diperkuat. Skema ini sudah diterapkan dalam dua musim haji terakhir. Ratusan jemaah lansia dan disabilitas difasilitasi untuk melaksanakan safari wukuf. Mereka difasilitasi baik pada aspek transportasi, konsumsi, maupun akomodasinya.
Terkait skema tanazul, kebijakan ini dalam rangka mengurangi kepadatan jemaah haji saat mabit (menginap) di tenda Mina. Konsepnya, jemaah yang tinggal di hotel dekat area jamarat, akan kembali ke hotel (tidak menempati tenda di Mina).
Editor: Fahreza Rizky
Masuk tirto.id





























