tirto.id - Sukarno adalah generasi kedua penduduk Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang datang lewat program transmigrasi. Orang tuanya sudah sejak tahun 1992 tinggal di sana menjadi petani. Sejak 2019, giliran Sukarno yang mencari rezeki di Morowali.
Bersama 13 anggota lainnya, Sukarno merupakan anggota kelompok tani bernama Berkah Petani Mombula di Desa Le-Le. Pria asal Bojonegoro, Jawa Tengah, tersebut mengubah lahan yang tadinya tidak produktif dengan kadar PH yang tidak ideal untuk bercocok tanam, menjadi lahan yang menghasilkan produk pertanian dengan nilai tinggi.
Mereka menanam komoditas seperti sawi, terong, cabai, timun hingga gambas. Mereka bisa menghasilkan panen sebanyak 2-7 ton per bulan. Dengan rata rata pendapatan kotor per orang bisa mencapai Rp15-20 juta per bulan.
“Alhamdulillah bisa untuk cukup hidup di sini,” kata Sukarno kepada para jurnalis peserta media tour di kawasan IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah, Senin (22/7/2025).
Kelompok tani ini menjual 50% dari hasil panennya ke kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Sisanya kemudian dijual ke pasar terdekat di sekitar area pertanian.
IMIP membantu kelompok kelompok tani ini sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR). Setidaknya ada 13 kelompok lain yang dibantu lewat program pendidikan, penyediaan alat kerja sampai pendampingan untuk penjualan hasil panen.
Ada Gula Ada Semut
Kisah Sukarno yang datang merantau ke Morowali untuk mencari rezeki belakangan diikuti oleh banyak orang lainnya. Sejak dibukanya kawasan IMIP yang memiliki jumlah pekerja per Juni 2025 mencapai 85 ribu orang, kawasan Kecamatan Bahodopi menjadi lebih ramai.
“Ada gula, ada semut,” kata Djoko Suprapto, General Service Manager IMIP kepada media yang mengikuti acara media tour IMIP pada 20-25 Juli 2025 lalu.
Gula yang dimaksud adalah kawasan IMIP yang saat ini menjadi tujuan para pekerja smelter dan pabrik. Dengan banyaknya lowongan kerja di IMIP, maka ada efek domino lain yang akan muncul secara ekonomi.
Banyak orang kini membuka usaha dadakan di dekat kawasan IMIP. Mulai dari warung makanan, usaha kos-kosan, warung untuk transaksi keuangan, bahkan mulai juga bermunculan toko-toko franchise seperti Indomaret, Alfamart, hingga produk produk franchise asing seperti Mixue dan lainnya.
Dalam catatan pihak IMIP, sejak tahun 2021 sampai 2025, jumlah usaha yang ada di Kecamatan Bahodopi, meningkat tajam. Awalnya hanya ada 4.697 unit usaha. Kini jumlahnya naik sampai 62,7% jadi 7.643 usaha.
Usaha terbanyak yang muncul di kecamatan tersebut terdiri dari kios sebanyak 981, stan minuman sebanyak 735, bengkel 274 usaha, agen perbankan 274 usaha, toko pakaian 263 usaha dan banyak lainnya. Mereka memenuhi badan-badan jalan sampai ke pinggiran pantai dekat kawasan IMIP.
Hadir juga hotel bintang tiga, wisma dan penginapan penginapan kelas melati untuk para pelancong. Namun yang paling menjamur adalah kos-kosan. Kebutuhan tempat tinggal bagi para pekerja pabrik sangat tinggi.
“Harga kos-kosan di sini mulai dari Rp1 juta per bulan itu kosong, nggak ada kasur dan lainnya. Paling mahal Rp3 juta per bulan,” kata Madi, salah seorang pemandu kami bercerita.
Lowongan Kerja di IMIP
Jumlah pekerja di kawasan IMIP diprediksi akan terus bertambah seiring dengan pengembangan kawasan tersebut. Saat ini ada sedikitnya 54 tenant di IMIP, 30 di antaranya sudah beroperasi, sisanya masih dalam tahap konstruksi.
HR Director IMIP Achmanto Mendatu menjelaskan, proses rekrutmen pekerja di IMIP pernah menembus 800-1.000 orang per bulan. Saat ini, jumlahnya menurun sampai 200 orang per bulan. Bila pabrik yang dalam proses konstruksi selesai, maka rekrutmen bisa jadi lebih banyak lagi.
“Sekarang lagi slow down, karena ada beberapa pabrik yang belum mulai operasi,” kata Datu.
Dia menyarankan bagi yang mau bekerja di kawasan IMIP silakan membuka laman rekrutmen.imip.co.id. Semua proses penerimaan kerja akan dilakukan satu pintu melalui websie tersebut.
Adapun kualifikasi pekerja yang dibutuhkan paling banyak saat ini adalah orang orang yang memiliki kemampuan dalam bidang rekayasa atau engineering. Terutama yang datang dari teknik mesin, listrik, fisika, kimia mineral dan metalurgi.
“Orang orang yang non skill pasti kita prioritaskan dari Sulawesi dan sekitarnya. Kalau orang datang dengan skill teknis, bisa melamar dari mana saja boleh dari seluruh Indonesia,” kaat Datu.
Selain itu, IMIP juga menyediakan beasiswa untuk membantu para mahasiswa yang mau meneruskan jadi pegawai. Namanya Beasiswa Hilirisasi IMIP. Total 1.042 mahasiswa telah menerima beasiswa ini di berbagai perguruan tinggi di Indonesia per tahun 2025. Selain itu, ada Beasiswa Politeknik yang khusus diberikan kepada 244 mahasiswa Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), di mana mereka menerima beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) penuh dari semester satu hingga selesai.
Informasi yang disampaikan oleh para pekerja IMIP, gaji yang didapatkan untuk para pekerja lulusan baru mencapai Rp 6-7 juta. Selain itu, ada juga tambahan dari lembur dan pendapatan tambahan lainnya dari tunjangan.
Tertarik bekerja di Morowali?
Editor: Dwi Ayuningtyas
Masuk tirto.id





































