Menuju konten utama

Menbud Tolak Pembongkaran Warisan Budaya Dunia UNESCO di Sumbar

Pembongkaran jalur kereta Lembah Anai tidak bisa dilakukan tergesa-gesa dan harus melalui kajian mendalam.

Menbud Tolak Pembongkaran Warisan Budaya Dunia UNESCO di Sumbar
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, saat diwawancarai awak media usai meninjau lokasi banjir bandang di kawasan Batu Busuk, Kota Padang, Rabu (24/12/2025). Fadli menolak rencana pembongkaran jalur kereta api di kawasan Lembah Anai dan menyarankan agar diperbaiki. tirto.id/Fajar Alfaridho Herman

tirto.id - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, merespons rencana pembongkaran jalur dan jembatan kereta api bergerigi yang masuk ke dalam Warisan Budaya Dunia UNESCO di kawasan Lembah Anai, Provinsi Sumatera Barat.

Jalur kereta api Lembah Anai merupakan bagian dari Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) yang telah ditetapkan UNESCO sejak 6 Juli 2019 di Azerbaijan.

Fadli Zon bilang, langkah pembongkaran tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa dan harus melalui kajian mendalam, mengingat kawasan tersebut merupakan bagian dari warisan budaya dunia.

Ia menyebutkan bahwa jumlah cagar budaya yang terdampak di daerah Sumatera Barat relatif tidak banyak dan sebagian besar hanya mengalami gangguan ringan akibat lumpur atau tanah.

“Kita nggak terlalu banyak ya untuk cagar budaya, tapi memang ada misalnya yang di Lembah Anai itu yang menjadi warisan budaya dunia, selebihnya mungkin ada makam-makam yang sudah jadi cagar budaya yang tergenang lumpur," katanya kepada awak media saat meninjau lokasi banjir bandang di Batu Busuk, Kota Padang, Rabu (24/12/2025).

"Kemarin rumah Rasuna Said yang di Kabupaten Agam kan juga terdampak banjir. Ya, itu termasuk yang kita bantu, kita dukung, semua kita data,” ujar Fadli Zon.

Ia menambahkan, secara keseluruhan terdapat sekitar 89 titik cagar budaya di Sumatera Barat yang terdampak, namun kondisinya dinilai relatif ringan.

“Cuma gara-gara tanah atau lumpur. Jadi ringan lah, relatif ringan,” katanya.

Terkait secara khusus jembatan rel kereta api di Lembah Anai, Fadli Zon menegaskan bahwa opsi perbaikan harus menjadi prioritas utama dibandingkan pembongkaran.

Menurutnya, pemerintah pusat akan terlebih dahulu melakukan peninjauan langsung ke lokasi sebelum mengambil keputusan.

“Jadi jembatan rel kereta api di Lembah Anai ini nanti akan saya lihat ya, memang perlu ada satu kajian ya. Kalau saya cenderung misalnya kalau bisa kita perbaiki tentu kita harus perbaiki, sebaiknya sih diperbaiki. Bukan dibongkar, dan akan kita tinjau dulu ke lokasi,” tegasnya.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III, Nurmatias, mengatakan dalam pembahasan bersama pihak terkait, terdapat dua lokasi jembatan yang diajukan oleh pihak teknis untuk dilakukan pembongkaran.

Lokasi pertama berada di kawasan depan Air Terjun Lembah Anai, sedangkan lokasi kedua adalah Jembatan Lengkung II, yang merupakan salah satu dari jembatan kembar di jalur tersebut dan terletak di perbatasan Kabupaten Tanah Datar dengan Kota Padang Panjang, tepatnya di kawasan Mega Mendung.

“Dari pihak teknis memang ada keinginan agar jembatan-jembatan tersebut dibongkar. Namun dari sisi pelestarian budaya, kami masih memiliki opsi untuk mempertahankan,” ujar Nurmatias.

Ia juga mengungkapkan bahwa jembatan kereta api di dekat Air Terjun Lembah Anai memiliki tinggi sekitar 4 meter 10 sentimeter, sementara standar ideal tinggi jembatan untuk jalur transportasi adalah 5 meter 10 sentimeter. Akibatnya, kendaraan bertonase besar, terutama truk, kerap mengalami kendala saat melintas.

Sementara itu, pada Jembatan Lengkung II di Mega Mendung, ditemukan pergeseran fondasi sekitar 15 sentimeter yang menyebabkan struktur jembatan dalam kondisi miring.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan dan menjadi salah satu alasan pengajuan pembongkaran oleh pihak teknis.

“Ini yang harus kita selesaikan bersama. Apakah jembatan tersebut masih bisa dipertahankan dengan konsolidasi dan penguatan struktur, atau diperlukan penanganan lain. Semua akan ditentukan berdasarkan hasil kajian,” ujarnya.

Nurmatias menekankan, terdapat perbedaan sudut pandang antara aspek ekonomi dan keselamatan transportasi dengan aspek pelestarian warisan budaya dunia.

Di satu sisi, pihak teknis melihat potensi risiko kecelakaan dan hambatan transportasi. Namun di sisi lain, pemerintah memiliki komitmen internasional untuk menjaga dan mempertahankan WTBOS.

Baca juga artikel terkait WARISAN BUDAYA DUNIA atau tulisan lainnya dari Fajar Alfaridho Herman

tirto.id - Flash News
Kontributor: Fajar Alfaridho Herman
Penulis: Fajar Alfaridho Herman
Editor: Siti Fatimah