Menuju konten utama

Warisan Budaya Dunia Terancam Dibongkar Imbas Banjir di Sumbar

Pihak teknis menginginkan pembongkaran. Namun pelestari budaya berupaya mempertahankan.

Warisan Budaya Dunia Terancam Dibongkar Imbas Banjir di Sumbar
Jembatan rel kereta api bergerigi yang terletak di kawasan Lembah Anai, Provinsi Sumatera Barat beberapa waktu lalu. Jalur kereta yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ini terancam dibongkar karena kondisi yang memprihatinkan setelah diterjang banjir bandang. (Istimewa/BPK Wilayah III). foto/Fajar

tirto.id - Warisan Budaya Dunia UNESCO berupa jalur kereta api bergerigi yang terletak di kawasan Lembah Anai, Provinsi Sumatera Barat terancam dibongkar. Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) itu turut terdampak banjir bandang yang menerjang kawasan Lembah Anai.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III, Nurmatias, merespons kabar terkait pembongkaran jalur kereta api di kawasan tersebut. Dia menjelaskan, pihaknya tengah berdiskusi dan berkoordinasi dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Padang, serta unsur lainnya. Pembahasan tersebut secara khusus menyoroti kondisi jembatan kereta api yang berada di jalur Lembah Anai.

Nurmatias

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III, Nurmatias, saat diwawancarai, Rabu (24/12/2025). Jalur kereta yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ini terancam dibongkar karena kondisi yang memprihatinkan setelah diterjang banjir bandang. (tirto.id/Fajar Alfaridho Herman) foto/Fajar

Nurmatias membeberkan, terdapat dua lokasi jembatan yang diajukan oleh pihak teknis untuk dilakukan pembongkaran. Lokasi pertama berada di kawasan depan Air Terjun Lembah Anai. Sedangkan lokasi kedua, adalah Jembatan Lengkung II di kawasan Mega Mendung.

“Dari pihak teknis memang ada keinginan agar jembatan-jembatan tersebut dibongkar. Namun dari sisi pelestarian budaya, kami masih memiliki opsi untuk mempertahankan,” ujar Nurmatias.

Ia menegaskan, jalur kereta api Lembah Anai merupakan bagian dari Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) yang telah ditetapkan UNESCO sejak 6 Juli 2019 di Azerbaijan.

Oleh karena itu, setiap rencana perubahan, termasuk pembongkaran, harus melalui prosedur ketat, termasuk kajian ilmiah dan permohonan izin kepada UNESCO.

“Ini sudah masuk ranah warisan budaya dunia. Kita tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Harus ada studi atau kajian terlebih dahulu, sesuai aturan internasional maupun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” jelasnya.

Nurmatias menambahkan, berdasarkan surat yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, pemerintah pusat memberikan sinyal agar dilakukan kajian terhadap kondisi jembatan dan jalur kereta api tersebut. Kajian awal ditargetkan selesai pada akhir Desember 2025. Namun dimungkinkan, berlanjut hingga akhir Januari 2026.

Nurmatias bilang, kajian cagar budaya tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa dan membutuhkan pertimbangan teknis serta administratif lainnya.

“BPJN juga akan meminta data dan informasi dari kami untuk bahan kajian. Ini semua dalam rangka melestarikan WTBOS agar kita tidak disalahkan oleh pihak warisan budaya dunia,” katanya.

Terkait permasalahan teknis, Nurmatias mengungkapkan, jembatan kereta api di dekat Air Terjun Lembah Anai memiliki tinggi sekitar 4 meter 10 sentimeter. Sementara standar ideal tinggi jembatan untuk jalur transportasi adalah 5 meter 10 sentimeter. Akibatnya, kendaraan bertonase besar, terutama truk, kerap mengalami kendala saat melintas.

Sementara itu, pada Jembatan Lengkung II di Mega Mendung, ditemukan pergeseran fondasi sekitar 15 sentimeter yang menyebabkan struktur jembatan dalam kondisi miring.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan dan menjadi salah satu alasan pengajuan pembongkaran oleh pihak teknis.

“Ini yang harus kita selesaikan bersama. Apakah jembatan tersebut masih bisa dipertahankan dengan konsolidasi dan penguatan struktur, atau diperlukan penanganan lain. Semua akan ditentukan berdasarkan hasil kajian,” ujarnya.

Ada Perbedaan Pandangan

Jembatan Warisan UNESCO

Jembatan rel kereta api bergerigi yang terletak di kawasan Lembah Anai, Provinsi Sumatera Barat beberapa waktu lalu. Jalur kereta yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ini terancam dibongkar karena kondisi yang memprihatinkan setelah diterjang banjir bandang. (Istimewa/BPK Wilayah III). foto/Fajar

Nurmatias menekankan, terdapat perbedaan sudut pandang antara aspek ekonomi dan keselamatan transportasi dengan aspek pelestarian warisan budaya dunia. Di satu sisi, pihak teknis melihat potensi risiko kecelakaan dan hambatan transportasi. Namun di sisi lain, pemerintah memiliki komitmen internasional untuk menjaga dan mempertahankan WTBOS.

WTBOS terdiri dari tiga sektor utama. Sektor A yang berada di kawasan tambang Sawahlunto. Sektor B yang mencakup jalur perkeretaapian beserta rel, stasiun, jembatan, dan seluruh unsur pendukung transportasi batubara dari Sawahlunto ke Teluk Bayur. Sektor C yang berada di kawasan Pelabuhan Teluk Bayur, termasuk silo dan fasilitas pengapalan batubara.

“Kereta api dan seluruh infrastrukturnya adalah bagian penting dari Sektor B WTBOS. Ini tidak bisa dipisahkan begitu saja,” tegasnya.

Terkait isu anggaran, Nurmatias menepis anggapan biaya perbaikan lebih besar dibandingkan pembongkaran. Menurutnya, selama menyangkut warisan dunia UNESCO, negara harus memiliki komitmen penuh untuk menyediakan anggaran yang dibutuhkan.

“Berapa pun anggarannya harus ada. Ini menyangkut kepercayaan dunia internasional kepada bangsa kita dalam menjaga WTBOS,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kondisi kawasan Lembah Anai yang dalam dua tahun terakhir kerap terdampak banjir bandang, baik akibat material dari Gunung Marapi maupun faktor alam lainnya, yang memengaruhi kenyamanan dan keamanan jalur transportasi di kawasan tersebut.

Selain dua jembatan di Lembah Anai, BPK Wilayah III juga mencatat adanya lokasi lain yang akan menjadi perhatian dalam evaluasi WTBOS, yakni jembatan perlintasan kereta api di Batu Taba, Kabupaten Tanah Datar.

Jembatan tersebut memiliki permasalahan serupa, terutama saat hujan deras, di mana kendaraan bermuatan berat sering tersangkut.

“Selain jembatan, kondisi rel yang sudah tertutup rumput dan material lain juga perlu dibersihkan dan ditata ulang agar masyarakat dapat melihat dan memahami kondisi Sektor B WTBOS,” tambahnya.

Nurmatias menegaskan, seluruh pembahasan saat ini masih berada pada tahap kajian dan evaluasi. Keputusan akhir, apakah dilakukan pembongkaran, perbaikan, atau penguatan struktur, akan ditentukan setelah seluruh proses kajian selesai dan mendapatkan persetujuan dari pihak terkait, termasuk UNESCO.

“Yang jelas, tujuan utama kami adalah melestarikan Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto dengan tetap mempertimbangkan aspek keselamatan dan kepentingan publik,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait WARISAN BUDAYA DUNIA atau tulisan lainnya dari Fajar Alfaridho Herman

tirto.id - Flash News
Kontributor: Fajar Alfaridho Herman
Penulis: Fajar Alfaridho Herman
Editor: Siti Fatimah