Menuju konten utama

Membeli Waras via Tiket Konser: Self-Reward atau Doom Spending?

Membeli tiket konser dan traveling bisa menjadi self-reward yang sehat untuk melepas penat, asalkan tidak menjadi pelarian finansial yang impulsif.

Membeli Waras via Tiket Konser: Self-Reward atau Doom Spending?
Header Diajeng Berburu Konser. foto/IStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lampu arena belum sepenuhnya padam ketika euforia itu mulai terasa. Di tengah ribuan orang yang bernyanyi bersama, Retno Ayu (27) merasa beban yang selama ini dipikulnya seolah luruh begitu saja. Bagi perempuan penggemar K-pop itu, konser bukan sekadar hiburan.

“Buat apresiasi diri sendiri dan melepas kepenatan. Karena di konser kita bisa bebas teriak-teriak, nyanyi-nyanyi,” ungkap Retno saat bercerita kepada Tirto, Jumat (3/7/2026).

Demi momen itu, ia rela merogoh kocek hingga sekitar Rp10 juta untuk tiket VIP, belum termasuk biaya lain seperti lightstick, transportasi, dan makan. Desember 2026 menjadi bulan yang paling dinanti oleh Retno. Kalender di ponselnya sudah ditandai, dan selembar tiket digital telah aman di tangan.

Kini, ia tengah menghitung hari menuju salah satu gelaran musik paling dinanti tahun ini: konser BTS World Tour “Arirang” di Jakarta. Bagi Retno, konser ini momen pembuktian dari penantian panjangnya untuk kembali melihat idola kesayangannya beraksi langsung di atas panggung megah ibu kota.

Perasaan bahagia serupa juga dicari Givanska Gita (24). Di balik tiket seharga jutaan rupiah, ada rasa lega, euforia, hingga kebahagiaan yang selama beberapa jam mampu melesapkan beragam persoalan dalam kepalannya. Menjadi penggemar K-Pop memang menuntut komitmen finansial yang tidak sedikit, dan perempuan ini memahami betul konsekuensi tersebut.

Dengan rekam jejak menghadiri tiga konser besar, ia sudah terbiasa mengalokasikan dana sekitar Rp4 juta untuk setiap gelaran yang dihadirinya. Anggaran jutaan rupiah itu ia anggap sepadan, terutama saat mengenang konser The Dream Show 2 (TDS 2) milik NCT Dream. Dari ketiga konser yang pernah ia datangi, aksi panggung NCT Dream tersebut diakuinya sebagai pengalaman paling berkesan yang paling memuaskan kepuasan batinnya sebagai fans.

Konser NCT WISH di Jakarta

Personil grup NCT WISH beraksi di atas panggung saat konser di Tennis Indoor Senayan, Kompleks GBK, Jakarta, Sabtu (31/5/2025).ANTARA FOTO/Fauzan/Spt.

Alasan Gita rela mengeluarkan uang sebesar itu sederhana: ketemu idola yang tak tahu kapan akan bertemu lagi. “Karena ngerasa kapan lagi bisa ketemu bias (idola) dan lagi ada duitnya jadi, ya sudah nonton saja begitu,” katanya kepada Tirto.

Perjuangan mendapatkan tiket pun tak selalu mudah. Berburu tiket konser TDS 2, tak berjalan mulus. Gita pernah gagal mendapatkan tiket via penjualan resmi. Ia tak patah arang. Gita rela berburu tiket yang dijual kembali lewat media sosial.

“Pernah pas TDS 2, gua enggak war tiket, tapi nyari WTS di sosmed sampai stres karena takut kehabisan,” katanya.

Kendati rela merogoh kocek banyak demi hobi, Givanska tidak pernah kehilangan akal sehatnya. Ia dengan tegas menyatakan tidak pernah mengorbankan kebutuhan hidup yang lain demi selembar tiket konser. Baginya, garis pembatas antara prioritas dan hiburan harus tetap dijaga dengan ketat.

Givanska memandang konser bukan sebagai ajang pemborosan, melainkan sebuah bentuk healing dan investasi kebahagiaan. Menariknya, proses penyembuhan stres itu tidak baru dimulai saat ia menginjakkan kaki di stadion, melainkan sejak detik pertama tiket impian berhasil ia amankan di tangan. Ia mengingatkan keputusan membeli tiket tetap harus mempertimbangkan kondisi keuangan.

“Di keadaan ekonomi yang sekarang kita harus bisa nabung jadi tetap mikirin prioritas,” katanya.

Lepas Penat Tak Melulu di Depan Panggung Konser

Bagi Fanin Bi Nurin (25), cara melepas penat bukan dengan berdiri di depan panggung konser, melainkan menjelajah negara lain. Dua hingga tiga kali dalam setahun, ia bepergian ke berbagai destinasi di Asia dengan anggaran sekitar Rp20 juta hingga Rp35 juta untuk setiap perjalanan.

Agar rencana itu terwujud, ia rela menekan pengeluarannya, sehingga gaya hidupnya berubah demi bisa menabung untuk rencana liburannya itu. Menurut pengakuannya, ia menjadi lebih sering naik transportasi umum sesaat pulang kerja, mengurangi frekuensi ke salon, membeli pakaian yang lebih murah, hingga membawa bekal makan siang ke kantor. Baginya, pengorbanan itu sepadan.

“Biasanya nyalon sebulan 3 kali jadi cuma 1 kali, biasanya beli baju Rp500 ribu oke, jadi maksimal harga baju Rp300 ribu. Makan siang buat di kantor juga bekel,” ungkap Fanin saat dihubungi Tirto.

Bagi Fanin, traveling memiliki pelajaran yang berharga: menumbuhkan rasa percaya diri, pengalaman yang tidak bisa dilupakan, bikin punya semangat hidup dan bekerja. Usai perjalanan usai, ia merasa mendapat lebih dari sekadar kesenangan sesaat. Lebih jauh, meski belum banyak memiliki aset seperti salah satunya rumah pribadi, ia merasa memberi ketenangan untuk dirinya lebih penting untuk kondisi ketidakstabilan ekonomi negara saat ini, yakni dengan menyisihkan uang untuk merencanakan liburan.

“Punya nilai lebih dari rasa senang karena ngerasa ternyata dunia luas dan banyak kesempatan di dunia ini membuat kita nggak gampang menyerah dan menumbuhkan banyak harapan,” tambah Fanin.

Cerita mereka mencerminkan kecenderungan yang kian lazim di kalangan generasi muda, yakni menghabiskan uang untuk membeli pengalaman. Konser, perjalanan wisata, hingga berbagai bentuk hiburan kini tak lagi dipandang sebagai pengeluaran biasa, melainkan sebagai cara menghadiahi diri sendiri, melepas penat, bahkan menjaga kesehatan mental.

Di tengah tekanan hidup dan ketidakpastian ekonomi, pengalaman kerap terasa lebih bermakna daripada sekadar menambah kepemilikan. Namun, sampai di mana pengeluaran demi “healing” masih bisa disebut sehat, dan kapan ia berubah menjadi pelarian yang berisiko bagi kondisi psikologis maupun keuangan?

Ketika Healing Berubah Menjadi Doom Spending

Di tengah tekanan hidup dan ketidakpastian ekonomi, pengeluaran untuk konser, traveling, maupun berbagai bentuk hiburan belakangan kerap dikaitkan dengan istilah doom spending. Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang membelanjakan uang untuk memperoleh rasa senang sesaat ketika merasa pesimistis terhadap kondisi ekonomi maupun masa depannya.

Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho, mengatakan doom spending tidak sekadar berarti gemar berbelanja atau menghamburkan uang. Menurut dia, perilaku tersebut dapat muncul sebagai respons atas rasa kecewa dan putus asa ketika seseorang merasa tujuan finansialnya sulit tercapai.

Doom spending itu istilahnya balas dendam ya, balas dendam untuk rasa kecewa, rasa hopeless. ‘Oh saya enggak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan,’” kata Andy.

Andy menilai salah satu pemicunya, pandangan yang berkembang bahwa generasi muda akan makin sulit memiliki rumah atau mencapai tujuan keuangan lain. Ketika keyakinan itu terus tertanam, sebagian orang akhirnya memilih menikmati uang yang dimiliki saat ini daripada menabung untuk sesuatu yang dianggap sulit diwujudkan.

“Lah, saya mau nabung seberapa banyak juga enggak kebeli rumah,’ gitu, kan. Nah akhirnya mereka ini tadi melakukan doom spending ini tadi," tuturnya.

Infografik Doom Spending

Infografik Doom Spending. tirto.id/Mojo

Namun, Andy mengingatkan cara pandang tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh generasi muda. Dalam pengalamannya, masih banyak generasi Z maupun milenial yang tetap berusaha mengelola keuangan dengan baik di tengah berbagai tantangan ekonomi.

“Walaupun mungkin sulit namun mereka tetap berusaha,” katanya.

Menurut Andy, persoalan utama bukanlah pada keputusan seseorang untuk membeli tiket konser atau membiayai perjalanan wisata. Yang lebih penting adalah memastikan pengeluaran tersebut tetap sesuai dengan kemampuan finansial dan telah direncanakan sejak awal.

“Kalau menurut saya yang jadi masalah itu sebenarnya bukan apakah dia nonton konser, apakah dia jalan-jalan begitu, kan, tapi lebih pada masih sesuai enggak dengan kemampuan dan perencanaan finansialnya dia,” ujarnya.

Ia menilai seseorang tetap dapat menikmati pengalaman seperti konser maupun traveling selama pengeluarannya tidak mengganggu kondisi keuangan. Bahkan, bagi mereka yang memiliki pendapatan besar dan tidak memiliki banyak tanggungan, pengeluaran untuk hiburan bukanlah persoalan.

“Nggak masalah juga misalnya kemudian mereka habiskan untuk nonton konser ataupun traveling, nggak masalah. Itu tadi yang penting masih sesuai dengan budgeting-nya itu tadi,” kata Andy.

Andy juga mengingatkan agar masyarakat mampu membedakan antara self-reward yang sehat dengan perilaku konsumtif yang berisiko. Menurut dia, self-reward tetap diperlukan sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri, tetapi pengeluarannya tidak boleh melampaui anggaran yang telah ditetapkan.

“Yang sehat itu adalah yang self reward-nya itu enggak overbudget. Dalam artian penghasilan kita berapa gitu kan, terus kemudian di awal kita juga udah nge-set berapa sih yang kita budget-in untuk self reward kita,” ujarnya.

Sebaliknya, perilaku mulai menjadi berisiko ketika seseorang menggunakan dalih self-reward untuk terus berbelanja hingga melebihi kemampuan finansial, bahkan sampai berhutang.

“Yang bikin berisiko juga adalah ini tadi yang doom spending ini tadi karena sudah self reward-nya berkali-kali, overbudget, bahkan sampai ngutang-ngutang seperti itu. Jadi sebenarnya kita cuma pengin doang bukan butuh begitu ya, namun dikamuflase pakai alasan self reward ini tadi yang berisiko,” kata Andy.

Psikolog: Healing Dimulai dari Cara Kita Memaknai Stres

Jika Andy Nugroho melihat doom spending dari sisi perilaku finansial, Psikolog Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, memandang akar persoalannya justru terletak pada cara seseorang memaknai tekanan hidup. Menurut dia, rasa penat yang mendorong seseorang mencari healing tidak selalu berasal dari beratnya pekerjaan, melainkan dari bagaimana otak mempersepsikan situasi yang dihadapi.

“Orang merasa sumpek, merasa penat, merasa bosan, merasa hidupnya nggak nyaman karena capek dan jenuh, itu sebetulnya kan lebih permasalahannya di bagaimana otak mempersepsi apa yang dia kerjakan,” kata Rose saat dihubungi Tirto.

Menurut Rose, seseorang yang tidak mencintai pekerjaannya atau merasa pekerjaannya hanya menjadi beban akan lebih mudah mengalami kejenuhan. Sebaliknya, ketika seseorang memperoleh kepuasan dari pekerjaannya, tekanan yang dihadapi dapat terasa lebih ringan.

“Itu semua ada di otak. Lalu di otak itu persepsi itu kemudian ditangkap secara emosi di otak juga oleh bagian otak yang kemudian membuat orang merasa harus menjauh atau mendekati masalah itu,” ujarnya.

Oleh karena itu, Rose menilai solusi yang dibutuhkan tidak selalu harus berupa pelarian melalui konser, traveling, atau bentuk hiburan lainnya. Yang lebih penting adalah mencari cara agar seseorang dapat memaknai pekerjaannya secara lebih positif.

Meski demikian, Rose tidak menampik bahwa konser maupun traveling dapat memberikan rasa lega bagi sebagian orang. Menurutnya, hal itu berkaitan dengan harapan yang telah dibangun seseorang jauh sebelum pengalaman tersebut terjadi.

“Dia akan mendapatkan rasa kepuasan yang setimpal setelah dia melewati situasi di mana dia mengumpulkan dananya dan kemudian melihat konser itu sendiri,” jelas Rose.

Liburan ke Malaysia

Liburan ke Malaysia. foto/istockphoto

Rose menekankan kepuasan setelah menghadiri konser maupun melakukan perjalanan wisata bersifat sangat subjektif. Pengalaman yang terasa menyenangkan bagi seseorang belum tentu memberikan perasaan yang sama bagi orang lain.

“Kalau konser dikatakan bagus untuk seseorang, tetapi untuk orang lain, ‘Ih, nggak ah, menurut gue itu konser nggak terlalu bagus.’ Nah, itu kan sangat-sangat subjektif. Jadi tidak bisa kita mengatakan pukul rata bahwa semua orang akan merasakan hal yang sama,” kata Rose.

Menurut dia, istilah healing yang kini populer di kalangan anak muda pada dasarnya tidak selalu harus dimaknai sebagai aktivitas yang membutuhkan biaya besar.

“Sebetulnya healing itu tidak perlu menggunakan sesuatu yang misalnya dipaksakan. Kalau misalnya kita mengatakan healing saya adalah saya ingin punya kesempatan untuk me-time. Saya akan ada di dalam suatu ruangan di dalam rumah saya, bisa leha-leha, tidak ada deadline, tidak ada apa sambil baca buku, itu juga healing,” ujarnya.

Rose menjelaskan, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk memulihkan energi. Ada yang merasa cukup dengan beristirahat di rumah, ada yang memilih kembali ke kampung halaman, ada pula yang merasa perlu bepergian ke luar negeri. Oleh karena itu, menurutnya, tidak ada satu bentuk healing yang bisa dianggap paling tepat untuk semua orang.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan tekanan sosial sebagai alasan untuk mengikuti gaya hidup tertentu. Menurut Rose, ketakutan tertinggal dari lingkungan atau fear of missing out (FOMO) justru dapat mendorong seseorang mengejar pengalaman yang sebenarnya tidak menjadi kebutuhan utamanya.

“Zaman sekarang orang tuh takutnya FOMO sehingga dia merasa perlu melakukan seperti apa yang dilakukan oleh lingkungan atau orang-orang di sekelilingnya karena apa? Karena dia nggak mau ketinggalan,” kata Rose.

Maka dari itu, ia mengimbau masyarakat lebih realistis dalam menentukan skala prioritas sebelum memutuskan mengeluarkan biaya besar demi sebuah pengalaman.

“Jadi kita yang harus lebih realistik menilai apa yang kita lakukan itu apakah betul untuk kebutuhan healing atau bukan sebetulnya,” ujar Rose.

Dopamin, Self-Reward, dan Batas Aman Keuangan

Meski membeli pengalaman seperti konser atau traveling dapat memberikan kepuasan emosional, Perencana Keuangan, Melvin Mumpuni mengingatkan agar keputusan tersebut tetap dibarengi dengan kesadaran terhadap kondisi keuangan. Menurut dia, doom spending merupakan respons psikologis yang wajar, tetapi dapat berujung pada masalah finansial apabila tidak disertai perencanaan yang matang.

Doom spending atau membelanjakan uang secara impulsif untuk meredakan stres, sering kali karena pesimisme terhadap masa depan ekonomi, adalah respons psikologis yang wajar, namun sangat fatal dari sisi finansial,” kata Melvin kepada Tirto.

Melvin menilai doom spending juga berakar pada keputusasaan finansial. Ketika tujuan seperti memiliki rumah atau pensiun dini terasa semakin sulit dicapai, sebagian orang memilih mengalihkan dana yang seharusnya diinvestasikan untuk memperoleh kepuasan instan.

“Dari kacamata saya sebagai perencanaan keuangan, fenomena doom spending terjadi karena adanya keputus-asaan finansial. Generasi muda melihat harga rumah yang meroket dan inflasi yang tinggi, sehingga tujuan keuangan tradisional (punya rumah, pensiun dini) terasa mustahil dicapai. Akhirnya, dana yang seharusnya diinvestasikan dialihkan ke gratifikasi instan seperti konser VIP atau liburan mewah,” ujarnya.

Melvin menilai keputusan membeli pengalaman bukanlah sesuatu yang keliru. Ia melihat adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari mengejar kepemilikan barang menuju pengalaman hidup, sebuah perubahan yang dinilainya wajar.

“Pergeseran pola konsumsi dari Material Economy (membeli barang) ke Experience Economy (membeli pengalaman) adalah hal yang sangat wajar dan didukung oleh riset psikologi,” kata Melvin.

Menurut dia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman dapat menghadirkan kebahagiaan yang lebih bertahan dibandingkan membeli barang yang nilainya terus menyusut. Namun, pengalaman tidak seharusnya diposisikan sebagai pengganti aset atau tujuan keuangan jangka panjang.

“Banyak studi menunjukkan bahwa pengalaman memberikan kebahagiaan yang lebih awet dibandingkan membeli barang fisik yang cepat usang nilainya. Menghargai pengalaman itu sah-sah saja, asalkan tidak diartikan sebagai substitusi (pengganti) aset sepenuhnya,” ujar Melvin.

Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat tetap mendahulukan kebutuhan utama sebelum mengalokasikan dana untuk hiburan atau perjalanan.

“Seandainya kebutuhan utama sudah terpenuhi, membeli pengalaman ada sah-sah saja. Menurut saya perlu membuat prioritas, misal kalau belum punya hunian ya sebaiknya fokus dulu pada hunian,” katanya.

Ilustrasi Konser Jakarta

Ribuan penonton saksikan konser Coldplay di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Rabu (15/11/2023). ANTARA/Pamela Sakina/aa.

Melvin menjelaskan keinginan melakukan self-reward sebenarnya berkaitan dengan kebutuhan manusia memperoleh dopamin, yakni ketika seseorang merasa lelah atau mengalami tekanan.

Self-Reward secara psikologis adalah kebutuhan manusia untuk dopamin. Biasanya terjadi karena seseorang sudah merasa lelah dan stres (hormon kortisol naik),” ujarnya.

Meski demikian, menurut Melvin, memperoleh dopamin tidak selalu harus melalui pengeluaran besar. Ada berbagai cara lain yang lebih ramah di kantong untuk membantu tubuh merasa lebih rileks.

“Ada banyak cara untuk menaikkan dopamin misal belanja, makan, jalan-jalan dan lain sebagainya. Tapi ada cara lain juga sebenarnya yang lebih budget friendly seperti lari (olahraga dan berkeringat), meditasi, baca buku, mandi air hangat, istirahat cukup, dark chocolate,” kata Melvin.

Melvin juga membedakan antara self-reward yang sehat dengan perilaku konsumtif. Menurut dia, self-reward yang sehat lahir sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian atau usaha yang telah dilakukan dan sudah direncanakan melalui pos anggaran khusus.

Pengeluaran semacam ini tidak mengganggu tabungan maupun kebutuhan pokok, serta memberi dampak psikologis berupa meningkatnya motivasi dan kepuasan diri yang lebih bertahan lama.

Sebaliknya, perilaku konsumtif umumnya didorong oleh keinginan impulsif atau pelarian dari emosi negatif, seperti stres, sedih, maupun bosan. Keputusan membeli dilakukan secara spontan tanpa perencanaan, berpotensi menguras tabungan atau bahkan menambah utang. Kepuasan yang diperoleh pun, menurut Melvin, hanya bersifat sementara dan kerap diikuti penyesalan setelah seseorang menyadari besarnya pengeluaran yang telah dilakukan.

Bagi Melvin, menikmati konser atau traveling tetap dapat menjadi bentuk self-reward yang sehat selama tidak mengorbankan keamanan finansial. Ia menilai seseorang sebaiknya terlebih dahulu memastikan kondisi keuangannya aman, mulai dari memiliki penghasilan yang lebih besar daripada pengeluaran, dana darurat sebesar enam hingga 12 kali pengeluaran bulanan, cicilan maksimal 35 persen dari penghasilan, aset yang lebih besar daripada hutang, hingga memiliki perlindungan melalui asuransi.

“Healing sesaat tidak akan menolong ketika terjadi krisis nyata seperti PHK atau sakit,” ujar Melvin.

PENJUALAN TIKET KONSER DREAM THEATER

Warga menunjukan bukti pembelian tiket pra-penjualan konser Dream Theater di Yogyakarta, Kamis (2/8). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Dengan demikian, persoalannya bukan pada keputusan membeli tiket konser atau memesan tiket pesawat, melainkan bagaimana seseorang menempatkan pengeluaran untuk pengalaman itu dalam skala prioritas hidupnya. Aktivitas tersebut memang dapat memberi jeda dari rutinitas, memperbaiki suasana hati, bahkan menghadirkan harapan baru.

Namun, ketika kebahagiaan sesaat diperoleh dengan mengorbankan tabungan, menambah utang, atau semata-mata didorong rasa takut tertinggal dari orang lain, keputusan itu justru dapat menciptakan persoalan baru bagi kondisi psikologis maupun keuangan.

Di tengah tekanan ekonomi dan makin populernya budaya membeli pengalaman, para ahli mengingatkan healing tetap memiliki tempat dalam kehidupan. Namun, nilai sebuah healing bukan ditentukan oleh mahalnya tiket konser atau jauhnya destinasi liburan, melainkan oleh apakah keputusan itu benar-benar lahir dari kebutuhan diri sendiri, dilakukan secara sadar, dan tetap menjaga kesehatan finansial maupun psikologis.

Baca juga artikel terkait KONSER atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - News Plus
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama