tirto.id - Seiring transformasi pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), target profit perusahaan pelat merah ikut dipacu lebih tinggi.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan laba BUMN saat ini telah mencapai Rp330 triliun. Angka tersebut, menurut dia, sudah melampaui laba gabungan BUMN pada 2024, saat perusahaan pelat merah masih berada di bawah Kementerian BUMN.
“Kalau kita lihat dari laporan keuangannya Temasek, net income mereka itu kurang lebih 12 billion, 12 billion Singapura dolar. Jadi kalau kita rupiahkan kurang lebih Rp136 triliun labanya Temasek. Laba kita Rp330 triliun,” kata Dony dikutip dari YouTube CNBC Indonesia, Rabu (2/9/2026).
Dony menargetkan laba BUMN terus meningkat hingga mencapai Rp360 triliun pada akhir 2026. Dengan target tersebut, laba BUMN diklaim hampir dua kali lipat dari laba Temasek Holdings, perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, yang disebut Dony sekitar Rp136 triliun.
“Jadi kalau secara size daripada net income tentu kami sudah lebih besar daripada Temasek. Tahun ini kami harapkan Rp360 triliun, hampir dua kali lipat daripada Temasek, dari Rp136 triliun ke Rp360 triliun,” ujarnya.
Namun, angka Rp330 triliun tersebut belum tercermin dalam laporan keuangan resmi yang telah dipublikasikan kepada publik. Danantara masih menyelesaikan proses konsolidasi dan audit terhadap seluruh entitas BUMN yang masuk dalam portofolionya.
Artinya, capaian Rp330 triliun dan target Rp360 triliun tersebut masih merupakan klaim dan proyeksi manajemen Danantara, bukan angka laba konsolidasi yang telah diaudit.
Target tersebut juga bertumpu pada fondasi kinerja keuangan BUMN yang terbentuk sebelum pengelolaan bisnis perusahaan pelat merah beralih ke Danantara. Pada 2024, di bawah Kementerian BUMN, perusahaan pelat merah mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp311 triliun.
Kinerja tersebut mengalami koreksi 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan laba terjadi di tengah kenaikan beban bunga sebesar 10,4 persen serta kerugian selisih kurs yang mencapai Rp9,7 triliun.
Meski laba tertekan, pendapatan gabungan BUMN pada 2024 tetap tumbuh 7,1 persen secara tahunan menjadi Rp3.141,9 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang sejumlah sektor utama, seperti energi, minyak dan gas, jasa keuangan, serta mineral dan batu bara.
Pada periode yang sama, total aset BUMN meningkat 5,8 persen menjadi Rp11.007,4 triliun.
Kinerja tersebut melanjutkan pemulihan BUMN setelah pandemi. Sepanjang 2019-2024, laba bersih BUMN tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 20 persen. Rasio pengembalian modal atau return on equity (ROE) juga meningkat hingga 8,4 persen.
Fondasi laba, pendapatan, dan aset tersebut kini menjadi pijakan Danantara untuk mendorong profitabilitas BUMN lebih tinggi. Tantangannya, kenaikan laba yang diklaim mencapai Rp330 triliun harus dibuktikan melalui laporan keuangan konsolidasi yang telah diaudit dan dapat dibandingkan secara konsisten dengan kinerja periode sebelumnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































