Melania Trump, Sang Penyendiri yang Terpaksa Jadi Ibu Negara

Oleh: Joan Aurelia - 13 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Melania Trump tidak pernah ingin jadi istri presiden.
tirto.id - Kedua mata Melania Trump basah saat mendengar Donald Trump memenangkan pemilu presiden AS. Hatinya pilu sekaligus merasa tertipu karena mesti menanggung kenyataan harus menjabat sebagai ibu negara. Ia benar-benar tidak pernah menginginkan punya suami presiden.

Beberapa tahun lalu saat sang suami melontarkan angan-angan mau sebagai capres, Melania mengancam berpisah dari Trump. Waktu itu Trump berhasil menenangkan hati istrinya dengan mengatakan bahwa ucapannya hanya lelucon.

Ketika akhirnya benar-benar mencalonkan diri sebagai capres Republikan, Trump berjanji kepada sang istri untuk tidak menang. Melania pun berusaha tenang dan meyakini ucapan pasangannya.

Sayang, janji tinggal janji, dan Melania terpaksa memikirkan hal-hal yang harus dilakukan sebagai ibu negara.

Tugas itu tentu tidak mudah, apalagi dia menggantikan pendahulunya, Michelle Obama, ibu negara yang diidolakan oleh sebagian besar warga AS, bahkan dunia. Melania terpaksa melatih diri untuk berdamai dengan situasi baru dan meninggalkan kenyamanan istana berlapis emas yang dihuninya di New York City.

Kediaman Melania, Trump, dan Barron—anak mereka—terletak di tiga lantai teratas Trump Tower, Manhattan. Desainer interior Angelo Donghia, yang kerap bekerjasama dengan selebritas Hollywood, merancang bagian dalam apartemen dengan gaya Istana Versailles era Louis XIV. Donghia membangun pilar, melukis langit-langit dengan lukisan mitologi Yunani, serta menghias tiap tepi langit-langit dengan ukiran berlapis emas 24 karat.


Di ruangan itu pula setiap harinya, Melania mondar-mandir mengenakan ankle weight—sejenis beban yang diikat di pergelangan kaki untuk menyehatkan tubuh. Ia mempraktikkan kebiasaan makan tujuh jenis buah dan sayur tiap hari. Katanya, itu cara terbaik biar tetap tampil alami dan rupawan pada usia yang tak lagi muda.

“Aku anti botoks dan jenis suntikan wajah lainnya,” kata Melania kepada Julia Ioff, jurnalis GQ, via telepon.

Menurut perkiraan Ioff, Melania meneleponnya dari rumah. Dalam benaknya (dan banyak jurnalis lain), Melania adalah sosok tertutup. Sang ibu negara pantang diekspos media.

Pendapat serupa diutarakan kawan Melania, Matthew Atanian. Melania, ujar Atanian kepada Vanity Fair, bukan orang yang suka menjalin pertemanan, bersosialisasi, dan berpesta pora. “Bisasanya dia kencan dengan pria lebih tua. Itu pun cuma makan malam. Ia tak pernah pulang larut.”

New York ternyata tak mengubah Melania. Ia lahir dan besar di Sevnica, sebuah kota di Slovenia, dengan nama Melanija Knavs. Ayahnya, Viktor Knavs, sempat jadi anggota Partai Komunis Slovenia dan pernah menjalani profesi sopir, staf wali kota, hingga penjual mobil. Ibunya, Amalija Knavs, bekerja sebagai pembuat pola baju di sebuah perusahaan produsen pakaian anak.

Dalam "Melania Trump on Her Rise, Her Family Secrets, and Her True Political Views: “Nobody Will Ever Know” yang terbit di GQ pada April 2016, Ioff mengisahkan Melania kecil punya kebiasaan membeli pakaian di toko. Ia lebih suka menggambar baju dan menyerahkannya ke Amalija untuk dijahit. Dari sana, muncullah cita-cita jadi perancang busana.

Orangtua Melania punya cukup uang untuk mengirimnya kuliah di Universitas Ljubljana dan tinggal di gedung tinggi pertama yang dibangun di kota tersebut.

"Ia tipe orang yang fokus belajar dan tidak mau berpesta, minum-minuman keras, atau merokok," ujar Stane Jerko, fotografer yang mengorbitkan kiprah modeling Melania di Ljubljana.

Infografik Melania Trump
Infografik Melania Trump


Jerko pertama kali berjumpa Melania saat menunggu seorang kawan yang mengikuti audisi model. Sebuah kisah klise terjadi. Jerko ternyata lebih tertarik dengan wajah Melania ketimbang kawannya. Singkat cerita, Melania akhirnya menikmati momen bergaya di depan kamera lalu memutuskan berhenti kuliah agar bisa fokus berkarier di dunia model.

Tenar di Slovenia rupanya tak cukup membuat Melania bangga. Ia ingin jadi supermodel yang dikenal sejagat raya. Ia pindah ke Paris dan Milan serta bergabung pada agen model milik Paolo Zampolli. Setelah Zampolli menawarkan Melania hijrah ke New York, hijrahlah ia ke negeri Paman Sam.

Sayang, mimpi Melania terbentur fakta pahit. Usia 26 tahun dipandang terlalu tua untuk ukuran model. Ia putus asa dan bingung cara bertahan hidup di ibu kota kapitalis dunia.

Walhasil, ia mencari uang dengan dengan membintangi iklan rokok, sebuah pekerjaan yang tak bikin ia tersohor, apalagi kaya raya.

Tapi semuanya berubah pada 1998 ketika Zampolli menggelar sebuah pesta dan mengundang Donald Trump. Si pria tajir Trump yang saat itu datang dengan seorang wanita, terpana menyaksikan Melania. Ketika teman kencannya pergi ke toilet, Trump meminta nomor Melania.

“Kalau aku kasih nomor ponselku, maka aku cuma jadi salah satu wanita yang dia telepon. Aku mau tahu maksud dan tujuan dia. Kita bisa melihat pria dari cara dia memberi nomor telepon. Trump memberiku semua nomornya,” katanya pada Ioff.

Melania mengaku menyukai Donald apa adanya hingga rela menikahi pria tersebut pada 2005. Adapun Trump bahagia mendapatkan istri molek yang irit bicara, tak mau tampil di depan umum, dan nyaman dengan segala kemewahan yang ia berikan.

Melania tak protes di muka publik ketika Trump jelas-jelas menjadikannya bahan lelucon saat diwawancarai penyiar radio Howard Stern pada 2005. Saat itu sang suami bilang akan tetap bertahan dengan Melania selama payudaranya masih elok dipandang.

Melania bahkan tak berkomentar ketika rekaman seks sang suami dengan bintang porno Stormy Daniels tersebar. Gilanya lagi, Trump hanya mengizinkan Melania hamil jika sang istri mampu memastikan bentuk tubuhnya bisa kembali seperti sebelum melahirkan.


Sejak berstatus first lady, tekanan terhadap Melania makin bertambah. Komentar-komentar miring tak pernah berhenti dilontarkan kepadanya, mulai terkait cara berpenampilan hingga program-program yang hendak ia jalani sebagai ibu negara.

Beberapa bulan setelah Trump terpilih sebagai Presiden AS ke-45, Melania menyatakan akan berupaya membasmi perundungan lewat internet (cyberbullying) demi kesehatan mental anak. Namun, tak sedikit yang menganggap kebijakan itu menjiplak inisiatif Michelle Obama.

Mei 2018, Melania meluncurkan Be Best, sebah inisiatif untuk mencegah cyberbullying pada anak. “Aku sadar kalau orang-orang pasti skeptis dengan ideku ini. Komitmenku soal penanganan isu ini selalu saja dikritik, tapi aku akan terus berusaha dan percaya kita bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik,” katanya kepada Time.

Sebelum meluncurkan Be Best, Melania menyatakan maksudnya untuk menolong kaum imigran dari perilaku diskriminatif. Ia sempat mengunjungi kawasan perbatasan AS-Meksiko yang menyemangati imigran.

Media memang mempertanyakan tindak lanjut Melania usai kunjungan itu. Pasalnya, sampai hari ini, Melania belum menginformasikan apa pun terkait masalah imigran.

Melania kembali menjadi sorotan publik saat memuji LeBron James, tak lama setelah sang suami menghina pebasket tersebut.

Ada yang menganggap tindakan Melania sebagai sikap melawan Trump yang memang dikenal anti-imigran. Ada pula yang melihatnya sebagai cara untuk membangun citra positif di tengah situasi yang memburuk bagi imigran.

Baca juga artikel terkait MELANIA TRUMP atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti