Melania Trump, Calon Ibu Negara yang Dibully dan Diremehkan

First Lady Amerika Melania Trump. FOTO/Douglas Friedman
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 4 Desember 2016
Dibaca Normal 2 menit
Ibu negara bukanlah jabatan publik, tapi menyandang gelar itu sungguh berat. Belum resmi jadi ibu negara, Melania Trump kerap diragukan dan diremehkan.
tirto.id - Ceramahnya pada masa kampanye presiden tentang bullying di internet kini terjadi pada dirinya. Ia disudutkan, diremehkan, ditolak, bahkan sebelum resmi duduk di Gedung Putih sebagai pendamping presiden Amerika Serikat.

Menjadi ibu negara adalah tugas tidak mudah. Ibu negara bukan jabatan publik, tapi publik menaruh perhatian besar padanya. Seorang ibu negara mesti punya peran, tapi peran itu harus diatur sedemikian rupa sehingga tak nampak seperti dirinya yang memikul jabatan publik. Belum lagi tuntutan-tuntutan lain terkait citra: harus anggun, sekaligus tegas dan cerdas.

Bagi Melania Trump, ini lebih sulit lagi. Belum apa-apa, banyak pihak sudah meragukan dirinya. Masyarakat Amerika Serikat memandangnya sebelah mata. Karirnya di masa lalu yang menjadi model seksi diungkit-ungkit. Foto-fotonya yang berpakaian minim disebar-sebarkan kembali di media sosial.

Di masa kampanye, hanya dengan bersuamikan seorang Donald Trump saja ia sudah menjadi target empuk cemoohan para pendukung Partai Demokrat. Belum lagi skandal pidatonya yang ternyata mencontek dari pidato Michelle Obama pada 18 Juni lalu. Dan aksi pemojokan itu menguat saat gelar ibu negara semakin mendekati Melania.

Baru-baru ini, misalnya, sejumlah desainer baju ternama Amerika Serikat menolak mendesain baju untuknya. Salah satunya adalah Tom Ford.

Kepada para pembawa acara televisi "The View", Ford mengatakan: "Saya pernah diminta untuk membuatkan baju untuknya [Melania] beberapa tahun yang lalu dan saya menolak [...] Dia tidak sesuai dengan gambaran saya."

Bukan hanya Ford yang bersikap demikian. Sophie Theallet yang kerap membuatkan baju bagi Michelle Obama pada banyak kesempatan, bahkan menuliskan surat terbuka di mana ia bersumpah tidak akan pernah membuatkan baju untuk Melania, dan mengajak desainer yang lain untuk mengikuti langkah serupa.

"Merek Sophie Theallet berdiri melawan semua diskriminasi dan prasangka. [...] Sebagai salah satu yang merayakan dan berjuang untuk keragaman, kebebasan individu, dan menghormati semua gaya hidup, saya tidak akan berpartisipasi dalam membuatkan baju atau mengaitkan diri dengan cara apapun dengan First Lady berikutnya,” tulis Shopie dalam akun Instagram miliknya.

Memang, tidak semua desainer menolak Melania, misalnya Tommy Hilfiger dan Diane von Furstenberg. Tapi penolakan-penolakan terbuka dari desainer macam Theallet menuntuk unjukkan Melania akan menapaki jalan yang tak mudah untuk menjadi ibu negara yang disukai rakyatnya.

Poling yang diterbitkan oleh Washington Post/ABC News pada Agustus lalu juga mempertegas hal itu. Hasilnya menunjukkan popularitas Melania yang terendah jika dibandingkan semua pasangan kandidat presiden AS dalam dua dekade terakhir.

Yang menarik, pasangan kandidat presiden yang mampu mengungguli Melania dalam hal ketidakpopuleran ini tidak lain adalah Hillary Clinton, yang polingnya dilakukan pada Januari 1996.

Pasangan Presiden Barrack Obama, Michelle Obama menduduki posisi puncak ke-4 dalam daftar poling tersebut.

Kolumnis The Guardian, Hadley Freeman mungkin bisa menjadi representasi dari mereka yang berat hati melihat Melania menduduki posisi sebagai ibu negara.

Dalam salah satu tulisannya, Freeman mengkritisi bagaimana Melania dalam wawancaranya dengan The New York Times tahun 2000 mengatakan ia akan menjadi ibu negara yang “sangat tradisional” seperti Betty Ford.

Menurut Freeman, Betty Ford adalah figur yang gemar mengkampanyekan gerakan feminisme, juga mendukung kesetaraan gender. Jika Melania benar-benar ingin menjadi seperti Betty, maka ia tidak hanya harus berhadapan dengan Kepala Strategis yang dipilih oleh Trump, Steve Bannon yang terkenal sering meremehkan perempuan, namun juga sang suami sendiri yang pernah melakukan cyberbullying terhadap jurnalis perempuan.

“Perbandingan antara Melania dan Betty tidak sebanding. Jika Melania mencari analogi ibu negara, saya kira dia bisa melihat ke arah Nancy Reagan, yang dengan patuh membeo pada suaminya yang konservatif dan menatapnya penuh cinta,” tulis Freeman, seperti dikutip The Guardian.



Namun apakah pintu harapan bagi Melania sudah sepenuhnya tertutup? Tampaknya tidak seburuk itu. Editor The Spectator Lara Prendergast melihat Melania masih memiliki kesempatan untuk membuka hati sebagian besar masyarakat AS.

“Hidupnya akan menjadi sebagian dongeng, sebagian lagi horor gotik. Tapi mungkin dia bisa membuat sebuah kebajikan dari posisi yang lemah tersebut. Kesempatan untuk memenangkan [hati] Amerika berada di depan,” tulisnya, seperti dikutip dari laman The Spectator.

“Banyak yang tidak akan pernah bisa memaafkan Trump, tetapi mereka mungkin memaafkannya [Melania]. Bagaimanapun, dia adalah seorang imigran. Dia berbicara dalam lima bahasa. Dan tidak seperti suaminya, dia benar-benar mulai dari bawah, dengan tinggal di sebuah blok menara beton dalam republik sosialis."

Prendergast juga mengingatkan kemungkinan timbulnya belarasa bagi Melania. "Di bawah wajahnya yang mungkin tampak aneh dan kaku, ada kerapuhan. Sementara banyak akan bermain-main dengan gambar-gambar tersebut foto-foto, banyak yang akan bersimpati juga.”

Baca juga artikel terkait SOSIAL BUDAYA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight