Masuk Kampus Harvard Itu Biasa Saja

Oleh: Joan Aurelia - 9 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kesan prestisius turut membuat Ivy League diminati pada aktris dan aktor ternama.
tirto.id - Maudy Ayunda dikabarkan galau memilih antara melanjutkan program master jurusan Administrasi Bisnis di Stanford University atau studi pendidikan di Harvard University, dua kampus yang masuk kategori Ivy League. Ivy League adalah julukan bagi delapan kampus swasta mahal dan prestisius di AS yakni University of Pennsylvania, Columbia University, Yale University, Princeton University, Brown University, Dartmouth University, Cornell University, dan Harvard University.

Kegalauan Maudy ditunjukkan beberapa hari silam ketika ia mengunggah potret surat penerimaan studi dari kedua kampus. Mengutip informasi dari lembaga persiapan pendidikan Peterson’s, VOA Indonesia menyebut persentase penerimaan mahasiswa master di Harvard adalah 54% dengan jumlah mahasiswa non kulit putih tidak lebih dari 24%.

Bila Maudy memilih Harvard, ia akan jadi rekan se-almamater pesohor seperti Yenny Wahid, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Gita Wirjawan. Sarjana psikologi Oxford University itu pun turut meramaikan daftar selebritas jebolan Ivy League seperti Natalie Portman, Emma Watson, Lupita Nyong’O, Mindy Kaling, James Franco, sampai Cinta Laura Khiel—yang lulus dari Columbia University dengan predikat Cum Laude.


Bagi para selebritas Hollywood, masuk kampus Ivy League adalah sarana pembuktian diri. Sampai sekarang, kampus-kampus Ivy League masih punya predikat sebagai lembaga edukasi paling diminati dan sulit ditembus.

Pada 2018, Harvard University baru memecahkan rekor lamaran terbanyak yakni 42.000-an. Namun, pihak kampus tidak pernah menambah kuota penerimaan mahasiswa baru secara signifikan. Persentase penerimaan tetap ada di bawah 50%.

Akhir tahun lalu The Atlantic melaporkan kebijakan tersebut diterapkan hampir di seluruh kampus Ivy League terutama yang menduduki peringkat lima besar. Yale misalnya. Tahun lalu, pihak universitas mengirim surat penolakan kepada 3500-an pelamar karena kampus hanya bisa menerima 1500-an mahasiswa—jumlah yang sama dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Bagi kampus, menambah kuota berarti mengikis citra eksklusif.

Sebenarnya tidak ada hal yang bisa menjamin kualitas mahasiswa kampus Ivy League lebih tinggi dari kampus lain. Dalam “Our Dangerous Obsession with Harvard, Stanford, and Other Elite University” (2016), kolumnis pendidikan Washington Post Jeffrey Selingo menuturkan bagaimana perusahaan-perusahaan di AS menerapkan sistem people analytics untuk rekrutmen. Hasilnya, individu yang diterima dalam berbagai perusahaan tidak berasal dari kampus elite.

Konsultan karier Garrett Mintz punya pendapat serupa dan menuliskannya dalam kolom Huffington Post. Mintz tertarik dengan temuan yang menyebut kemampuan analisis yang dimiliki mahasiswa Ivy League tidak terlalu istimewa bila dibandingkan dengan mahasiswa lulusan kampus lainnya. Mereka juga berada dalam level standar dalam hal kerja tim, adaptasi, kemampuan komunikasi, kemampuan menyelesaikan masalah, pengambilan keputusan, sifat kepemimpinan, motivasi, dan berpikir strategis.

Yang bikin kampus Ivy League terkesan istimewa salah salah satunya adalah unsur nostalgia. Beberapa kampus anggota Ivy League berdiri pada tahun 1800-an, masa di mana pemerintah AS belum menyediakan dana untuk membangun lembaga pendidikan. Walhasil, banyak kampus dibangun oleh yayasan-yayasan keagamaan.

Infografik Ivy League
Infografik Ivy League



Situs Ivy League mencatat istilah "Ivy League" baru muncul pada 1933 untuk menyebut kampus-kampus yang ikut serta dalam pertandingan olahraga antar-kampus. Kata "Ivy" digunakan karena para mahasiswa punya tradisi menanam tanaman ivy di depan bangunan kampus.

Liga olahraga ini lantas jadi agenda rutin yang diikuti oleh sejumlah kampus elit pada masanya. Lambat laun terbentuklah panitia resmi yang mengatur segala keperluan teknis pertandingan dan liga tersebut jadi salah satu acara besar di AS yang kelak melambungkan nama-nama kampus yang terlibat.

Tadinya, kampus Ivy League hanya diperuntukkan bagi pria. Institusi tersebut baru terbuka bagi wanita pada awal 1970-an.

Harvard dikenal sebagai universitas penerima dana sumbangan besar dari orangtua calon mahasiswa. Total jumlahnya mencapai puluhan miliar dolar. Uang sebanyak itu dialokasikan untuk proyek penelitian mahasiswa dan aktivitas amal. Berbagai aktivitas penelitian inilah yang membuat banyak orang menganggap Harvard sebagai salah satu kampus terbaik di dunia.


Dalam sebuah pidato di Harvard, Natalie Portman menyatakan masuk Harvard untuk membuktikan dirinya bukan aktris bodoh. Pembuktian itu terutama ditujukan pada keluarganya yang mengutamakan reputasi di bidang pendidikan.

“Aku mulai akting sejak umur 11 tapi kegiatan itu seperti tidak berarti. Aku dibesarkan dalam keluarga yang berasal dari lingkungan akademisi dan mereka semua orang-orang yang serius,” katanya seperti dikutip Business Insider.

Untuk membuktikan keseriusannya, Portman mengikuti berbagai kursus tambahan di kampus. Usaha itu nampaknya berhasil. Sejumlah dosen bilang bahwa Portman adalah mahasiswa gigih dengan sederet prestasi yang memuaskan.

Kisah lain datang dari Emma Watson. Seperti Portman, ia masuk ke salah satu kampus Ivy League dengan perasaan takut. Ia takut bila kawan-kawan di Brown University tidak bisa memandangnya sebagai mahasiswa normal.

Watson sempat menceritakan kepada The Telegraph tentang hari pertama kuliah. Suasana bisa berubah sunyi dan semua orang menoleh menatap Watson begitu ia masuk kelas. Menurut New York Daily News, Watson termasuk mahasiswa aktif di kelas. Sialnya, kawan-kawan sekampusnya kerap meledek Watson dengan mengucapkan mantra-mantra Harry Potter tiap kali ia selesai menyampaikan pendapat.

Watson mendapat pengawalan khusus bila hendak menonton pertandingan olahraga antar-kampus. Teman sekamar Watson di Brown bahkan dikabarkan diminta untuk menandatangani surat kesepakatan terkait privasi. Pada hari kelulusan, Watson didampingi pengawal pribadi yang menyamar sebagai mahasiswa.


Rumor miring muncul ketika Watson memutuskan cuti kuliah untuk menuntaskan syuting film Harry Potter. Beredar anggapan bahwa Watson tidak kuat karena sering di-bully. Ia sampai membuat pernyataan untuk membantah rumor tersebut dan setelah syuting selesai, Watson kembali ke kampus untuk belajar seperti sedia kala.

Baca juga artikel terkait HARVARD atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf