Menuju konten utama

Makna di Balik Penjemputan Anas Urbaningrum Saat Keluar Penjara

Kunto menilai keluarnya Anas Urbaningrum dari penjara tidak akan membawa pengaruh signifikan jelang Pemilu 2024.

Makna di Balik Penjemputan Anas Urbaningrum Saat Keluar Penjara
Terpidana kasus korupsi Pembangunan Pusat Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang Anas Urbaningrum (kiri) mengikuti sidang lanjutan pengajuan peninjauan kembali (PK) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (8/6/2018). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

tirto.id - Eks Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum akan menghirup udara bebas pada 11 April 2023. Sejumlah loyalisnya berencana menyambut mantan ketum PB HMI tersebut dari Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Koordinator Nasional Sahabat Anas, M. Rahmad mengaku, tidak punya angka spesifik jumlah massa yang akan datang. Namun, ia mengklaim kemungkinan yang akan ikut menjemput Anas sangat banyak.

“Kalau dari nama-nama yang sudah menyampaikan ini jumlahnya sekian, ini jumlahnya sekian itu memang ribuan,” kata Rahmad saat dikonfirmasi reporter Tirto, Kamis (6/4/2023).

Rahmad mengatakan, setidaknya ada 16 organisasi yang akan menjemput Anas keluar dari lapas. Beberapa di antaranya adalah kelompok ormas KNPI, HMI, PII dan GMKI. Kader Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) juga akan hadir menjemput pria kelahiran 15 Juli 1969 itu.

“Kemudian ada Masyarakat Blitar Bersatu, ada Paguyuban Motor Antik Bandung, ada Persatuan Masyarakat Madura, ada juga Pemuda Lampung yang akan menjemput ke Sukamiskin di Bandung," kata Rahmad.

Status Anas yang segera bebas juga mendapat respons dari I Gede Pasek Suardika, kolega Anas di Partai Demokrat yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN).

Pasek bahkan mengklaim setelah bebas nanti, Anas akan membuka “rahasia kelam” yang berkaitan dengan upaya dugaan kriminalisasi. “Bagaimana relasi oknum komisioner KPK saat itu dengan kekuasaan bekerja hingga munculnya sprindik bocor yang merupakan satu rangkaian dengan pidato Jeddah,” kata Pasek.

Partai Demokrat sebagai parpol yang sebelumnya pernah dipimpin Anas menilai, masalah Anas adalah pelajaran kelam bagi parpol berlambang mercy itu. Juru Bicara Demokrat, Herzaky Mahendra Putra mengklaim, partainya sudah bersih-bersih dari kelompok Anas yang dilabeli “perusak partai.”

“Itu tidak ada lagi di partai ini. Sudah bersih-bersih," kata Herzaky.

Herzaky malah mengungkit bahwa upaya merusak Demokrat saat ini tengah dilakukan gerbong Demokrat Moeldoko yang mengklaim menggelar kongres luar biasa pada 2021. Ia mengklaim, Demokrat telah belajar dari masa lalu dan sudah melabeli partai antikorupsi.

Herzaky menyebut, Anas adalah masa lalu. “Kalau mau ngomong pendek, aduh Anas itu hanya masa lalu Demokrat. Sebetulnya tidak ada kaitan sama sekali dengan Demokrat begitu," kata Herzaky.

Anas Urbaningrum Masih Berpengaruh?

Analis dari Universitas Padjajaran, Kunto Adi Wibowo menilai, keluarnya Anas dari penjara tidak akan membawa pengaruh signifikan jelang Pemilu 2024. Ia mengingatkan, Anas sudah lama dipenjara dan tidak memiliki akar massa kuat sehingga tidak akan membawa pengaruh apa-apa. Di sisi lain, Demokrat masih memegang nilai SBY lebih kuat daripada Anas.

“Dia, kan, elite yang tiba-tiba dari aktivis mahasiswa terus jadi komisioner KPU, terus tiba-tiba jadi elite politik gitu. Jadi saya tidak melihat bahwa perpindahannya atau bebasnya Anas akan berpengaruh besar pada dinamika politik Indonesia,” kata Kunto, Kamis (6/4/2023).

Kunto juga beranggapan bahwa Anas dan Demokrat sudah berbeda. Meskipun Anas akhirnya bergabung ke PKN bersama I Gede Pasek, Kunto menilai, suara Demokrat tidak akan berpengaruh besar. Ia beralasan, Pasek yang sempat aktif di Partai Hanura juga tidak membawa gerbong besar dari Demokrat.

“Nah dia (Pasek) berharap dengan bebasnya Mas Anas ini, dia bisa mendapatkan keuntungan electoral. Tapi menurut saya, itu wishful thinking aja dari Pak Pasek. Jadi menurut saya juga enggak akan mempengaruhi suara Demokrat secara besar," kata Kunto.

Kunto menilai, upaya menjemput Anas di Lapas Sukamiskin juga sebagai simbol bahwa eks petinggi Partai Demokrat itu punya kekuatan politik.

Di sisi lain, Kunto masih meragukan soal Anas akan buka-bukaan usai keluar dari lapas. Ia melihat publik kemungkinan memiliki penilaian yang jauh lebih rendah dibanding masa lalu.

“Walaupun ada pengaruh, tapi juga pengaruhnya enggak akan terlalu besar. Mungkin bisa digunakan oleh KPK misalnya atau kekuatan politik lain untuk kemudian mengganggu konsentrasi koalisi perubahan gitu,” kata Kunto.

Kunto menambahkan, “Jadi menurut saya pengaruhnya mungkin hanya di situ. Apalagi kan di situ, Mas AHY juga masih belum definitif ini jadi cawapres gitu. Jadi menurut saya itu sih efeknya enggak terlalu besar,” kata Kunto.

Sementara itu, analis politik dari Universitas Airlangga, Hari Fitrianto menilai, Anas akan keluar pada momen politik yang tepat. Ia beralasan, Islam politik tengah menjadi arus politik besar menandingi kelompok nasionalis sekuler. Hal ini terjadi sejak era Jokowi dan Prabowo bersaing dalam pemilu, termasuk soal isu penistaan agama eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Lalu di mana posisi Anas? Menurut Hari, Anas adalah mantan Ketua Umum PB HMI yang jelas nafas dari HMI itu Islam politik. Selain itu, Anas juga adalah mantan Ketua Umum Partai Demokrat yang mempunyai nilai spektrum ideologinya nasionalis.

“Anas ini pernah hidup di dua habitat itu, sehingga Anas bisa berayun dan dia memiliki jejak-jejak pendukung atau pun jejak-jejak basis massa di dua spektrum itu, baik nasionalis sekuler maupun Islam politik," kata Hari.

“Saat Anas keluar nanti, ini menjadi penting, dia akan meletakkan kartunya ada di mana, apakah di jalur Islam politik yang sedang merapat ke Anies atau dia memilih politik jalan tengah, tetap memilih ideologi nasionalis sekuler sebagai pilihan politiknya,” tutur Hari.

Hari mengatakan, Anas masih punya nilai membangun narasi politik. Ia merupakan tokoh yang mempunyai basis loyalis di kelas menengah karena mengawali karier di kemahasiswaan. Meski tidak seperti massa grass root yang fanatis, pendukung kelas menengah ini punya kemampuan intelektual dan berpotensi menduduki jabatan strategis seperti birokrat, jurnalis, politisi hingga akademisi. Oleh karena itu, ia yakin Anas bisa mempengaruhi suara pemilih.

“Saya yakin masih ada kemampuan Anas membangun sebuah narasi politik, membangun opini politik itu tetap bisa mempengaruhi opini publik dan dengan narasi yang bisa dibangun oleh Anas dan juga pendukungnya itu, bisa mempengaruhi preferensi dari pemilih, terlebih nanti misal Anas akan memilih di kelompok nasionalis atau kelompok tengah, siapapun nanti calon presidennya tentu tetap akan menggerus sebagian pemilih yang akan ke Anies misal," kata Hari.

Khusus korelasi antara Anas dengan Demokrat, ia yakin partai berlambang mercy itu sudah tidak ada pengaruh dengan Anas. Ia melihat Demokrat sudah bersih-bersih dari orang-orang Anas dan merekrut orang-orang baru.

Partai Demokrat, dalam kacamata Hari, telah menggunakan pendekatan popularitas atau kepala daerah dan 'bersih-bersih' orang yang dekat dengan Anas dari tingkat pusat hingga DPC.

“Dari reorganisasi itu, saya kira Demokrat sudah berada di titik stabil, kalau pun Anas keluar [penjara], saya kira tidak akan mampu menggoyang stabilitas kelembagaan Demokrat," kata Hari.

Dari sisi pemilih, kata Hari, Anas juga tidak akan membawa pengaruh banyak. Ia beralasan, Demokrat adalah partai yang mirip PDIP dan Gerindra, yakni partai yang mengedepankan ketokohan. Demokrat masih menggunakan ketokohan SBY sebagai alat politik sehingga sulit digeser, apalagi Anas hanya bertugas sebentar sehingga belum optimal mempersonifikasi dirinya dengan Demokrat.

“Jangankan Anas, AHY saja masih berat untuk melawan kharisma ayahnya sendiri," kata Hari.

Ia juga melihat, aksi pendukung Anas menjemputnya di lapas sebagai symbol bahwa ia akan kembali ke jalur politik. Namun, Hari yakin Anas tidak akan merapat ke kelompok Islam karena narasi itu sudah dimainkan oleh Anies. Di sisi lain, ia bisa menawarkan lebih ke kelompok nasionalis untuk mendapat keuntungan lebih.

“Anas pasti sadar bahwa dalam Islam politik yang dibangun Anies, Anas bukanlah narator utamanya, panggung itu sudah dipersonifikasi Anies. Pilihan yang paling masuk akal bagi Anas menurut saya, dia akan mengambil lebih bergantung ke kelompok-kelompok nasionalis moderat, entah itu Gerindra, entah itu Golkar, dan PDIP," kata Hari.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan lainnya dari Andrian Pratama Taher

tirto.id - Politik
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz