Limbah Plastik Produk-produk Kecantikan yang Tak Kalah Berbahaya

Infografik Limbah Kosmetik
Ilustrasi Kosmetik. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 12 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bulir halus yang ada di sabun, sikat gigi, atau lulur termasuk mikro plastik yang sulit terurai di lingkungan.
tirto.id - Pukul enam pagi, Rachma sudah berada di depan cermin besar di meja riasnya, siap untuk bersolek. Ia mulai membubuhkan pelembab, bedak, gincu, dan sentuhan terakhir, minyak wangi. Rutinitas itu hampir tiap hari dilakoni oleh Rachma.

Beragam produk kecantikan dan alat rias sudah diakrabi oleh Rachma, apalagi ia juga berprofesi sebagai seorang perancang busana. Supaya penampilannya selalu maksimal setiap bertemu klien atau menghadiri peragaan busana, Rachma selalu membawa tas kecil berisi alat rias sederhana. Setidaknya ada tiga hingga empat gincu dengan warna berbeda yang ia siapkan di dalam tas tersebut. Ia membubuhkannya tiap kali merasa penampilannya kurang cetar.

Rutinitas bersoleknya baru usai ketika ia hendak tidur. Sepulang kerja Rachma pasti membersihkan riasan dengan air mawar dan susu pembersih, lanjut mencuci muka, mandi dengan sabun berbulir atau lulur mandi. Sebelum tidur, ia terlebih dulu memakai serum, krim malam, serta krim mata. Jika ditotal, rata-rata ada 20 lebih produk yang digunakan Rachma untuk merawat diri selama seharian penuh.


Aktivitas serupa yang dilakukan Rachma juga dilakukan oleh kebanyakan wanita. Sebagian pria juga bersolek, menjaga penampilannya, meski tidak selengkap yang dilakukan wanita. Menjaga penampilan memang sudah menjadi kebutuhan untuk kebanyakan orang. Namun, tanpa disadari, aktivitas aktivitasnya bersolek, mulai dari mandi hingga mematut diri dengan rentetan produk perawatan tubuh itu, ternyata ikut menyumbang pencemaran plastik di lingkungan.

Laporan dari BBC menyebutkan industri kosmetik ikut menyumbang pencemaran lingkungan, terutama mikroplastik. Beragam jenis limbah ada dalam produk kosmetik harian, contoh paling nyata adalah botol, mangkuk, dan palet yang digunakan sebagai tempat kosmetik. Ketiga wadah tersebut kebanyakan terbuat dari plastik sekali pakai.

Memang ada botol kosmetik yang bisa digunakan sebagai tempat isi ulang seperti sabun, sampo, atau pelembab. Tapi tetap saja, wadah isi ulangnya pun, terbuat dari plastik sekali pakai. Contoh lain dari limbah industri kosmetik adalah bulir halus pada produk lulur, sabun, pasta gigi, atau pencuci muka. Bulir halus ini adalah penyumbang mikroplastik yang tidak dapat terurai di tanah, saluran pembuangan, sungai, dan laut.

Lalu di urutan limbah kosmetik selanjutnya ada glitter. Kosmetik ini biasanya dicampur, dibubuhkan pada area badan atau muka untuk menambah kesan mewah dan berkilau pada riasan. Sama seperti bulir halus pada kosmetik, glitter juga tidak bisa terurai karena terbuat dari mikroplastik. Kemudian cotton buds, produk ini selain digunakan untuk telinga, juga lazim dipakai guna mengaplikasikan dan membersihkan eyeliner atau maskara.

“Pengolahan limbah air tidak dirancang menyaring mikroplastik atau plastik dengan ukuran sedikit lebih besar seperti cotton buds. Produk itu lolos dari saringan,” kata Dr Geoff Brighty, direktur teknis Plastic Ocean seperti dinukil dari BBC.


Terakhir, limbah tisu basah. Produk ini umum digunakan untuk membersihkan riasan karena praktis digunakan. Tisu basah bahkan tersedia dengan berbagai varian, sebagai pembersih organ genital, dilengkapi tabir surya, dirancang untuk kulit sensitif, ada juga merek tisu basah yang berfungsi sebagai deodoran. Mirisnya, tak banyak yang paham bawa tisu basah sebagian besar terbuat dari poliester dan bahan non-biodegradable lain.

“Ada tisu basah yang flushable, tapi dia tetap tidak terurai,” kata Geoff.

Di saluran pembuangan, tisu basah akan bercampur dengan minyak dan lemak, hingga menyumbat saluran dan membikin banjir. Produk ini menjadi penyebab terbesar (93 persen) sumbatan selokan di Inggris. Sementara persentase sumbatan akibat lemak dan minyak hanya sekitar 0,5 persen, tisu toilet 0,001 persen. Sebanyak 7 persen lainnya adalah termasuk produk saniter seperti pembalut dan pembungkus (limbah saniter) plastik.


Upaya-upaya Pengurangan Limbah Kosmetik

Sejak pertama kali ditemukan oleh Jhon Wesley Hyatt sejak 24 Juli 1868, plastik kini menjadi bagian terpenting dalam peradaban modern. Selain murah, plastik dianggap sebagai komponen yang tahan lama. Saking bergantungnya manusia terhadap plastik di era kiwari, tahun 2050, World Economic Forum (WEF) memprediksi produksi plastik di dunia akan mencapai 1.124 juta ton.

Jumlah ini naik hampir empat kali lipat dari 2014 sebanyak 311 juta ton. Jika rasio perbandingan bobot sampah plastik dengan ikan di tahun 2014 adalah 1:4 (1 ton sampah berbanding 4 ton ikan), maka bobot sampah plastik di tahun 2050 akan mencapai angka yang setara, yakni 1:1, bahkan mungkin lebih banyak bobot pada plastik.

Guna mengurangi penambahan limbah plastik dari industri kosmetik, negara-negara dan perusahaan kosmetik di dunia mulai menerapkan bisnis yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah Inggris misalnya, telah melarang penggunaan bulir halus pada kosmetik sejak Januari 2018. Perusahaan kosmetik seperti Clearasil dan Johnson & Johnson juga sudah menghentikan produksi mikroplastik pada kosmetik.

“Kami menggantinya dengan alternatif alami seperti pasir atau sekam kacang tanah,” kata juru bicara Clearasil, dikutip dari BBC.



Cotton buds kemungkinan juga akan dilarang seperti penggunaan sedotan plastik. Pada April 2018, lebih dari 60 merek berjanji menghapus plastik sekali pakai (termasuk glitter) dalam produk mereka. Sementara itu, perusahaan besar lain seperti L'Oreal telah berkomitmen pada 2025 nanti, kemasan mereka 100 persen dapat digunakan kembali atau dibuat kompos.

National Geographic sempat mengisahkan perjuangan sebuah perusahaan deodoran, Meow Meow Tweet dalam mencari alternatif kemasan produk. Pertama, mereka melirik toples kaca dengan tutup logam, namun pelanggannya enggan mencolek krim deodoran dengan jari. Akhirnya pemiliknya membuat tabung kertas tebal untuk membungkus deodoran.

Harga pembungkus karton lebih mahal 60 kali lipat dari plastik. Namun, usaha Meow Meow Tweet menunjukkan bahwa selalu ada alternatif subtitusi bagi plastik. Upaya mengurangi penggunaan plastik kosmetik selain dari sisi regulasi dan perusahaan juga bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dengan membeli merek yang sadar lingkungan.

Beberapa perusahaan sudah mulai melakukan pengolahan limbah yang baik dan menggunakan kemasan kaca agar produk bisa diisi ulang di toko. Jangan beli produk yang menggunakan bulir halus karena limbahnya bisa mencemari air dan tanah. Usahakan juga untuk membeli produk kosmetik yang tidak menggunakan bahan kimia berbahaya.

Jikapun terpaksa membeli kosmetik dengan wadah plastik, hancurkan kemasan menjadi potongan yang lebih kecil dan buang ke tempat sampah yang tepat, untuk memudahkan daur ulang. Usaha kecil untuk mengurangi limbah plastik di lingkungan, berawal dari diri kita sendiri.

Baca juga artikel terkait LIMBAH PLASTIK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight