Menuju konten utama

Lebaran, Ledakan Konsumsi, dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi

Tanpa arah yang jelas, lonjakan konsumsi di momen lebaran hanya akan menjadi perayaan ekonomi yang ramai, tetapi rapuh.

Lebaran, Ledakan Konsumsi, dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi
Header Perspektif Lebaran dan Rapuhnya Ekonomi. tirto.id/Parkodi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lonjakan uang beredar selama Lebaran 2026 yang mencapai Rp1.370 triliun kerap dibaca sebagai sinyal positif: daya beli masyarakat kuat, ekonomi bergerak, dan optimisme meningkat. Riset NEXT Indonesia Center terbaru mencatat dana siap belanja masyarakat mencapai Rp1.241 triliun, naik 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Kumparan, 27/3/2026).

Namun, di balik angka yang tampak impresif tersebut, terdapat pertanyaan mendasar: apakah ini benar-benar mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang sehat atau sekadar euforia musiman yang berulang setiap tahun?

Struktur ekonomi Indonesia hingga kini masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga. Data Kementerian Keuangan (2026) menunjukkan bahwa konsumsi menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan momentum Ramadan–Lebaran selalu menjadi pendorong utamanya.

Pada periode ini, konsumsi meningkat sekitar 10-15 persen dan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I ke kisaran 5 persen.

Dalam perspektif makro ekonomi, lonjakan itu disebut sebagai seasonal consumption shock, yaitu dorongan permintaan yang bersifat sementara dan tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi. Ekonom Angus Deaton (2012) menegaskan: konsumsi rumah tangga kerap dipengaruhi oleh ekspektasi pendapatan dan norma sosial, bukan semata-mata rasionalitas ekonomi. Dalam konteks Lebaran, konsumsi bahkan menjadi bagian dari ekspresi budaya: membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan berlimpah, hingga berbagi THR.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari tradisi mudik. Pergerakan lebih dari 140 juta orang menciptakan aliran uang dari kota ke desa, yang secara tidak langsung menjadi mekanisme redistribusi ekonomi. Peneliti IDEAS, Agung Pardini (2026), mencatat bahwa aktivitas ini menciptakan multiplier effect yang signifikan bagi ekonomi daerah.

Dalam kerangka teori ekonomi regional, hal ini sejalan dengan konsep redistribusi spasial pendapatan yang dikemukakan Paul Krugman (1991). Namun demikian, efek tersebut bersifat sementara. Setelah arus balik, aktivitas ekonomi kembali terkonsentrasi di kota besar, sementara daerah kehilangan momentum.

Puncak arus mudik motor di Pelabuhan Ciwandan

Pemudik sepeda motor memasuki kapal di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, Kamis (19/3/2026). Berdasarkan data real time PT Pelindo Regional 2 Banten, hingga Kamis (19/3) pukul 06.00 WIB tercatat total pemudik yang menyeberang menuju Pulau Sumatera sejak 10 hari terakhir saat pelabuhan dioperasikan khusus untuk jalur mudik sepeda motor mencapai 63.210 unit motor dengan jumlah penumpang mencapai 109.056 orang penumpang. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.

Konsumsi Tanpa Arah dan Risiko Siklus Euforia

Persoalan utama dari ledakan konsumsi Lebaran bukan terletak pada besarnya angka, melainkan pada arah penggunaannya. Penelitian Costlow et al. (2025) menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga modern lebih banyak dipengaruhi oleh preferensi, kebiasaan, dan tekanan sosial dibandingkan pertimbangan rasional.

Hal ini memperkuat tesis Thorstein Veblen (1899) tentang conspicuous consumption, yaitu konsumsi yang dilakukan untuk menunjukkan status sosial. Sehingga sering muncul istilah bekor, biar tekor asal kesohor.

Dalam praktiknya, fenomena ini tampak pada meningkatnya belanja simbolik, dominasi pengeluaran berbasis gengsi, serta minimnya alokasi untuk investasi atau kegiatan produktif. Akibatnya, konsumsi tidak menghasilkan nilai tambah jangka panjang, melainkan hanya menggerakkan ekonomi secara sesaat. Euforia konsumsi tersebut juga membawa risiko yang kerap terabaikan.

Selain memicu tekanan inflasi jangka pendek, fenomena ini sering diikuti oleh kondisi post-holiday financial stress, yaitu menurunnya daya beli masyarakat setelah Lebaran. Dalam ungkapan masyarakat Jawa, bulan syawal koal-koal dan masuk bulan apit kejepit.

Dalam kajian perilaku keuangan, kondisi ini dikenal sebagai boom-bustconsumption cycle (Shefrin, 2002), yakni siklus konsumsi tinggi yang diikuti kontraksi tajam. Jika pola ini terus berulang, stabilitas ekonomi rumah tangga menjadi rentan, dan pada skala yang lebih luas dapat memengaruhi perlambatan ekonomi pasca-Lebaran.

Warga penyintas bencana membeli baju Lebaran

Warga penyintas bencana memilih baju untuk Lebaran di Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Selasa (17/3/2026). Sejumlah warga penyintas bencana longsor dan banjir bandang di daerah tersebut berbelanja baju, sepatu, sendal, dan tas untuk memeriahkan Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah. ANTARA FOTO/Yudi Manar/nz

Dari Konsumtif Ke Produktif

Masalah utama ekonomi Indonesia bukan terletak pada rendahnya konsumsi, melainkan pada lemahnya transformasi konsumsi menjadi produktivitas. Michael Porter (1990) menegaskan bahwa daya saing ekonomi ditentukan oleh produktivitas, bukan sekadar tingkat konsumsi.

Karena itu, diperlukan langkah rasional untuk mengarahkan konsumsi agar memiliki dampak jangka panjang. Pertama, rumah tangga perlu mengalokasikan sebagian pengeluaran Lebaran untuk kegiatan produktif, seperti modal usaha kecil, investasi mikro, atau peningkatan keterampilan. Pendekatan ini sebagai productive consumption dan terbukti mampu meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga (OECD, 2019).

Kedua, pemerintah perlu memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menyerap lonjakan konsumsi. Kebijakan seperti insentif fiskal musiman, digitalisasi pasar tradisional, serta integrasi UMKM dalam rantai pasok nasional menjadi langkah strategis untuk memastikan uang yang beredar tetap berputar di dalam negeri.

Ketiga, peningkatan literasi keuangan. Tanpa pemahaman yang memadai, lonjakan pendapatan seperti THR cenderung habis dalam konsumsi jangka pendek. Penelitian Lusardi dan Mitchell (2014) menunjukkan bahwa literasi keuangan memiliki korelasi kuat dengan kemampuan individu dalam mengelola konsumsi dan menghindari krisis keuangan.

Walhasil, Lebaran seharusnya tidak hanya menjadi momentum konsumsi, tetapi juga peluang untuk memperkuat fondasi ekonomi. Tantangan ke depan bukan sekadar meningkatkan belanja, melainkan memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan mampu menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan.

Tanpa arah yang jelas, lonjakan konsumsi hanya akan menjadi perayaan ekonomi yang ramai, tetapi rapuh.

*Artikel ini ditulis oleh Faozan Amar, Associate Profesor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA

Baca juga artikel terkait IDUL FITRI atau tulisan lainnya dari Dr. Faozan Amar, S.Ag., MM

tirto.id - Perspektif
Penulis: Dr. Faozan Amar, S.Ag., MM