Menuju konten utama

Lebaran Ketupat 2026 Tanggal Berapa? Ini Sejarah & Maknanya

Lebaran Ketupat 2026 dirayakan seminggu setelah 1 Syawal Idulfitri 1447 H. Lantas, apa makna dan sejarahnya? Intip ringkasannya di bawah.

Lebaran Ketupat 2026 Tanggal Berapa? Ini Sejarah & Maknanya
Pedagang menunjukkan kulit ketupat yang dijual di Pasar Besar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (16/6/2024). ANTARA FOTO/Auliya Rahman.

tirto.id - Lebaran Ketupat menjadi salah satu tradisi yang dinantikan masyarakat, khususnya di Pulau Jawa, setelah perayaan Hari Raya Idulfitri. Lantas, Lebaran Ketupat 2026 jatuh pada tanggal berapa? Bagaimana pula sejarah Lebaran Ketupat beserta makna yang terkandung di dalamnya?

Berdasarkan tradisi, perayaan Lebaran Ketupat biasa dihelat tak lama selepas perayaan Idulfitri. Lebaran yang juga disebut dengan lebaran kedua ini tidak kalah meriah dibandingkan Lebaran 1 Syawal. Lebaran Kedua ini juga kerap dijadikan sebagai momentum untuk akhir puasa Syawal, yang sunnahnya dikerjakan selama 6 hari.

Saat perayaan Lebaran Ketupat, masyarakat akan menandainya dengan menyajikan dan memakan ketupat bersama beragam makanan lainnya. Meskipun tampak sederhana, nyataan perayaan tersebut memiliki makna dan sejarah mendalam.

Lantas, perayaan Lebaran Ketupat jatuh di tanggal berapa pada Maret 2026 ini dan seperti apa makna hingga sejarahnya? Berikut ringkasan lengkapnya.

Lebaran Ketupat 2026 Tanggal Berapa & Kapan 8 Syawal 1447 H?

Berdasarkan tradisi, Lebaran Ketupat biasanya dilaksanakan seminggu selepas Lebaran Idulfitri, tepatnya pada 8 Syawal.

Jika mengacu pada 1 Syawal 1447 Hijriah yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, artinya Lebaran Ketupat tahun ini akan dirayakan pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Sebelum merayakan Lebaran Ketupat 1447 H, umat Muslim biasanya akan melaksanakan ibadah puasa sunnah Syawal selama enam hari setelah Lebaran 1 Syawal.

Sejarah Asal Usul Lebaran Ketupat & Maknanya

Lebaran Ketupat atau kerap disebut juga sebagai "Kupatan", adalah tradisi masyarakat Muslim di Indonesia yang banyak berkembang di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada saat momentum perayaan Lebaran tersebut, umat Muslim yang merayakan biasanya akan membuat ketupat dari anyaman daun kelapa, menyajikan makanan khas dan menyantap masakan ketupat, hingga berbagi makanan dengan tetangga maupun kerabat.

Dalam tradisi umat Muslim di wilayah Jawa, Lebaran Ketupat menjadi representasi dari simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Di samping itu, perayaan Lebaran Ketupat sendiri memiliki sejarah cukup panjang. Dalam kepercayaan umat Muslim di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tradisi tersebut awalnya diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai media dakwah Islam di tanah Jawa.

Namun, secara historis, tradisi ini juga merupakan hasil akulturasi budaya. Sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah mengenal tradisi sesajen sejak masa Hindu-Buddha. Kemudian, oleh para wali, tradisi tersebut diadaptasi menjadi sarana penyebaran nilai Islam seperti sedekah, syukur, dan silaturahmi.

Lebaran Ketupat memiliki makna mendalam, di antaranya sebagai ungkapan rasa syukur setelah Ramadan dan Idulfitri, simbol saling memaafkan (ngaku lepat), sarana mempererat silaturahmi, dan momentum berbagi rezeki dengan sesama. Selain itu, tradisi ini juga memiliki fungsi sosial seperti memperkuat gotong royong dan menjaga hubungan antar masyarakat.

Lebaran Ketupat juga memiliki makna filosofis yang lebih dalam. Dalam khazanah budaya Jawa, terdapat konsep yang dikenal sebagai “laku papat”, yakni empat tahapan penting setelah Ramadan.

Tahapan tersebut meliputi lebaran yang menandai berakhirnya puasa, luberan sebagai simbol berbagi rezeki melalui sedekah, leburan yang bermakna melebur dosa dengan saling memaafkan, serta laburan yang mencerminkan upaya menjaga kesucian lahir dan batin.

Melalui rangkaian makna tersebut, Lebaran Ketupat adalah penyempurna perjalanan spiritual setelah menjalankan ibadah di bulan Ramadan hingga puasa Syawal. Nilai-nilai ini kemudian memperkuat fungsi tradisi sebagai sarana mempererat hubungan sosial, menumbuhkan semangat gotong royong, hingga mendorong kebiasaan berbagi di tengah masyarakat.

Dari segi pemaknaannya, kata "ketupat" sendiri memiliki filosofi yang cukup mendalam. Anyaman pembungkus ketupat yang terbuat dari janur kuning dimaknai sebagai simbol penolak bala.

Bentuk segi empat dari ketupat menjadi cerminan dari konseptual Jawa "Kiblat Papat Lima Pancer", yaitu keyakinan bahwa setiap manusia melangkah kemanapun juga, pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Bentuk anyaman yang cukup rumit namun terlihat rapi, melambangkan kesalahan manusia, serta nasi berwarna putih yang menjadi simbol kesucian setelah saling memaafkan.

Makna berikutnya dari ketupat ada pada beras yang merupakan representasi harapan akan kesejahteraan sekaligus kemenangan di Hari Raya Idulfitri.

Baca juga artikel terkait LEBARAN 2026 atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus