Seri Imlek 2019

Kwee Kek Beng, Sang Pendekar Pena dari Batavia

Oleh: Ravando Lie - 15 Januari 2019
Dibaca Normal 6 menit
Kwee Kek Beng melawan kolonialisme Belanda lewat tulisan dan media massa. Ia wartawan yang sangat berdedikasi.
tirto.id - Kwee Kek Beng dikenal sebagai pendekar pena dari Batavia, di samping sebagai aktivis sosial yang vokal. Kiprahnya sebagai jurnalis begitu disegani baik oleh kawan maupun lawan debatnya. Berbagai kritiknya terhadap pemerintah kolonial membuat dirinya hampir dijebloskan ke penjara. Namun ia tidak pernah mundur. Kwee terus berjuang menentang segala bentuk kesewenang-wenangan lewat tulisan.

Kwee Kek Beng lahir di Batavia pada 16 November 1900. Ia menempuh pendidikan dasar di Hollandsch Chineesche School (HCS) Batavia, sebelum melanjutkan ke MULO Batavia dan Hollandsch Chineesche Kweekschool (HCK) di Jatinegara. Selepas lulus dari HCK, Kwee sempat menjadi guru di HCS Tanjakan Empang di Bogor selama empat bulan.

Ia menyadari bahwa minatnya bukanlah menjadi seorang guru, melainkan jurnalis. Saat itu Kwee sudah aktif menulis untuk Java Bode, salah satu koran berbahasa Belanda terkemuka di Batavia. Kwee bertanggungjawab untuk rubrik yang berkaitan dengan psikologi.

Pernikahannya dengan Tee Lim Nio membuahkan dua orang anak. Anak pertama, Kwee Hin Goan, kemudian dikenal sebagai arsitek terkemuka. Sementara anak kedua, Kwee Hin Houw, mengikuti jejak sang ayah menjadi penulis.

Pertemuan Kwee dengan Na Tjin Hoe, redaktur harian Sin Po, mengubah jalan hidupnya. Tjin Hoe meminta Kwee untuk menulis secara berkala bagi harian tersebut. Hauw Tek Kong dan Kwee Tek Hoay, dua orang redaktur Sin Po, jatuh hati pada tulisan-tulisan bernas Kwee. Mereka pun mengunjungi Kwee di Bogor dan memintanya untuk bergabung sebagai wartawan tetap Sin Po.

Pada awalnya, Kwee diminta untuk menjadi redaktur Bin Seng, sebuah harian yang juga masih tergabung dalam grup Sin Po. Namun meninggalnya pimpinan redaksi Sin Po, Tjoe Bou San, pada 3 November 1925, membuat Kwee Kek Beng didapuk untuk menggantikannya. Posisi pimpinan redaksi ia pegang sampai 1947.


Kwee Kek Beng
Potret Kwee Kek Beng (Sumber: 25 Tahon Sebagai Wartawan)


Melawan Lewat Tulisan

Kwee dikenal sebagai jurnalis berpendirian teguh. Melalui tulisannya yang tajam, ia kerap membuat lawan politiknya frustrasi. Tulisan Kwee di mingguan Sin Po pada 9 Juni 1923 membuatnya terkena delik pers karena dituduh menyebarkan agitasi. Di dalam tulisan tersebut, Kwee menganjurkan pemboikotan terhadap Jepang. Saat itu Kwee baru delapan bulan bekerja untuk Sin Po.

Melalui rubrik "Djamblang Kotjok" yang diasuhnya di Sin Po, Kwee kerap membuat panas telinga para pembesar dan kaum elite Tionghoa di Hindia Belanda. Di rubrik tersebut Kwee menggunakan nama samaran Garem. Sasaran kritiknya mulai dari Ambtenaar voor Chineesche Zaken (Kantor Urusan Tionghoa), Politieke Inlichtingen Dienst (Departemen Politik dan Intelijen), hingga Procureur Generaal (Jaksa Agung).

Kwee dikenal berkawan baik dengan para tokoh nasionalis Indonesia seperti Sukarno, Mr. Sartono, dan W.R. Supratman. Mereka kerap menyambangi rumah Kwee di Palmerah Utara 103. Mereka sering bertukar pikiran mengenai perjuangan yang sedang dirintis.

Melalui kumpulan tulisannya yang dibukukan dengan judul Di Bawah Bendera Revolusi terlihat bagaimana kedekatan antara Sukarno dengan Kwee Kek Beng. Salah satunya adalah ketika Bung Karno memutuskan untuk memasukkan nama Kwee dan Dr. Kwa Tjoan Sioe ke dalam sidang pembantu majalah Soeloeh Indonesia Moeda, salah satu media terbitan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Kontribusi Kwee dalam perjuangan Indonesia juga tampak ketika ia membantu W.R. Supratman mencetak 5.000 selebaran "Indonesia Raya" melalui percetakan Sin Po, untuk kemudian disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat.


Saidjah dan Adinda
Terjemahan perdana dari buku Max Havelaar yang pertama kali dipublikasikan Sin Po dengan judul “Saidjah dan Adinda”. Kwee Kek Beng menerjemahkan cerita ini dari Bahasa Belanda, dan kemudian dmuat secara berkala dalam Sin Po mingguan. (Sumber: Sin Po Wekelijksche Editie, 27 Desember 1924)

Lewat berbagai tulisannya di Sin Po, Kwee Kek Beng juga turut berperan dalam memopulerkan beragam istilah Melayu Betawi. Beberapa di antaranya seperti serabat-serobot, gajag-gijig, glendat-glendot, dan lain sebagainya. Tidak jarang ia menggunakan partikel dong, sih, dan kek dalam tulisannya, sehingga menjadi renyah dan menarik untuk dibaca.

Pada Januari 1927, Sin Po menerbitkan jurnal tiga bulanan berbahasa Belanda yang dinamakan De Chineesche Revue. Kwee Kek Beng merupakan inisiator di balik penerbitan ini. Idenya menerbitkan De Chineesche Revue muncul dari kegelisahannya ketika melihat bagaimana Belanda, sebuah negeri kecil di Eropa, memiliki ratusan jurnal berkualitas tinggi. Kondisi tersebut memotivasi Kwee untuk membuktikan bahwa orang Tionghoa pun bisa melakukan hal serupa di Hindia Belanda.

Penerbitan De Chineesche Revue pun menuai beragam pujian dari berbagai kalangan di Hindia Belanda. Deli Courant menyebut bahwa hal tersebut menunjukkan kemajuan pemikiran golongan Tionghoa di Hindia Belanda. Sementara De Locomotief menulis bahwa De Chineesche Revue sangat layak (waardig) dijadikan corong pergerakan dari kaum Tionghoa di negeri tersebut.

Pada 1932 Kwee berlayar ke negeri Tiongkok, di mana ia menerima medali kehormatan dari pemerintah Tiongkok atas kontribusinya dalam menolong orang yang menjadi korban perang antara Tiongkok dan Jepang. Melalui Sin Po, kelak berhasil dikumpulkan lebih dari f1.000.000 yang seluruhnya disumbangkan ke Tiongkok. Kisah perjalanan Kwee tersebut kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul China in den Storm (Tiongkok dalam Badai)

Buku pertama yang ditulis Kwee Kek Beng berjudul Beknopt Overzicht der Chineesche Geschiedenis (Tinjauan Singkat Sejarah Tiongkok, 1926) yang diselesaikan dalam usia 26. Setahun berselang, Kwee menerbitkan biografi mengenai Li Tai Po, seorang penyair terkemuka Tiongkok yang hidup antara tahun 701-762.

Ia juga menerjemahkan kisah "Saijah dan Adinda" (1924) ke dalam Bahasa Melayu dan dipublikasikan secara berkala di Sin Po mingguan. Setelahnya, Kwee menerbitkan belasan buku, di antaranya Ke Tiongkok Baru (1952), Sekitar Stalin (1953), Pendekar-Pendekar RRT (1953), Bevrijd China (Cina yang Dibebaskan, 1954), dan Djamblang Kotjok (1954).

Kwee sempat memenangi kompetisi penulisan tentang Cekoslowakia, dan sebagai hadiah Kwee mendapat hadiah berkeliling negara itu. Momen tersebut ia manfaatkan untuk berkeliling Eropa Timur, Uni Soviet, dan Republik Rakyat Tiongkok. Perjalanan tersebut kemudian dibukukan dengan judul 50.000 Km dalam 100 Hari (1965).


Pendudukan Jepang & Masa Revolusi

Ketika Jepang masuk ke Batavia pada 5 Maret 1942, Kwee beruntung karena ia tidak sampai ditangkap Kenpeitai (Polisi Militer Jepang). Rumahnya di kawasan Palmerah pun terhindar dari penjarahan.

Sebelum masuknya Jepang, Kwee sudah terlebih dulu mengirimkan seluruh sanak keluarganya ke Selabintana, Sukabumi. Sementara Kwee memutuskan tetap tinggal di Batavia dengan menggunakan nama samaran Thio Boen Hiok. Namun ketika situasi dirasakan sudah tidak aman, Kwee memutuskan bersembunyi di Jalan Cicendo 17, Bandung.

Benar saja, tidak lama setelah kepindahannya, rumah Kwee di Palmerah diobrak-abrik Kenpeitai. Seluruh perabotan miliknya diangkut, termasuk koleksi bukunya.

Kwee Hin Goan, putra Kwee Kek Beng, menceritakan bahwa beberapa bulan sebelum kekalahan Jepang, Kenpeitai sempat memeriksa rumah persembunyian Kwee. Menyadari bahaya di depan mata, Kwee langsung melemparkan radionya ke dalam sumur dan bersembunyi di balik pohon pisang di belakang rumah. Selama tiga tahun belakangan, Kwee diam-diam mendengarkan siaran radio dari Australia. Tindakan tersebut tentu sangat berbahaya bila sampai terendus oleh Jepang.

Ketika melihat foto Kaisar Hirohito yang tergantung di ruang tamu, para Kenpeitai ini tidak meneruskan pencariannya. Mereka langsung bergegas pergi setelah terlebih dulu memberikan penghormatan terhadap foto sang kaisar. Kwee dan keluarganya selamat. Namun situasi Indonesia tidak jauh berbeda sekalipun proklamasi kemerdekaan sudah dikumandangkan. Teror yang sebelumnya dilakukan Jepang terhadap orang Tionghoa, kini justru dilakukan bangsa sendiri.


Memorandum Outlining Acts of Violence and Inhumanity Perpetrated
Sampul laporan berjudul “Memorandum Outlining Acts of Violence and Inhumanity Perpetrated by Indonesian Bands on Innocent Chinese Before and After the Dutch Police Action Was Enforced on July 21, 1947.” Kwee Kek Beng termasuk salah satu yang memprakarsai terbitnya laporan ini guna dikirimkan ke Liga Bangsa-Bangsa. (Sumber: Koleksi Perpustakaan Universiteit Leiden, Belanda)

Sin Po yang sempat diberedel dan diambilalih Jepang kembali muncul pada 25 Oktober 1945. Namun karena situasi yang sulit, Sin Po saat itu menjadi media zonder hoofdredacteur (tanpa pimpinan redaksi), di mana seluruh tugas dibagi rata ke tiap-tiap wartawan.

Dalam suasana revolusi yang penuh ketegangan, Sin Po tidak henti-hentinya melaporkan berbagai kekerasan yang menimpa kaum Tionghoa di Indonesia. Ulasan Sin Po yang kritis membuat banyak kalangan terpicu emosinya, sehingga Sin Po kerap menerima berbagai ancaman yang dialamatkan ke kantornya di Asemka, Glodok. Oleh karenanya, di beberapa daerah Republik, koran Sin Po dilarang beredar.

Nama Kwee juga dikenal sebagai salah satu pemrakarsa laporan berjudul “Memorandum Outlining Acts of Violence and Inhumanity Perpetrated by Indonesian Bands on Innocent Chinese Before and After the Dutch Police Action was Enforce on July 21, 1947”. Laporan setebal 31 halaman tersebut disusun Chung Hua Tsung Hui (CHTH) Jakarta dan berisi daftar kekerasan terhadap orang Tionghoa di Jawa sampai meletusnya Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947.

Laporan tersebut dikirim ke Liga Bangsa-Bangsa untuk kemudian ditindaklanjuti. Di samping itu Kwee juga menginisiasi siaran radio dari Jakarta guna melaporkan kepada dunia mengenai sisi gelap Revolusi Indonesia yang luput dari perhatian orang banyak.



Infografik Seri Imlek
Infografik Seri Imlek Kwee Kek Beng

Cabut dari Sin Po

Kwee Kek Beng memutuskan berhenti dari Sin Po pada 1 Juli 1947 setelah seperempat abad mengabdi bagi media tersebut. Posisinya kemudian digantikan Thio In Lok yang ternyata hanya mampu bertahan sembilan bulan lamanya. Kepergian Kwee dari Sin Po membuat para pembaca setia Sin Po merasa kehilangan.

Beberapa hari berselang, Kwee menerima ratusan surat dan puluhan kunjungan dari orang-orang yang mencoba membujuknya untuk bertahan. Namun Kwee tetap teguh pada pendiriannya.

Ia ingin mengambil jarak sejenak dari dunia pers yang membesarkan namanya. Namun tetap saja Kwee tidak dapat berlama-lama untuk tidak menulis. Kwee rutin mengirimkan artikelnya ke berbagai surat kabar, meskipun tanpa bayaran. Ia sempat memimpin mingguan Reporter pada 1950-an dan majalah Sin Tjhoen antara 1956-1960.

Sebagai seorang wartawan, Kwee menanamkan kepada para wartawan muda bahwa pekerjaan sebagai jurnalis harus datang dari hati. Baginya, menjadi seorang jurnalis membutuhkan dedikasi dan ketulusan.

"Kaloe orang teroetama ingin dapet oentoeng, lebi baek djadi agent koran-koran dari pada pemimpin soerat kabar, sebab oentoengnja bisa djaoe lebi besar dan poesingnja pasti lebi sedikit," tulis Kwee dalam autobiografinya berjudul Doea Poeloe Lima Tahon Sebagi Wartawan.

Kwee Kek Beng, sang pendekar pena dari Batavia itu, meninggal di Jakarta pada 31 Mei 1975. Umurnya kala itu sudah 75.


==========

Menyambut Tahun Baru Imlek 2019, Tirto menayangkan serial tentang orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa yang berkontribusi besar dalam bidang masing-masing. Serial ini ditayangkan setiap Selasa hingga puncak perayaan Imlek pada 5 Februari 2019. Artikel di atas merupakan tulisan kedua.

Ravando Lie adalah kandidat doktor sejarah di University of Melbourne, Australia. Ia menekuni studi peranakan Tionghoa dan menulis buku Dr. Oen: Pejuang dan Pengayom Rakyat Kecil (2017). Saat ini sedang menyusun disertasi tentang surat kabar Sin Po dan nasionalisme Indonesia.

Baca juga artikel terkait PERANAKAN CINA atau tulisan menarik lainnya Ravando Lie
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Ravando Lie
Editor: Ivan Aulia Ahsan