tirto.id - Lima hari setelah berenang di kolam renang di Distrik Kozhikode, Kerala, India, remaja laki-laki bernama Afnan Jasim tiba-tiba kejang. Kepalanya pusing bukan main, seakan-akan mau pecah. Ia sempat dibawa ke beberapa dokter, tetapi kondisinya tak kunjung membaik. Sampai akhirnya, ayah Afnan, MK Siddiqui, teringat akan sebuah iklan layanan masyarakat yang beberapa waktu sebelumnya diterbitkan pemerintah negara bagian Kerala.
Tiga orang sudah dilaporkan meninggal dunia sebelum Afnan mengalami kejang dan sakit kepala tak tertahankan tersebut. Mereka semua, berdasarkan informasi dari iklan layanan masyarakat itu, sempat pula beraktivitas di air, lalu mengalami infeksi pada otak, dan mengalami kejang-kejang.
Siddiqui, yang ingat bahwa Afnan sempat berenang di kolam renang umum, lantas mengaitkan informasi tersebut dengan kondisi sang anak. Dia lantas menceritakannya kepada seorang dokter anak bernama Abdul Rauf.
Kejelian Siddiqui itulah yang akhirnya menyelamatkan hidup Afnan. Setelah diperiksa lebih mendalam, ditemukanlah ameba pemakan otak dalam cairan serebrospinal. Dengan segera, dokter melakukan penanganan, meresepkan kombinasi obat antimikroba, termasuk Miltefosine yang harus diimpor dari Jerman.
Syukurnya, dalam waktu singkat, kondisinya mulai membaik. Seminggu kemudian, semua ameba telah lenyap dari tubuhnya.
Afnan, ketika itu, menjadi orang kesembilan di dunia yang berhasil selamat dari infeksi ameba pemakan otak atau Naegleria fowleri. Namun, tidak semua orang di Kerala seberuntung dirinya.
Total jenderal, hingga pertengahan September 2025, atau kurang lebih setahun setelah insiden yang menimpa Afnan, sudah ada 69 kasus infeksi yang dicatat pemerintah setempat. Dari 69 kasus tersebut, 19 orang dinyatakan meninggal dunia.
Betapa Berbahaya Ameba Pemakan Otak
Kasus di Kerala tersebut, meski mengerikan, sebenarnya sudah bisa dibilang sebagai sebuah kemajuan. Pasalnya, tingkat mortalitas dari infeksi Naegleria fowleri sebenarnya jauh lebih tinggi dari itu. Menurut catatan Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Naegleria fowleri membunuh 97 persen orang yang terinfeksi olehnya.
Dari 152 kasus yang tercatat di AS sejak 1962, hanya empat orang yang berhasil keluar dari rumah sakit dalam keadaan hidup. Di India, setidaknya sampai 2024, hanya 30 persen kasus infeksi ameba yang berhasil terdiagnosis.
Mendeteksi Primary Amoebic Meningoencephalitis (PAM) bukan hal yang mudah mengingat gejalanya—sakit kepala, demam tinggi, mual, leher kaku, kejang, dan halusinasi—sangat mirip dengan gejala meningitis biasa.
Naegleria fowleri hidup di air tawar hangat, seperti danau, sungai, kolam renang yang tidak terawat, serta mata air panas. Protozoa yang satu ini sebenarnya tidak berbahaya jika tertelan lewat mulut karena asam lambung manusia mampu membunuhnya. Infeksi, seperti yang terjadi pada Afnan di Kerala, biasanya terjadi ketika air masuk lewat hidung dengan tekanan cukup kuat, misalnya saat menyelam, berenang dengan kepala terbenam, atau mencuci hidung dengan air mentah.
Dari rongga hidung, ameba menyusuri saraf penciuman, menembus tulang di dasar tengkorak, lalu mencapai otak. Di sana, ia merusak jaringan otak secara langsung, sekaligus memicu respons imun yang menyebabkan pembengkakan otak besar-besaran. Kondisi inilah yang dalam dunia medis disebut Primary Amoebic Meningoencephalitis.

Selama puluhan tahun, PAM hanya dianggap sebagai ancaman bagi wilayah beriklim tropis dan subtropis. Pakistan, Australia, Meksiko, dan negara-negara bagian selatan AS, seperti Florida dan Texas, merupakan daerah yang paling sering muncul dalam laporan kasus infeksi ameba tersebut. Namun belakangan, penyebaran ameba berbahaya tersebut makin meluas.
Data CDC menunjukkan, sejak 2010, kasus PAM mulai bermunculan di negara-negara bagian yang selama ini dianggap terlalu dingin bagi amoeba tersebut, seperti Minnesota, Iowa, Nebraska, Indiana, Maryland, bahkan California utara. Sebuah studi yang menganalisis pola kasus PAM di AS antara 1978 hingga 2018 turut menemukan bahwa lokasi terjadinya infeksi bergeser ke utara dengan kecepatan sekitar 13,3 kilometer per tahun.
Pada 2023, spesies-spesies Naegleria bahkan terdeteksi untuk pertama kalinya di danau-danau rekreasi di Alberta, Kanada. Naegleria fowleri belum ditemukan di sana. Namun, kehadiran kerabat-kerabatnya merupakan sinyal bahwa lingkungan di wilayah yang selama ini dikenal dingin kini sudah cukup hangat untuk mendukung pertumbuhan genus tersebut.
Naegleria fowleri berkembang biak subur pada suhu antara 30°C hingga 46°C dan, seiring kenaikan suhu global, zona nyamannya terus melebar. Secara otomatis, dengan makin meluasnya zona nyaman si ameba, tingkat infeksi PAM secara global pun meningkat 4,5 persen setiap tahunnya.
Selain soal suhu, pemanasan global memperparah situasi melalui jalur lain. Bencana cuaca ekstrem, seperti kekeringan dan banjir yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim, sama-sama menguntungkan ameba tersebut.
Saat kekeringan, patogen terkonsentrasi di badan air yang menyusut sehingga meningkatkan dosis paparan. Saat banjir, patogen dari tanah menyebar ke mana-mana, termasuk ke rumah-rumah dan infrastruktur air. Musim panas yang lebih panjang dan lebih terik mendorong lebih banyak orang berenang di perairan terbuka sehingga peluang terpapar pun makin besar.
Ancaman itu tidak datang sendirian. Penelitian terbaru para ilmuwan dari Sun Yat-sen University, yang diterbitkan dalam jurnal Biocontaminant, mengungkap bahwa ameba bebas, termasuk Naegleria fowleri, punya kemampuan bertahan dalam pengolahan air standar. Jenis tertentu, seperti Acanthamoeba, dilaporkan tahan terhadap konsentrasi klorin jauh di atas kadar yang biasa digunakan dalam sistem air minum. Artinya, ameba itu bisa bertahan bahkan di dalam sistem saluran air yang jadi sarana konsumsi sehari-hari.
Lebih dari itu, ameba ternyata bisa menjadi semacam "kuda Troya" bagi patogen lain. Bakteri berbahaya lain, seperti Legionella pneumophila (penyebab penyakit Legionnaire) dan Mycobacterium tuberculosis, bisa hidup dan berkembang biak di dalam sel ameba. Bakteri-bakteri tersebut terlindungi dari desinfektan yang seharusnya membunuh mereka.
Parahnya lagi, ketika ameba pelindungnya pecah atau mati, bakteri-bakteri tersebut terlepasliarkan kembali dalam wujud lebih ganas. WHO menyadari urgensi tersebut sehingga, pada 2025, untuk pertama kalinya, mereka mengeluarkan panduan khusus untuk pengendalian Naegleria fowleri dalam sistem air minum.
Bagaimana dengan Indonesia?
Suhu air tawar di Indonesia yang hangat (antara 25 hingga 40 derajat celsius), sanitasi yang belum merata di banyak daerah, dan kebiasaan sebagian masyarakat menggunakan air sungai atau sumur untuk mandi, berwudu, atau mencuci hidung, merupakan faktor risiko nyata.
"Potensinya ada, tapi sistem pengawasan kita masih lemah. Bisa jadi ada kasus yang tidak terdiagnosis atau salah diagnosis," ujar epidemiolog Dicky Budiman.
Penelitian di Malaysia, negara tetangga yang punya iklim dan kebiasaan serupa, menemukan bahwa lebih dari separuh dari 250 sampel air yang diuji terbukti mengandung ameba bebas, dengan Naegleria ditemukan di 70 persen sampel dari tempat rekreasi air. Hingga studi itu dirilis, memang tidak ada satu pun kasus infeksi ameba pemakan otak yang pernah dilaporkan secara resmi di Malaysia. Namun, para peneliti menduga itu bukan karena ameba tersebut tidak ada, melainkan karena kasusnya kerap salah didiagnosis sebagai meningitis bakteri biasa.
Dicky khawatir hal sama berlaku di Indonesia. Tidak ada laporan bukan berarti tidak ada kasus. Itu bisa berarti tidak ada kemampuan untuk mendeteksinya. Indonesia bisa jadi menyimpan bom waktu terkait ameba tersebut.
Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk melakukan pencegahan? Mengingat cara infeksinya yang spesifik, cara pencegahannya pun spesifik. Di antaranya termasuk menggunakan klip hidung saat berenang, tidak menyelam atau mengacak-acak tanah sedimen di dasar danau, serta tidak menggunakan air mentah untuk membersihkan hidung.
Apabila dalam beberapa hari setelah berenang ada gejala tertentu, seperti sakit kepala parah, demam, leher kaku, atau kejang, penting untuk segera pergi ke dokter dan menceritakan aktivitas sebelumnya. Detail seperti tersebut penting agar dokter bisa lebih cepat mendeteksi seandainya memang terjadi infeksi ameba.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































