tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat Pertumbuhan uang Primer (M0) Adjusted pada November 2025 tumbuh sebesar 13,33 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Uang primer yang telah menetralisir dampak Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) tersebut mengalami perlambatan dari posisi bulan sebelumnya, yang masih tumbuh sebesar 14,38 persen (yoy).
Sejalan dengan itu, pertumbuhan M0 tanpa memperhitungkan dampak penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) bank juga turut melambat menjadi hanya 6,46 persen (yoy), dibandingkan dengan pertumbuhan pada Oktober 2025 yang sebesar 7,75 persen (yoy).
“Dari komponennya, pertumbuhan M0 yang melambat terutama dipengaruhi oleh berkurangnya penempatan excess reserves bank di Bank Indonesia,” jelas Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2025 secara daring, Rabu (17/12/2025).
Perlu diketahui, penempatan excess reserves atau cadangan berlebih adalah penggunaan dana bank yang melebihi kewajiban minimum bank sentral yang bisa disalurkan untuk memberikan pinjaman ke sektor produktif (mendorong ekonomi), disimpan di bank sentral (dapat bunga), atau diinvestasikan kembali, dengan tujuan utama menambah likuiditas dan fungsi intermediasi perbankan, terutama saat pemerintah menempatkan dana besar ke bank.
Sementara dari faktor yang memengaruhi, pelambatan pertumbuhan M0 terjadi karena masih rendahnya penyaluran kredit atau pembiayaan. Ini terlihat dari kredit perbankan pada November 2025 hanya tumbuh sebesar 7,74 persen (yoy), atau naik tipis dari 7,36 persen (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya.
“Sehingga, mendorong perbankan menempatkan kelebihan likuiditasnya pada instrumen moneter Bank Indonesia,” tambah Perry.
Menurut Perry, permintaan kredit yang terindikasi belum kuat ini dipengaruhi oleh perilaku wait and see dari pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta penurunan suku bunga kredit yang masih lambat.
Fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada November 2025 bahkan masih cukup tinggi, yaitu mencapai Rp2.509,4 triliun atau 23,18 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Padahal dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,67% dan DPK yang tumbuh sebesar 12,03 persen (yoy) pada November 2025.
Perkembangan ini turut didorong oleh ekspansi likuiditas moneter dan pelonggaran KLM Bank Indonesia, serta ekspansi keuangan Pemerintah termasuk penempatan dana Pemerintah pada beberapa bank besar.
"Minat penyaluran kredit perbankan umumnya juga masih baik yang tecermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua segmen tersebut. Kondisi ini memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM November 2025 yang terkontraksi sebesar 0,64 persen (yoy)," jelas Perry.
Adapun pertumbuhan kredit 2025 diprediksi berada pada batas bawah kisaran 8-11 peresn (yoy) dan akan meningkat pada 2026. "Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan serta memperbaiki struktur suku bunga," tambah Perry.
Tidak hanya M0, pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Oktober 2025 juga tercatat melambat sebesar 7,72 persen (yoy), dibandingkan dengan pertumbuhan pada September 2025 yang masih sebesar 8,02 persen (yoy).
Dari sisi faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 yang melambat dipengaruhi oleh belum kuatnya permintaan kredit di tengah pasokan likuiditas perbankan yang telah meningkat. Sedangkan dari sisi komponen, perlambatan M2 dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan giro dan surat berharga.
“Ke depan, pertumbuhan uang yang beredar perlu terus didorong melalui sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah guna mendukung pertumbuhan ekonomi,” tukas Perry.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































