tirto.id - Gubernur Bali, Wayan Koster, menyebut sudah seharusnya Indonesia berterima kasih ke Bali. Hal tersebut dikarenakan kontribusi Bali yang besar terhadap devisa pariwisata Indonesia, yakni Rp107 triliun dari total devisa pariwisata Indonesia yang mencapai Rp240 triliun. Angka tersebut diperkuat dengan kedatangan wisatawan asing ke Bali yang mencapai 6,4 juta orang berbanding nasional sebanyak 13,9 juta orang.
“Pariwisatanya ini berkontribusi luar biasa. Totalnya kalau dihitung porsinya adalah 44 persen. Jadi luar biasa satu provinsi itu berkontribusi sangat besar terhadap Indonesia. Sebenarnya yang sudah banyak berbuat itu adalah Bali untuk Indonesia,” lontar Koster saat Musyawarah Daerah (Musda) Partai Hanura Bali, Badung, Senin (11/08/2025).
Dia merinci, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan kedua tahun 2025 mencapai 5,95 persen atau lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali triwulan kedua tahun 2025 atas dasar harga konstan (ADHK) adalah Rp44,75 triliun. Selain itu, tingkat hunian hotel di Bali sudah mencapai 80 persen, bahkan 90 persen untuk wilayah Nusa Dua, Kabupaten Badung.
Koster juga mengungkit Bali lebih dikenal dibandingkan Indonesia hingga saat ini. Sehingga, keberadaannya merupakan anugerah yang luar biasa bagi Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah pusat perlu memberikan ucapan terima kasih dalam bentuk pembangunan infrastruktur secara nyata.
“Kami sudah menyampaikan ke forum di DPR agar Bali mendapat perhatian khusus. Kami tidak minta otonomi khusus, tetapi perhatian khusus, terutama untuk pembangunan infrastruktur, transportasi, penanganan air bersih, dan pengelolaan sampah. Agar pariwisata Bali ini bisa terjaga secara berkelanjutan,” jelasnya.
Gubernur Bali melihat pemerintah pusat melalui kementerian yang ada belum memperhatikan Bali dengan cara yang khusus. Dia melihat kondisi fiskal daerah yang rendah sebagai alasan Bali tidak mampu membangun infrastruktur secara memadai. Padahal, kekayaan, keunikan, dan keunggulan budaya Bali telah dicintai masyarakat dunia hingga menjadi magnet pariwisata.
“Yang dituntut cuma itu saja. Enggak ada yang lain. Jadi enggak ribet-ribet, yang kami perlukan agar Bali ini bisa bertahan (survive) ke depan,” pungkasnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id




































