tirto.id - Warga Mesjid Tuha, Pidie Jaya, Aceh, mengalami krisis air bersih usai diterjang banjir bandang pada 26 November 2025. Mereka mengandalkan sumur bor untuk mandi dan mencuci.
Pantauan Tirto bersama Yayasan Plan Indonesia pada Senin (8/12/2025), kondisi rumah di desa ini tampak masih dipenuhi lumpur tebal, dan masyarakat setempat sangat sulit membersihkan lumpur karena krisis air.
Air sisa banjir di desa ini juga belum sepenuhnya kering. Hal itu terlihat dari jalanan becek sepanjang kami menyisir desa ini. Beberapa rumah tampak jebol dipenuhi lumpur.
Nurmalawati (56), warga Mesjid Tuha, mengatakan bantuan air bersih dari pemerintah sangat minim. Mereka harus rela merogoh kocek pribadi untuk mendapatkan air bersih.
"Enggak ada, kami beli sendiri," kata Nurmalawati saat berbincang dengan Tirto di lokasi pengungsian.
Menurutnya, para pengungsi juga kesulitan mendapatkan makanan.
"Enggak dikasih untuk kami, bilangnya nanti kalau sudah cukup nanti dibagi, tapi enggak tahu sekarang kami belum dibagi," keluhnya.
Kesulitan air juga membuat pengungsi enggan kembali ke rumah mereka yang masih dipenuhi endapan lumpur.
"Kalau udah ada air, mungkin kita pulang ke rumah juga walaupun takut-takut,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Bachtiar Arahman, warga Desa Meunasah Lhok yang kini desanya luluh lantak usai diterjang banjir. Beberapa potongan kayu kering terbawa arus banjir menumpuk di sekitaran kediaman Bachtiar.
Dia mengaku bantuan dari pemerintah tak sampai ke desanya. Padahal, akses ke desanya sudah bisa dilalui dengan kendaraan meski harus melewati jalanan becek.
"Air bersih sama sekali sampai hari ini belum sampai. Belum dapat," kata Bachtiar.
Ia mengatakan warga setempat memilih menggunakan sumur bor untuk melepaskan dahaga.
"Karena hari ini di mana ada sumur yang bersih, di situ orang-orang datang," tutur Bachtiar.
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































