Kontroversi Mukbang: Bikin Obesitas atau Alat Diplomasi Korea?

Siaran audiovisual online di mana tuan rumah makan makanan dalam jumlah besar saat berinteraksi dengan audiens mereka. Biasanya dilakukan melalui webcast internet, mukbang menjadi populer di Korea Selatan pada tahun 2010-an. MukBang.webm/Jangpa's MukBang
Oleh: Aditya Widya Putri - 23 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Mukbang akan diatur ketat oleh pemerintah Korea Selatan karena dianggap bikin warga obesitas.
tirto.id -
Dengan cekatan, perempuan itu menata sayuran dan gurita hidup ke dalam panci berisi rebusan air kaldu. Ia lalu membuka dua kotak besar ayam goreng dan satu baskom agujjim, makanan khas Korea yang berisi monk fish dan toge. Dua setengah jam masa siaran itu dipenuhi suara menyeruput dan mengunyah yang membikin penonton ikut merasa lapar saat melihatnya.

Broadcast Jockey (BJ) Diva mengakhiri siaran tanpa sedikitpun sisa makanan di hadapannya. Ia kemudian pamit dan kembali bersiaran dengan menu besar makanan lain. Diva merupakan salah satu orang yang terkenal karena acara makan makanan dalam porsi besar, biasa disebut mukbang.

Acara ini mulai populer di Korea Selatan sejak tahun 2009-2010an dan jamak disiarkan melalui platform streaming. Pemilik acara akan mendapat donasi/bayaran bergantung dari jumlah penontonnya. Ada beberapa alasan yang menjadikan mukbang sebagai acara populer. Salah satunya karena menonton acara tersebut bisa membangkitkan selera makan.

Selain itu, tradisi makan bersama di Korea sudah mulai luntur. Banyak orang yang harus makan sendirian merasa menemukan teman makan dengan menonton mukbang. Yang lain menonton dengan alasan kepuasan melihat orang makan makanan yang tak bisa ia makan, entah karena diet, sakit, atau alasan lain.

Mukbang semakin menuai popularitas dan menjadikan BJ-nya kaya raya dari uang donasi. Dalam sebulan, BJ Diva, misalnya, bisa memperoleh donasi hingga $9.300. Semakin lama, jumlah BJ pun bertambah, tak hanya dari kalangan orang Korea saja. Namun, pemerintah Korea Selatan mulai khawatir dampak kesehatan yang ditimbulkan dari acara tersebut.

“Tahun 2019 nanti, kami akan membuat aturan mukbang untuk memantau perilaku konsumsi warga,” demikian Telegraph mengutip pernyataan Kementerian Kesehatan Korea Selatan.

Aturan itu dibuat sebagai bagian program anti-obesitas. Mereka khawatir lantaran tingkat obesitas di Korea Selatan terus meningkat dari 26 persen pada tahun 1998 menjadi 31,7 persen pada tahun 2007 dan naik menjadi 34,8 persen pada tahun 2016. Economic Cooperation and Development (OECD) memperkirakan tingkat obesitas Korea Selatan akan berlipat ganda pada tahun 2030, salah satunya diakibatkan tren Mukbang.

Obesitas di kalangan anak dan remaja laki-laki di sana juga telah melebihi rata-rata standar OECD, yakni 26 persen berbanding 25,6 persen. Banyak orangtua jadi khawatir anaknya mendapat obesitas karena terpengaruh mukbang.

Tentu ada respons dari para pemandu mukbang. Mereka tak terima acaranya dianggap merusak kesehatan warga. Contohnya adalah pendapat Kim Jungbum, BJ mukbang yang menentang rencana kebijakan pemerintahnya.

“Teman-teman saya yang sedang diet jadi ikut kenyang hanya dengan menonton saya,” kata Jungbum. Menurutnya, mukbang disikapi secara berbeda-beda oleh penontonnya. Ia juga berpendapat urusan kesehatan setiap individu tak bisa dipukul rata. “Mereka harus mengawasi kesehatannya sendiri.”

Diplomasi Lewat Makanan

Pada 2007, BBC menceritakan pertemuan antara Presiden Korea Selatan Moon Jae In dengan Kim Jong Un. Saat itu Jong Un belum menjadi presiden Korea Utara, tapi jelas ia akan memegang tampuk kepemimpinan itu menggantikan ayahnya, Kim Jong Il. Presiden Moon paham betul, bahwa ia harus mulai membangun komunikasi baik dengan Jong Un. Ia akhirnya berstrategi, memilih makanan sebagai taktik sekaligus alat diplomasi.

“Ada roti Swiss, keju, dan anggur Prancis untuk membangkitkan kenangan Jong Un saat sekolah di Swiss,” tulis laporan tersebut. Makanan di puncak diplomasi punya peranan mengatur jeda untuk diskusi positif.

Lompat dua tahun setelah diplomasi tersebut berjalan, Kim Yoon Ok, istri Presiden Korea Selatan, memasak sejenis panekuk yang berisi ragam seafood, daun bawang, dan paprika merah. Rasanya cenderung gurih, dibanding manis seperti rasa panekuk umumnya. Ia menyuapi para veteran Amerika di perang Korea dengan masakannya.

“Saya mau memberi tahu mereka rasa Korea yang lezat,” ujar Yoon Ok dalam laman The New York Times.


Korea Selatan paham betul bahwa makanan mereka dapat berpengaruh dan menjadi kekuatan diplomasi. Apalagi setelah melihat Jepang dengan sushi-nya sukses membuka gerbang pariwisata, budaya, dan ekspor negara tersebut. Gastrodiplomacy, begitulah taktik ini disebut. Korsel mengekor langkah Jepang dengan membikin tur kampanye masakan korea di seluruh dunia.

Tak hanya itu, mereka juga menyediakan beasiswa sekolah kuliner dan membangun laboratorium penelitian dan pengembangan tteokbokki, kue beras berisi campuran bawang putih, rempah, dan cabai merah. Laman NPR bahkan menyebut Korsel sebagai salah satu juara konsep gastrodiplomasi.



Setiap orang pasti makan. Fakta itu membuat makanan menjadi pilihan yang sempurna untuk menyelesaikan konflik dan mendorong hubungan antar-negara. Konsep ini disebut gastrodiplomasi dan Korea Selatan adalah salah satu juara terkuatnya. Pemerintahnya mendukung ekspansi restoran Korea di seluruh dunia.

“Musik dan makanan adalah alat diplomasi pemerintah Korea,” ulas Byung Hong Park, ia adalah penanggung jawab pertanian, pangan, dan pedesaan di Kedutaan Besar Korea Washington, D.C.

Korean Pop (K-Pop), musik populer dari Korea sudah lebih dulu merajai tangga-tangga musik dunia, termasuk Billboard. Penyanyi Korea seringkali menyisipkan jalan-jalan dan pusat perbelanjaan menarik di Korea sebagai setting Music Video (MV) mereka. Lagu-lagu yang dibawakan juga selalu menggunakan bahasa Korea. Cara tersebut secara tidak langsung, dianggap telah mempromosikan budaya dan periwisata di negara mereka.

Di sisi makanan, peran diplomasi terlebih dulu diambil oleh kimchi, salad kubis, dan lobak khas Korea. UNESCO bahkan memasukkan tradisi membikin kimchi sebagai jajaran warisan budaya dunia. Adegan membuat atau memakan kimchi juga jamak disisipkan di film dan drama Korea, pun di banyak acara mukbang. Makanan ini seakan jadi menu wajib yang ada di tiap kulkas warga, dan jelas di tiap restoran Korea seluruh dunia.

Malah pada 2008, sepuluh hidangan khas Korea diciptakan spesial untuk dibawa berpergian ke luar angkasa. Dua diantaranya adalah kimchi, jenis beku dan kalengan.

“Kimchinya mengalami radiasi jadi lembek, tapi tetap enak sekali, aku suka dan merasa seperti sedang di rumah,” ujar Soyeon Yi, seorang astronot pertama dari Korsel. Ia merasa dapat dukungan emosional ketika membawa kimchi sebagai teman ekspedisi luar angkasanya.

Baca juga artikel terkait MUKBANG atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight