Popularitas Mukbang, Wajah Kesepian Netizen

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 4 Juli 2017
Dibaca Normal 3 menit
Anda suka menonton mukbang alias siaran orang makan dengan porsi superjumbo? Bisa jadi, Anda melakukannya karena merasa kesepian.
tirto.id - Dewi Ayu Melvita (23) adalah lulusan UNY pada periode wisuda awal tahun 2017 lalu yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari pekerjaan dengan modal jaringan teman-temannya sendiri. Sisanya, ia rajin menonton acara makan para public figure asal Korea Selatan yang dalam porsi raksasanya di YouTube, sebagaimana malam itu, yang ia nikmati sambil makan sendirian di kamar kos.

Kebiasaan tersebut ia lakukan sejak akhir kuliah, alias saat teman-teman satu gengnya mulai lulus dan kembali ke kampung halamannya masing-masing. Ia merasa kesepian di jam-jam makan yang biasa ia habiskan bersama mereka. Untungnya, pada pertengahan tahun 2016 silam ia menemukan siaran mukbang sebagai pengganti teman makannya sehari-hari.

“Agak telat ya kenalnya, padahal asyik buat menemani makan. Jadi tambah semangat makan, lho. Itu yang makan kok makanannya enak-enak, banyak porsinya. Kalau orang Korea juga makannya, kan, lahap, sampai penuh di mulut. Hahaha,” Melvi bercerita kepada Tirto.

Secara etimologis, mukbang berasal dari bahasa Korea yang bisa dipenggal menjadi “meokneun” (먹는) yang berarti makan dan “bangsong” (방송) yang berarti siaran. Mukbang populer di internet, khususnya di AfreecaTV dan YouTube, kira-kira sejak 2009. Anda bisa menemukannya dengan kata kunci “BJ” (Broadcast Jockeys), gelar pelaku mukbang yang memperoleh pendapatannya dari donasi para penggemar.

Mukbang berbeda dengan vlog berisi aktivitas makan pada umumnya. Sebagaimana dikatakan Melvi, porsi yang dimakan para BJ melampaui porsi orang normal. Sekali duduk, para BJ bisa menghabiskan empat piring penuh ayam goreng, misalnya. Mereka kerap memakan menu khas Korea, tapi pada perkembangannya juga melibatkan menu-menu Eropa seperti pizza, hamburger, roti isi, menu yang berasal dari daging-dagingan, dan lain sebagainya.

Porsi yang amat besar dan reaksi nikmat saat makan tanpa ada jeda (durasi video mukbang bisa mencapai lebih dari satu jam) adalah jualan utama mengapa mukbang menjadi sangat populer. Ada yang mengkategorikan aktivitas itu sebagai “food porn.”

Para penonton mukbang juga terkesima dengan BJ yang tetap memiliki penampilan rupawan. Kemudian, diketahui bahwa sebagian dari mereka menghabiskan waktunya untuk berolahraga di gym saat sedang off air atau punya metabolisme tubuh yang tak normal alias perutnya bisa menerima porsi makanan yang berlebihan tanpa terkena penyakit.

Mending Nonton Mukbang daripada Kesepian

Para ilmuwan sosial telah berlomba-lomba memberikan penjelasan mengapa mukbang jadi fenomena populer di kalangan milenial pecandu dunia maya. Jeff Yang, seorang kritikus kebudayaan dan wakil presiden senior di firma riset global Kantar Futures, memberikan pandangan uniknya pada Quartz, bahwa para pelaku dan penggemar mukbang sesungguhnya adalah orang-orang yang kesepian.

“Penyebabnya adalah kesepian orang-orang jomblo atau yang belum menikah, di samping aspek sosial yang melekat pada budaya makan di Korea,” katanya.

Budaya makan di Korea yang dimaksud oleh Yang adalah tradisi makan bersama dalam lingkup keluarga. Budaya ini lekat dengan masyarakat di Asia, termasuk Indonesia. Profesor Sung-hee Park dari Divisi Studi Media di Universitas Ewha berkata pada CNN bahwa kata “keluarga” dalam bahasa Korea artinya “mereka yang makan bersama”, sehingga tayangan mukbang punya arti khusus di hati penggemarnya.

Champ Yang, seorang pemerhati tren mukbang, berkata pada Dateline SBS tentang krisis ekonomi dan naiknya angka pengangguran yang membuat banyak pemuda Korea Selatan hidup sendiri. “Di rumah sendirian [menyebabkan] mereka harus memasak sendiri, sehingga mau tak mau perasaan kesepian pun melanda,” jelasnya.

“Saat mereka melihat tayangan mukbang maupun cookbang [memasak makanan untuk mukbang], mereka merasa nyaman. Bagi mereka, makanan adalah sesuatu yang bisa dipakai untuk melarikan diri sejenak dari kenyataan. Makanan adalah sesuatu yang menyembuhkan kesepian itu sendiri,” imbuhnya.

Sementara itu, koordinator humas AfreecaTV, Serim An, mengatakan kesuksesan acara mukbang dilatarbelakangi tiga faktor. Pertama, meningkatnya jumlah orang yang tinggal sendirian di Korea. Faktor yang kedua adalah akibat dari faktor pertama, yakni meningkatnya rasa kesepian. Ketiga: tradisi diet (pola makan) yang berlebihan pada masyarakat Korea kekinian.

Virus individualisme telah lama menyebar di kalangan generasi muda Korea. Berbekal koneksi internet tercepat di dunia, mereka pun mencari-cari teman makan online, lalu "bertemulah" mereka dengan para BJ.

Adalah penting bagi para BJ untuk senantiasa berusaha sedekat mungkin dengan para penggemar selama berjalannya acara. Kebanyakan dari mereka memiliki kesamaan sikap saat menyantap makanannya. Pertama, mengambil sesendok/sesumpit/setangkup makanan dan disodorkan ke arah kamera seakan sedang menyuapi penonton.

Kedua, kebiasaan makan dengan bunyi kunyahan yang lumayan kencang. Kimchi, ayam goreng keju, iga babi, salmon saus tiram, mie Samyang goreng, kepiting rebus super-besar, atau daging sapi asap, semuanya dimamah sampai mengeluarkan bunyi yang "tak sopan."

Untungnya, kebiasaan tersebut diperbolehkan, bahkan dianjurkan, oleh masyarakat Asia Timur karena dianggap sebagai tanda seseorang menikmati makanannya. Di Jepang atau Cina misalnya, restoran yang menjual mie dipenuhi oleh suara orang-orang yang berusaha menyeruput mie seakan tak mau putus sebelum bisa penuh di mulut.

Infografik Mukbang

Kaum Hawa Tak Iri, Justru jadi Penggemar Utama

Salah satu BJ dengan donasi tertinggi saat ini, The Diva, pernah berkata kepada CNN bahwa para penggemarnya, yang terhubung lewat sebuah ruang dialog maya, sangat suka melihatnya makan sebab ia terlihat amat menikmati makanannya, dan akhirnya membuat segala yang di depan meja terlihat makin nikmat.

“Banyak dari penontonku sedang dalam program diet dan mereka menjalaninya sambil melihat mukbang. Dengan menonton saja sudah kenyang, demikian kira-kira. Atau kadang-kadang mereka adalah pasien di rumah sakit yang hanya diberi makanan terbatas, sehingga untuk memuaskan diri, mereka pun melihat siaran makanku,” jelas perempuan dengan nama asli Park Seo-Yeon itu.

Dua tahun lalu, Diva mengaku mendapat penghasilan sekira $9.300 (Rp123 juta) per bulan hanya dari siaran mukbang. Namun, pengeluaran untuk membeli makanan dengan porsi super besar juga lumayan. Ia harus merogoh kocek rata-rata sebesar $3.000 (Rp40 juta) per bulan. Hal ini wajar mengingat makanan yang disantap mesti bervariasi atau bukan makanan harian warga Korea pada umumnya.

Barangkali muncul pemikiran bahwa pihak yang paling iri dengan metabolisme ajaib Diva maupun BJ perempuan lain adalah golongan perempuan itu sendiri. Pada kenyataannya, sebagian besar penggemar Diva ternyata kaum Hawa. Perbandingannya dengan kaum Adam kira-kira 60:40. Merekalah yang terkadang mengirim makanan untuknya mukbang, tak melulu transfer uang.

“Salah satu komentar terbaik yang pernah kudapatkan datang dari seorang penonton yang berkata bahwa dirinya bisa membebaskan diri dari penyakit anorexia dengan menontonku makan. Itu sangat berarti untuknya,” ungkap Diva.

Namun, tak semua orang secara biologis maupun gaya hidup mampu melaksanakan mukbang. Saran dari sejumlah ahli kesehatan adalah tahu diri: siapa penonton, siapa BJ. Jangan terbalik. Sebab, di balik porsi makan yang banyak dan tanpa prosedur aman, ada risiko penyakit yang mengintai, mulai dari diabetes, penyakit jantung, kolesterol, dan lain sebagainya.

Baca juga artikel terkait YOUTUBE atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Maulida Sri Handayani